Adele – Rolling In The Deep

6 Komentar


There’s a fire starting in my heart
Reaching a fever pitch, and it’s bringing me out the dark
Finally I can see you crystal clear
Go ahead and sell me out and I’ll lay your ship bare
See how I’ll leave with every piece of you
Don’t underestimate the things that I will do

There’s a fire starting in my heart
Reaching a fever pitch
And it’s bringing me out the dark

The scars of your love remind me of us
They keep me thinking that we almost had it all
The scars of your love, they leave me breathless
I can’t help feeling
We could have had it all
Rolling in the deep
(Tears are gonna fall, rolling in the deep)
You had my heart inside of your hand
(You’re gonna wish you never had met me)
And you played it to the beat
(Tears are gonna fall, rolling in the deep)

Baby, I have no story to be told
But I’ve heard one of you
And I’m gonna make your head burn
Think of me in the depths of your despair
Making a home down there
As mine sure won’t be shared

The scars of your love remind me of us
They keep me thinking that we almost had it all
The scars of your love, they leave me breathless
I can’t help feeling
We could have had it all
Rolling in the deep
(Tears are gonna fall, rolling in the deep)
You had my heart inside of your hand
(You’re gonna wish you never had met me)
And you played it to the beat
(Tears are gonna fall, rolling in the deep)
We could have had it all
Rolling in the deep
You had my heart inside of your hand
But you played it with a beating

Throw your soul through every open door
Count your blessings to find what you look for
Turn my sorrow into treasured gold
You pay me back in time and reap just what you sow

(You’re gonna wish you never had met me)
We could have had it all
(Tears are gonna fall, rolling in the deep)
We could have had it all
(You’re gonna wish you never had met me)
It all, it all, it all
(Tears are gonna fall, rolling in the deep)

We could have had it all
(You’re gonna wish you never had met me)
Rolling in the deep
(Tears are gonna fall, rolling in the deep)
You had my heart inside of your hand
(You’re gonna wish you never had met me)
And you played it to the beat
(Tears are gonna fall, rolling in the deep)

You could have had it all
(You’re gonna wish you never had met me)
Rolling in the deep
(Tears are gonna fall, rolling in the deep)
You had my heart inside of your hand
(You’re gonna wish you never had met me)

But you played it
You played it
You played it
You played it to the beat.


*************************************************

AdeleRolling In The Deep
From “21” (2011)

Adele adalah fenomena musik tahun ini, yang telah membuat begitu banyak orang merinding kalau tidak galau ketika menyimak suaranya. Lagu ini dan album 21 bisa jadi akan berbicara banyak di ajang Grammy tahun depan, tunggu saja…

Dan di era Web 2.0 seperti sekarang, ketika semua orang bisa jadi musisi dan terkenal dalam sekejap via Youtube, tak sulit mencari cover untuk lagu ini. Berbagai versi, disesuaikan dengan karakter vokal dan gaya si penyanyi, bertebaran di Youtube, dan beberapa di antaranya saya coba tampilkan di bawah ini:

** Versi Boyce Avenue

Saya sebenarnya kurang suka versi Kang Boyce, terlalu ‘lembek’ kalo dibilang mah, gak laki gitu loh.. Tapi ya mau gimana, selera para wanita galau tentunya ndak bisa dikesampingkan begitu saja lah… *lirik Tante Kiki…*

** Versi Connie Talbot

Tak dinyana, sudah hampir 5 tahun waktu berlalu sejak si ‘anak ajaib’ mengobrak-abrik perasaan Simon Cowell dengan ‘Over The Rainbow’-nya. Sekarang usianya sudah 11, karakter vokalnya semakin matang, dan penampilannya juga.. oh, well.. pedobear detected :twisted: .

