Katanya Sih Gitu…
Iseng-seng ngikutin Warmorning ngetes “reading level” blog saya…
Taunya munculnya gini:
Dan saya jadi ikutan bengong, benarkah???
23 comments 7 Mei, 2008
Iseng-seng ngikutin Warmorning ngetes “reading level” blog saya…
Taunya munculnya gini:
Dan saya jadi ikutan bengong, benarkah???
23 comments 7 Mei, 2008
Post yang sudah lama siap diterbitkan, namun baru sempat saya bawa sekarang; setelah kondisi kaki saya sudah memungkinkan untuk ngejogrog lagi di warnet. (FYI, tanggal 11 April lalu saya kena kecelakaan lumayan parah, betis saya yang mulus ciuman sama knalpot, jadi “grilled leg” deh… 2 minggu saya jadi manusia tak berguna, dan baru sekarang bisa bergerak leluasa kembali walau masih terpincang-pincang…)
Sabtu, 5 April lalu, saya (juga Mansup) mengikuti tes TOEFL di LIA Banjarmasin. Tes itu sendiri buat saya tujuannya adalah sebagai pemantapan; apakah layak mengajar TOEFL yang katanya maha berat ituh… Hohoho…
Tapi saya bukan mau ngomongin TOEFL-nya atau hasilnya yang “cuma” 593 *dihajar massa* , melainkan bagian yang justru paling menarik minat saya; satu passage di bagian terakhir reading comprehension test. Passage tersebut menceritakan tentang karya satir yang menghibur. Saking tertariknya dengan tulisan ini, saya catat poin-poinnya di ponsel, lalu saya coba cari artikel selengkapnya via googling. Dan saya akhirnya berhasil menemukan teks selengkapnya.
Sebenarnya teks tersebut ingin saya paste-kan di sini, tapi karena beberapa pertimbangan, saya memilih untuk coba menerjemahkannya saja ke Bahasa Indonesia. Berikut terjemahan versi saya (maaf kalau hasil terjemahannya terasa serampangan; saya freelance translator tanpa lisensi lho, hohoho):
Barangkali kualitas yang paling mengagumkan dari karya satir adalah kesegarannya; orisinalitas perspektifnya. Satir jarang memperkenalkan ide yang orisinil. Alih-alih, ia menghadirkan hal yang biasa kita temui dalam bentuk yang berbeda. Para pengarang satir tidak menawarkan filosofi baru kepada dunia. Yang mereka lakukan hanyalah melihat hal biasa dari perspektif yang mengkondisikan keadaan itu sedemikian rupa hingga terlihat konyol, berbahaya ataupun penuh kepura-puraan. Satir menggoyang-goyang kita agar keluar dari rasa berpuas diri ke kesadaran yang mengejutkan; kalau banyak nilai-nilai yang selama ini kita terima tanpa ragu ternyata keliru. Don Quixote membuat kekesatriaan terlihat menggelikan, Brave New World menertawakan pretensi sains, A Modest Proposal mendramatisir kelaparan dengan mendukung kanibalisme. Ide-ide ini nyatanya tidaklah original. Kekesatriaan telah lama dipermasalahkan sebelum Cervantes, para humanis telah lama keberatan dengan klaim sains murni sebelum Aldous Huxley dan orang-orang sudah sadar akan bahaya kelaparan sebelum Swift. Bukan keaslian idenya yang membuat karya-karya satir ini populer. Adalah cara pengekspresian metode satir yang membuat mereka menarik dan menghibur. Satir dibaca karena mereka merupakan karya seni yang amat memuaskan secara estetika, bukan karena mereka secara moral berfaedah atau secara etika mengandung pelajaran. Mereka membangkitkan semangat dan menyegarkan karena mereka begitu cepatnya menghapuskan ilusi dan opini usang. Dengan ketidaksopanan yang spontan, satir mendekonstruksi perspektif kita, mengacak-acak obyek yang kita kenal menjadi susunan yang tak teratur dan berbicara dalam idiom personal ketimbang dalam omong kosong yang abstrak.
