Suspend, Kebebasan Dan Kemandirian
“Billions of blue blistering, boiled and barbecued barnacles!”
(Captain Haddock)
Ya, untuk kedua kalinya sudah, saya disuspend oleh WordPress.com. Kalau yang pertama karena kesalahan robot, kali ini katanya karena saya yang salah. Saya bermain-main dengan link afiliasi yang no longer allowed oleh WP; demikian diungkapkan Mark cintaku sayangku…
Suspend kali kedua ini membuat saya mempertimbangkan kembali keberlangsungan saya di blog ini. Rasanya sudah cukup dua kali ini saya diusir dari rumah tumpangan. Ya namanya juga numpang, kalo pemiliknya galak dan ketat aturan, yang numpang jadi cuma bisa manut doang.
Dan hal ini dalam jangka panjang ternyata kurang baik terhadap perkembangan karir saya di dunia maya. Memang, ngeblog di sini itu mudah dan murah. Memang, saya telah mendapat begitu banyak hal di sini; teman, komunitas, ketenaran, masalah, caci maki, pagerank 4, dan lebih 50 ribu unique visitors *lirik Pakacil*. Namun ya itu tadi, ternyata ada ketidak-bebasan yang harus menjadi kompensasi. Tak boleh main atsen, afiliasi, atau modus-modus monyetizing lainnya. Tak bisa sembarang posting dengan link-link “tertentu” karena bisa melanggar ToS katanya.
Kebebasan, ini yang sekarang ada di benak saya. Saya perlu rumah yang sedikit lebih membebaskan untuk saya berekspresi dan bereksperimen. Saya perlu rumah yang aturannya lebih longgar.
Kemandirian, ini juga yang menjadi pertimbangan berikutnya. Saya yakini, pindah rumah akan memungkinkan saya belajar lebih banyak lagi, dan bisa langsung menerapkan ilmu baru yang saya dapatkan. Dengan menyewa rumah sendiri, saya pastinya akan dituntut lebih perhatian ke hal-hal yang lebih detil, ke hal-hal yang dulu tak perlu saya urusin ketika masih numpang. Dan yakinlah, ini akan menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi saya.
Karena itu, dengan pertimbangan yang mantap, saya memutuskan untuk pindah ke rumah baru saya:
Isi blog ini tidak akan saya hapus atau pindahkan ke blog yang baru. Biar saya memulai dari nol lagi di sana, dan di sini biar tetap seperti ini adanya, malas ribet dan mungkin, hanya mungkin, suatu saat saya akan menulis lagi di sini kalau ada mood…
12 comments 25 Juni, 2009
Etika
Saya tahu, nilai normatif macam Etika ini sudah demikian basi, out-of-date, muna, dan remeh temeh. Apalagi di era Internet ini, di mana hampir semua hal bisa dilihat dari layar yang cuma sedepa, hampir semua hal bisa diraih lewat benda yang cuma segenggaman.
Saya tahu, teknologi katanya dibuat untuk mempermudah manusia, bukan sebaliknya, menambah masalah. Apalagi di era Internet ini, semua orang ingin serba instan, serba terburu-buru, serba tersegera.
Dan saya tahu, etika dan teknologi ini sudah seperti sepeda onthel balapan dengan YZR-M1; gak lepel! Hare gene masih ngemeng-ngemeng soal begituan? Sekarang jaman Fesbuk Om! Sekarang era-nya aipon! Apa-apa tinggal raih, tak usah peduli halal haram lagi! Sikat! Persetan dengan etika konyolmu itu!
Dan perlahan saya mesti tahu, etika kelak akan ditinggalkan peradaban, menjadi penghias buku usang, atau jadi tempelan di dinding.
Dan orang-orang yang merindukan sang etika kelak akan jadi utopis, harus bersiap mengepak koper, pindah negara, menyepi di gunung, atau bunuh diri perlahan.
Yang jadi pertanyaan saya, sampai berapa lama lagi etika akan dapat bertahan?
Oh, hampir lupa, etika tak cuma bicara soal benar-salah, baik-buruk, tapi juga TANGGUNG JAWAB
16 comments 16 Juni, 2009
Saya Setuju Ibu Prita Ditangkap, Asal…
Manusiasuper juga ditangkap karena mencemarkan nama baik Haji Boy!!!