** Versi Maddi Jane

Saya tadinya ndak tahu-menahu soal Teteh Maddi ini, baru tertarik setelah ia nangkring di posisi teratas hasil pencarian saya… Usianya ternyata juga baru 12, oh, well.. pedobear detected lagi.. :mrgreen:

** Versi Mike Tompkins

Dengan style ‘beatboxing’ andalannya, Kangmas Mike membawakan lagu ini dengan rada ‘slengean’. Yang jelas, seperti kata Bang Ray, jangan sampai beliau ini sariawan, kasian karena bakal keteteran… :) )

** Versi Linkin Park

Dari semua cover, ini dia favorit saya. Di leher Chester, lagu ini menjelma jadi semakin menyeramkan :|

Kesenjangan Sosial Koneksi

14 Komentar

Setahun sudah saya numpang tinggal di Jogja, dan bulan ini akhirnya saya memutuskan untuk pindah. Tadinya saya tinggal berempat dengan rekan-rekan sesama mahasiswa dari Kalsel (termasuk Kangmas Mansup), mengontrak rumah di sebelah utara Jogja. Tahun ini, saya berencana ngekos saja, dengan beberapa pertimbangan yang lebih bersifat ekonomis dan kurang pas kalau harus dibeberkan di sini, kelihatan bener kere-nya.

Kos yang baru tentunya sangat berbeda dengan rumah kontrakan lama. Rumah yang lama besar dan luas, namun lumayan jauh dari peradaban; dua kilometer ke utara ringroad, dengan latar gunung Merapi di belakang rumah. Sementara kos-kosan ini, meskipun sempit, namun letaknya sangat strategis, karena dekat dengan pusat keramaian Jogja, seperti UGM, Malioboro, dan yang utama, kampus UNY. Kamar kos saya bahkan tepat bersebelahan dengan sebuah restoran waralaba yang terkenal mahal, walaupun sampai sekarang belum ada orang baik hati yang mau mentraktir saya makan di sana :mrgreen: .

Akan tetapi, yang paling bertolak belakang adalah… adalah…

More

Peter Cetera – Apple of Your Daddy’s Eyes

11 Komentar

I remember when you were born
I felt like one lucky, son of a gun
And when you turned into two
I was so happy, when you said I love you

Held you in my arms so tight
I’d never forget
The best years of my life

Apple of your daddy’s eye
Wanna be the one to hold you in the night
Apple of your daddy’s eye
Oh, oh sleep tight
Don’t you worry gonna be alright

I remember when you were three
You were so lovely, so very pretty
And when you turned into four
I finally realized, what God put her here for

Held you in my arms so tight
I’d never forget
The best years of my life

Apple of your daddy’s eye
Wanna be the one to hold you in the night
Apple of your daddy’s eye
Oh, oh sleep tight
Don’t you worry gonna be alright

If I had my way, time would stand still
You’d stay as sweet as you are
But time waits for no one, it never will
Your gonna leave me soon enough
I’m just sad ’cause you’re growing up

Don’t stop ever lovin’ me because
You’re the apple of your daddy’s eye

Peter CeteraApple of Your Daddy’s Eyes
From “One Clear Voice” (1995)

One Clear Voice adalah kaset pertama yang pernah saya beli, saat saya masih kelas 2 SMP. Saya mencomotnya di salah satu toko kaset di Mitra Plaza. Album yang ‘ketuaan’ untuk selera abege saat itu memang, tapi namanya juga terlanjur beli, ya sudah saya nikmati saja.

Ketika itu, saya masih belum bisa meresapi isi lirik di atas, hanya suka karena musiknya menarik dan upbeat. Sekarang? Ah, membaca lagi lirik di atas, dan mengenang setahun terakhir, tak urung membuat saya semakin merindukan gadis kecil ini…

Setahun kuliah di Jogja, artinya setahun sudah saya kehilangan waktu bersama Nadira. Saya hanya bisa mendengarkan cericit-nya dari jauh; menyimak cerita tentang kegiatannya sehari-hari, menjawab berbagai pertanyaan baru yang dilontarkannya, dan sesekali menyanyikan Over the Rainbow sebelum ia tidur. Beberapa hari yang lalu ia terima rapor, “Nilainya semua Alhamdulillah, yah…” ujar ibunya.

Kata Mami, Nadira sekarang bertambah tinggi, sudah lewat 100 cm. Untuk ukuran anak yang lahir dengan berat hanya 1,6 kg, tingginya sekarang sudah lumayan. Makannya juga lahap, katanya, sering minta nambah; dibarengi dengan pergerakannya yang semakin gesit. Ke mana saja maunya lari, belum lagi ditambah dengan main sepeda. Ketika diurut gara-gara terjungkal seminggu yang lalu, ia tertawa lebar ketika tukang urutnya mengatakan bahwa kakinya keras seperti anak lelaki.