Satir ada karena kita membutuhkannya. Ia hidup karena pembaca menghargai stimulus yang menyegarkan, pengingat kurang ajar kalau mereka hidup dalam pemikiran basi, moralitas murahan, dan filosofi konyol. Satir melecut masyarakat untuk menyadari kebenaran walau jarang mengatas namakan kebenaran. Satir cenderung mengingatkan masyarakat kalau banyak dari yang kita lihat, dengar, dan baca di media populer sifatnya sok suci, sentimentil, dan hanya separo benarnya. Hidup hanya sedikit sekali miripnya dengan gambaran populer yang ada. Prajurit amat jarang memegang idealisme seperti di film-film yang menceritakan kepahlawanan mereka, sementara masyarakat biasa pun kenyataannya jarang mencurahkan hidup mereka untuk pelayanan kemanusiaan tanpa mementingkan diri sendiri. Masyarakat yang cerdas mengetahui hal-hal ini tapi cenderung lupa hanya karena tidak ada yang menyuarakannya.
Well… Artikel yang mencerahkan… Setidaknya buat saya. Dan dari artikel ini saya jadi mengetahui mengapa saya HARUS menyukai karya satir: karena dengan membaca satir, saya sudah menyediakan pipi sendiri untuk ditampar. Ditampar oleh realita yang pahit, sebuah pengingat di kala terlena oleh nikmatnya comfort zone.
Dan dari penjelasan Bang Fertob dalam post legendarisnya, saya juga jadi paham mengapa ada beberapa pihak yang justru tidak memahami menyukai karya satir.
Empat poin yang diberikan Bang Fertob adalah:
# Satir kurang mengena jika digunakan dalam masyarakat yang masih “kurang cerdas”.
# Satir kurang mengena pada orang/masyarakat yang kurang memiliki “insight”.
# Satir kurang mengena pada orang/masyarakat yang “tidak mampu menertawakan sesuatu”
# Satir kurang mengena pada orang/masyarakat yang “tidak open-minded”
Jadi, asal anda bukan orang goblok, ignorant, berselera humor rendah dan picik, saya pastikan kalau anda juga HARUS bisa memahami dan menyukai karya satir. Tidak suka juga? Well, berarti anda memang goblok, ignorant, berselera humor rendah dan picik tapi anda tidak mau mengakuinya hohoho…. *busyet dah…*.
Terakhir, saya jadi ingat juga komentar legendaris saya di posting legendaris Bang Fertob di atas:
Satir itu rentan untuk disalah pahami, apalagi dijadikan bahan buat maki-maki orang. Sebaiknya jangan diteruskan kebiasaan menulis satir. Tulislah seadanya saja, hentikan kreativitas yang tidak berguna itu!
Jadi, kalau setelah ini masih ada yang tetap maki-maki saya… Ho ho ho… Tau ‘ndili lah maksudnya apa…
22 comments 28 April, 2008
“Apabila suatu urusan telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya. Maka tunggulah kehancurannya.” (HR Bukhari)
Dan bagaimana dengan saya? Apakah hadith tersebut juga berlaku terhadap saya yaa? Masalahnya selain mengajar Bahasa Inggris dan Indonesia (yang relatif lebih saya kuasai) saya juga diharuskan mengajar…
mengajar…
mengajar…
PERTANIAN!!!!!!!
Mam… poesssss….!!!!
Jadi bagi para blogger yang punya basic pertanian, mohon pencerahannya ya, bagaimana cara menebar pupuk dan memegang cangkul yang benar…
*Menangis*
27 comments 10 April, 2008
Sleep
Sleep tonight
And may your dreams
Be realized
If the thunder cloud
Passes rain
So let it rain
Rain down on me
Mmm…mmm…mmm…
So let it be
Mmm…mmm…mmm…
So let it be
Sleep
Sleep tonight
And may your dreams
Be realized
If the thundercloud
Passes rain
So let it rain
Let it rain
Rain on me
Taken From U2 - The Unforgettable Fire (1984)
Hari ini, 40 tahun yang lalu, seorang pejuang hak-hak sipil tewas mengenaskan.