*****************************************************************
Ya, akhirnya “Pasal Karet UU ITE” sudah terbukti kelenturannya. Dengan mengatas namakan pasal 27 Ayat 3, seorang ibu muda harus ditangkap dan dituntut atas tuduhan pencemaran nama baik.
Ah, ketika konsumen sebagai individu berhadapan dengan korporasi besar, bertaraf internasional pula, sepertinya kita sudah bisa menduga siapa yang bakal menang. Bukan ingin berburuk sangka, but that’s a fact, Jack! Nama besar dan reputasi sebuah Rumah Sakit bertaraf Internasional dipertaruhkan dalam hal ini. Dan yang namanya korporasi tentulah harus menjaga image-nya sedemikian rupa, tak peduli berapapun biaya yang harus mereka keluarkan dan pengacara yang harus mereka kerahkan demi membendung satu saja suara sumbang.
Dan ketika aturan yang ada berpihak ke yang punya kuasa, saya, anda dan kita semua mungkin hanya bisa terhenyak, mengutuk keadaan, untuk kemudian berpaling dalam diam.
Atau mungkin lebih dari itu? Di Facebook saat ini tengah ada penggalangan dukungan lewat Cause. Banyak Blogger, termasuk saya saat ini (dan semoga lebih banyak lagi) terus menyuarakan dukungan dan pendapatnya lewat media masing-masing.
Apa lagi? Ada kampanye e-mail yang bisa kita kirimkan beramai-ramai, dan semoga efektif membuka mata dan menghilangkan arogansi manajemen Rumah Sakit tersebut.
Sedikit aksi dari depan monitor kita masing-masing, semoga membawa perubahan dan mengenyahkan ketidak adilan dari negeri kita tercinta ini. Semoga Ibu Prita bisa terus tegar dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, yang tentunya mendukung beliau bukan hanya karena kecantikannya *toenk*.
Oh, ya, satu pesan dari YLKI, pilih-pilih kata kalo mau protes di Internet ya!
37 comments 3 Juni, 2009
Sebuah Dialog Pada Suatu Malam
“Saya ini jualan bakso sudah lama, Dik, sejak 1986.”
“Wah, sudah cukup lama juga ya, Pak?”
“Yah, dulu saya itu pernah jaya, Dik… Se-Banjarbaru ndak ada yang ndak tahu warung Bakso saya… Kalo pembantu ada lah sampe lima. Sayangnya saya itu kemakan rayuan teman, diajak usaha lain. Dagangan saya jadi ludes, habis. Saya bangkrut!”
“Usaha apa, Pak?”
“Ikut nambang, di Cempaka. Katanya sih kalo dapat bisa kaya raya. Nyatanya apa? Dulu waktu jualan bakso bisalah saya, walau ndak besar-besar amat, tapi tiap hari ada dapat duit. Di tambang seminggu sekali juga belum tentu dapat… Semua serba untung-untungan”
“Nambang dari kapan Pak?”
“Dari tahun 2000. Akhirnya saya kapok, dan coba lagi jualan bakso dari awal. Sudah setahun ini saya keliling begini…”
“………….”
Di keheningan malam, di bawah hujan rintik-rintik, seorang bapak (yang kalau saya taksir seumuran dengan bapak saya yang bulan depan pensiun), mendorong gerobak baksonya, mengais rejeki di salah satu pulau terkaya di dunia ini. Masa lalu, ambisi semu, dan kegagalan hidup yang beliau alami menambah satu hikmah dalam benak saya; saya tak akan pernah mencoba usaha dari mengais perut bumi, mencari sesuatu yang tak pasti, tak peduli sebernilai berapapun ia (kalau ada)…
Note: Cempaka, yang disebutkan beliau di atas, bukanlah nama bunga, melainkan sebuah tambang berlian yang dari rumah saya jaraknya tak lebih dari 15 kilometer. Di sana pernah ditemukan berbagai intan kualitas dunia, seperti intan Tri Sakti (166 karat) yang keberadaannya sampai sekarang tak pernah diketahui lagi…
13 comments 29 Mei, 2009