Suara Dira juga semakin dewasa; masih cempreng, memang, tapi semakin terampil saja memilih kata. Dia pernah bercerita kalau dia memenangi lomba ‘bawa bola di piring’ di TK-nya, lalu ibu guru malah berkata kalau semuanya menang. Ketika ditanya, mengapa ibu guru berkata begitu, ia menjawab “Habis, temen Dira yang kalah udah mau nangis, jadi ibu guru bilang menang dua-duanya, biar temen Dira nggak jadi nangis.” Mami bertanya lagi, apakah kalau Dira kalah juga menangis. Dia menjawab “Ya enggak lah, kan namanya juga permainan, kadang-kadang ya menang, kadang-kadang ya kalah. Nggak papa tuh.” Saya terperangah mendengar cerita itu, bahwa ternyata di usia sekecil itu, Dira sudah memiliki konsep sportivitas. Rasanya malu kalau membandingkan dengan diri sendiri yang masih banyak menyimpan iri dengki khas perilaku orang dewasa, apalagi sampai harus menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.

Ataukah memang anak kecil, dengan segala kepolosannya, lebih bisa memandang dunia sekitarnya yang juga kecil dengan penuh ketulusan? Ataukah dunia orang dewasa memang tempat yang kelewat bengis dan penuh intrik tipu-daya? Melihat gelontoran berita di media, tentang korupsi, kemiskinan, dan pengrusakan lingkungan, sepertinya ucapan Allison Reynolds dalam The Breakfast Club ini mendapat justifikasi:

“When you grow up, your heart dies.”

Dan ketika para pakar pendidikan tengah ribut-ribut menyoal “pendidikan karakter“, kita seolah lupa, bahwa pendidikan karakter yang utama itu adalah memberi teladan. Dan keteladanan itulah yang sepertinya luput dari perhatian kita.

Saya prihatin…

EYD: Ejaan Yang Dipaksakan?

12 Komentar

Akhirnya, semester genap nan hectic pun berlalu sudah. Setelah selama empat bulan lebih hari-hari saya diisi dengan membuat resume, makalah, presentasi, sampai menjajal jadi pembicara di seminar internasyonal, akhirnya perkuliahan ditutup dengan sepuluh hari ujian akhir; satu tes tertulis di kelas, dan enam tugas untuk diselesaikan di rumah. Kamar berantakan, buku berserakan, cemilan berhamburan, dan di tengah kekacauan itu, untungnya, Zelda: Ocarina of Time masih sempat saya tamatkan… *Yes, procrastination helps, a lot! :mrgreen: *

Dan ketika Rabu (22/6) siang semua tugas telah kelar dikumpulkan, saatnya bagi diri ini menikmati hari libur. Ada 100+ giga film yang belum sempat ditonton, ratusan ebook bajakan yang belum sempat dirapikan, episode-episode lanjutan Malcolm in the Middle yang baru selesai disedot dari Merapi Online, dan beberapa game lain untuk ditamatkan (now playing: Banjo-Kazooie).

Liburan juga berarti menulis kembali di blog ini. Terlalu banyak ide-ide yang tadinya sempat ingin saya tuliskan, menguap begitu saja karena alasan kelelahan, banyak tugas, dan galau. Kali ini, mumpung ada ide, mood, dan kesempatan, saya coba untuk kembali membuat postingan baru, terinspirasi dari pertanyaan Mas Gentole di akun FB-nya beberapa hari lalu.

tapi med apa pendapatmu tentang penyair, novelis dll? kalo kamu baca novel pramoedya atau esai iwan simatupang banyak banget kesalahan tata aturan bahasanya. tapi toh tulisannya bagus.