Sebuah pembunuhan politik, yang bukan kali pertama terjadi di negara yang mengaku paling demokratis sedunia itu.
Namanya Michael Luther King, Jr. tapi orang lebih mengenalnya sebagai Martin Luther King, Jr. Di post ini, saya akan menyebutnya dengan MLK.
Ia seorang pemuka agama, pemimpin gerakan kaum kulit hitam, penentang perang Vietnam, peraih nobel, dan mengakhiri hidup dengan cara yang sama dengan Abraham Lincoln, JFK, John Lennon, dan bahkan Munir.
U2 secara khusus membuat dua lagu untuk MLK, yang pertama adalah Pride (In The Name Of Love) dan kedua adalah MLK, yang liriknya saya cantumkan di atas.
So, then, what makes MLK so special?
Pertama, MLK berkulit hitam.
Dan beliau punya mimpi, kalau suatu saat anak-anak mantan budak seperti dirinya bisa mendapat hak yang sama dengan anak-anak mantan tuan tanah.
Beliau memperjuangkan dihapuskannya aturan yang tak rasional hak yang membuat orang kulit hitam di masanya tidak bisa pergi ke sekolah yang sama dengan orang kulit putih, harus menyerahkan kursi mereka ke penumpang kulit putih jika duduk di dalam bus, dan bahkan mendapat tempat buang air yang berbeda dengan orang kulit putih.
Ia juga gigih menentang perang Vietnam, yang terbukti hanya mencabik-cabik bangsa dan kemanusiaan, tanpa hasil yang berarti.
Kerap keluar masuk penjara, tentunya karena aksi dan sikapnya yang tak mau berkompromi dengan pemerintah kala itu, hidupnya akhirnya harus berakhir dengan cara yang, well, sebenarnya sudah bisa diperkirakan semua orang.
Akan tetapi seperti ujar Bono, they took your life, but they could not take your pride. Kematiannya justru menjadi pemicu diakhirinya diskriminasi ras di Amerika. Mungkin saat ini masih ada beberapa tempat yang masih memasang plang “Whites Only”, tapi secara umum, warga kulit hitam sudah bisa memperoleh haknya dengan jauh lebih layak.
Kini kita bisa melihat Oprah Winfrey menjadi salah satu host tersukses.
Kini kita bisa melihat Will Smith menjadi salah satu aktor dengan bayaran terbesar.
Dan kini kita bisa melihat Obama bersaing menuju kursi presiden.
Dan semoga, dunia di masa depan bisa jadi tempat yang lebih bersahabat untuk semua orang, tanpa membeda-bedakan warna kulit, agama dan kebangsaan.
Dan untuk harapan itulah, hari ini saya mem-post lagu ini.
Bonus: U2 - MLK live video di Youtube.
8 comments 4 April, 2008

Posting pendek saja, sebagai penanda kalau kantong saya sudah bisa bernafas lega. Pasalnya, hari ini tanggal 1 April, lho… ho ho ho…
Credit Foto: Mansup yang lemah™.
23 comments 1 April, 2008
Bang Amed ke mana aja sih? Kok ngilang lama banget?
Perlu saya tegaskan, saya ndak ngilang ke mana-mana, apalagi diculik oleh pihak-pihak tertentu
. Yang hilang dari saya adalah koneksi 24 jam dan penghasilan, buah dari kondisi Jobless yang saya derita, setidaknya sampai pekan depan.