Pertanyaan itu membuat saya tercenung. Hari pertama libur semester, saya malah ditodong untuk mengeksplorasi lebih jauh soal ejaan dan kaitannya dengan sastra. Ini bukan perkara mudah, tentunya, karena selain saya sudah lama tak ngeblog, mau tak mau, saya yang lagi pengen males-malesan ini malah terpaksa harus bikin ‘riset’ kecil-kecilan…

Oke. Pertama, soal ejaan.
Ada beberapa jenis ‘kesalahan’ ejaan. Yang pertama, adlaah typo; ksealahan pengetikan ynag sering terjdai kraena tidak sinkron-nya otak dan jari.
Kedua, mungkin bukan kesalahan (karena disengaja), dan jadi trend di kalangan abegeh saat ini, sebuah bahasa yang… ah, saya ambil contoh dari status FB murid saya saja ya:

mdah”n qw bsa mnGpai cmw xG qHu inGn kn n cmw hRapn oRg” xG qHu cXk…!!!
n mmbwt mrEka BhGia n bnGga…!!!

atau yang ini:

mkCh ya smua X bgi yG udH bRie uCpAn k’qHue,,,,,
moGa kliAn smUa shaT slalU
mf kloo g bSa blS sTu”

Yang ketiga, kesalahan ejaan karena tidak sesuai kaidah bahasa. Untuk bahasa Indonesia, sudah ada Pedoman EYD atau Ejaan Yang Disempurnakan sebagai tempat untuk mengadu dan mencari pembenaran. Kesalahan ini lebih disebabkan oleh faktor ignorance; ketidaktahuan.

Perlukah ejaan baku?
Saya meyakini, ejaan baku masih sangat diperlukan, setidaknya di tiga ranah: pemerintahan, pendidikan, dan jurnalisme. Bahasa yang dipakai di Undang-undang, buku pelajaran, dan media cetak, idealnya menggunakan bahasa yang baik dan benar. Alasannya? Karena mereka akan dibaca seluruh orang di Indonesia! Mereka pedoman, penunjuk jalan. Kalau pedomannya saja sudah salah, tak heran kalau pengikutnya ikut-ikutan salah. Perlu diingat, kalau di luar ketiga ranah itu, pelanggaran bahasa, ya otomatis dilakukan besar-besaran; di status FB, di Twitter, di SMS, di blog (ya, termasuk di blog ini), di e-mail, dan di media tulis tak resmi lainnya; karena namanya juga tidak resmi, suka-suka yang punya tulisan dong, mau nulis yang gimana juga.

Kerangkeng berbahasa?
Grammar Nazi maupun Polisi EYD, bagi sebagian kalangan adalah orang-orang pedantik, kurang kerjaan dan menyebalkan yang dengan teganya membelejeti kesalahan berbahasa (tulis) orang lain. Toh, selama pesan tersampaikan, selama komunikasi berjalan lancar, apa gunanya meributkan hal-hal kecil macam ‘silahkan’ atau ‘silakan’, ‘aktivitas’ atau ‘aktifitas’, ‘acuh’ atau ‘tak acuh’? Toh tidak mengubah makna kan? Ya. Polisi EYD pun seakan-akan membatasi kreativitas, dan cenderung menjadi kerangkeng kebebasan berbahasa padahal Polisi itu sahabat anak loh... Banyak aturan, kapan nulisnya?

Pendapat seperti ini bukan sekali dua kali mampir ke telinga saya, atau terbaca di berbagai media; bahwa EYD justru membatasi kreativitas. Kalau dipikir-pikir, ya benar juga. Toh saya lihat masih banyak blogger senior yang gaya bahasanya menarik, banyak penggemar, traffic-nya tinggi, meskipun dengan berbagai kesalahan di sana-sini. Masih banyak dari mereka yang seringkali tak membedakan penggunaan preposisi ‘di’ dengan imbuhan ‘di-’ (misalnya menulis ‘dirumah’ dan ‘di ambil’, tapi juga ‘di Jakarta’ dan ‘dipilih’). Masih banyak media cetak dan elektronik menggunakan kalimat ‘bandar narkoba itu berhasil diringkus’ (diringkus kok dibilang berhasil?), atau tertukar menyebut penyakit akut sebagai penyakit kronis (atau sebaliknya). Masih banyak, namun mereka tetap menulis, berbagi informasi dan ide kepada dunia lewat tulisan.

Dan siapa saya untuk mengoreksi itu semua? Saya cuma seorang blogger abal-abal yang menulis sekenanya. Tulisan-tulisan di blog ini pun, kalau mau dibongkar, banyak sekali memuat kesalahan berbahasa, baik ejaan, gramatika, maupun makna. Dan satu-satunya pembelaan saya adalah bahwa ini kan blog pribadi, yang ditulis sesukanya, sehingga harusnya jangan dijadikan rujukan karya ilmiah…

Akan tetapi, saya masih kurang setuju kalau EYD dianggap sebagai penghambat kreativitas, terutama dalam karya sastra.

Ya. Kedua, soal sastra.
Sastra adalah permainan kata-kata. Sastra tidak sekadar apa yang ingin disampaikan, tapi juga bagaimana cara menyampaikannya. Seorang penulis diakui hebat di dunia sastra umumnya bukan karena faktor teknis seperti tata bahasa dan ejaan; ia diakui karena tulisannya berhasil menggugah dunia.
Dalam teori kompetensi bahasa, ada yang disebut grammatical competence, yaitu kemampuan mengenali dan menghasilkan struktur gramatikal tertentu dan menggunakannya secara efektif dalam komunikasi. Grammatical competence lebih bersifat teknis; hanya membahas aturan pada level kalimat, dan mengurusi hal-hal ‘kecil’ seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.
Lebih luas lagi, ada discourse competence, yaitu bagaimana merangkai kalimat-kalimat sehingga menghasilkan wacana yang kohesif sekaligus koheren. Kohesif berarti tulisan yang dihasilkan memiliki ‘benang merah’ yang memadukan tulisan tersebut sehingga tidak tercerai-berai, sedangkan koheren berarti tulisan yang dihasilkan merupakan wacana yang ‘masuk akal’, tidak sekadar kumpulan kalimat yang tidak jelas juntrungannya (nonsensical).

Disadari atau tidak, textual/discourse competence lebih banyak berperan dalam menghasilkan karya sastra yang menarik untuk dibaca. Saya bukan penikmat sastra kelas berat, tetapi menurut saya, novel yang menarik umumnya setidaknya memiliki jalan cerita yang kuat benang merahnya, dan makna yang mendalam, yang bahkan bisa mempengaruhi pikiran dan perasaan pembacanya.

Lalu, apakah dengan demikian tata bahasa serta merta dapat diabaikan? Mungkin kita perlu melihat apa yang disampaikan dalam tulisan ini:

A lot of writers try to skip over the basics and leap fully-formed out of their own head-wombs. Bzzt. Wrongo. Learn your basics. Mix up lose/loose? They’re/their/there? Don’t know where to plop that comma, or how to use those quotation marks? That’s like trying to be a world-class chef but you don’t know how to cook a goddamn egg. Writing is a mechanical act first and foremost. It is the process of putting words after other words in a way that doesn’t sound or look like inane gibberish.

Kalau boleh saya berpendapat, ada baiknya memang, seorang sastrawan juga didampingi oleh seorang editor (atau biasanya memang demikian?). Sastrawan bertugas mengelaborasi ide dan menghasilkan karya, sementara editor mengurusi hal-hal remeh-temeh yang tak layak dikerjakan oleh seorang sastrawan besar. Win win solution kan?

Bagi sebagian orang mungkin iya. Bagi sebagian lagi, ada yang namanya style, identity, dan ego. Ketiganya merujuk ke diri si penulis sendiri; bahwa tulisan yang dihasilkannya adalah hak prerogatif dirinya. Jadi apapun yang ia hasilkan, sudah melalui proses ‘editing’ di dalam pikirannya sendiri. Orang lain dilarang ikut campur; boleh mengritik seperti apapun, tetapi karyanya tetap tidak boleh diutak-atik.

Dan penulis puisi umumnya memang lebih ‘bandel’. Tak jarang, kesalahan tata bahasa itu disengaja, dan justru menjadi meme, menjadi ciri khas si penyair itu sendiri.
Karena toh, puisi itu kan wujud kebebasan berekspresi? Mosok mau diatur-atur?

Jadi?
Ya, kembali ke atas. Untuk karya sastra, saya cenderung lebih senang kalau si penulis mau taat pada EYD, meskipun kalaupun tidak, toh tidak akan berpengaruh terlalu besar pada ide hebat yang ingin disampaikannya. Akan tetapi, untuk peraturan, buku teks, dan surat kabar, tata bahasa adalah harga mati!

Harga, mati…

Artikel terkait:
- Amed – Bahasa
- Mansup – Diksi

Hello WordPress, How Are Things?

5 Komentar

*Posting iseng pendek saja, ditulis sambil mengambil sapu*

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.