Saya hitung-hitung, sudah lebih dari seminggu saya tidak berhubungan dengan dunia maya. Bahkan posting di blog ini sudah hampir dua minggu tidak diurus. Saya hanya sempat ke warnet sekali, menjawab sedikit komentar, sementara sisanya tak terurus. Lebih dari sekadar Hiatus Tak Sopan, ini benar-benar Hiatus Kurang Ajar! Pelanggaran HAM berat!
Saya runut beberapa alasannya:
- Koneksi
Sejak menganggur saya tidak lagi bisa berfoya-foya dengan benwit kantor yang gratisan, apalagi sampai selingkuh poligami multimedia yang bermodalkan korupsi terselubung. Koneksi gratisan di Murjani yang tadinya menjadi tumpuan, ternyata tak sesuai yang diharapkan, dan sekarang sudah hampir sebulan saya tidak mencoba konek di situ lagi, aneh…
- Budget
Karena solusi terakhir untuk konek adalah ke warnet yang tarifnya mencengangkan, otomatis uang menjadi faktor dominan. Sayang, posisi tawar saya tidak memungkinkan untuk seenaknya berfoya-foya. Tanpa penghasilan tetap seperti sekarang, di tengah naiknya harga sembako, adalah hal yang kurang bijak jika saya membiarkan istri peras keringat banting tulang cari uang sementara saya menghabiskannya.
- CPNS
Syukurnya, saya tidak harus menganggur terlalu lama. Per 1 April, saya sudah harus melaksanakan tugas. SK CPNS lengkap dengan wejangan-wejangan khas PNS sudah saya terima Senin 17 Maret lalu, dan esoknya saya ke sekolah di mana saya ditempatkan.
Urusan tetek bengek dan segala kelengkapan administrasi cukup menyita waktu saya juga. Berpuluh-puluh ribu sudah dihabiskan untuk fotokopi, laminating dan beli materai. Termasuk juga bensin dan oli samping untuk Sigma butut saya yang setia menemani…
Sekolah tempat saya akan bekerja sendiri adalah sebuah SMP yang baru beberapa tahun berdiri. Terletak di kawasan lapangan golf, lima kilometer dari jalan utama. Saya sempat kaget dengan jarak yang harus ditempuh dari sekolah ini dan peradaban manusia. Samping kiri-kanannya masih berupa hutan, sementara di seberangnya ada ladang jagung. Whew… Di sinikah saya akan mengabdikan ilmu yang saya pelajari sewaktu kuliah? Di sinikah saya akan menghabiskan masa kerja saya?
- Novel
Selain mengajar kursus yang hanya dua kali seminggu, waktu luang yang berlimpah juga saya habiskan untuk membaca novel secara maraton. Saya merampok koleksi Dan Brownnya Mansup, dari Digital Fortress, Angels & Demons, dan yang masih jalan, The Da Vinci Code. Saat ini kepala saya dipenuhi dengan catatan sejarah, teori-teori konspirasi tingkat tinggi, dan simbol-simbol agama, hohoho…
Konsekuensinya saya jadi malas menulis. Waktu banyak habis untuk membaca, sehingga untuk menulis postingan rasanya juga jadi berat… Tapi setelah Da Vinci Code tamat, saya akan usahakan untuk menulis dengan lebih teratur lagi… Janji lagi janji lagi…
Jadi, karena hal-hal tersebut di atas, saya jadi tidak bisa secara rutin mengikuti perkembangan di blogosphere. Buat saya ini menyedihkan, karena saya tahu, di sini selalu penuh dengan dinamika dan hal-hal baru. Tapi selalu, saya usahakan untuk mengikuti tulisan kawan-kawan blogger lewat GreatNews. Makanya, jangan lupa untuk mengeset pengumpan sindikasi anda ke full feed. Terima kasih
.
PS: Untuk Jendral ‘K, requestnya belum bisa saya penuhi nih, aduh, maaf yaa.. Semoga per 1 April, ketika keadaan sudah bisa saya tanggulangi, saya bisa merealisir tulisan tersebut.
22 comments 26 Maret, 2008