“Ho ho ho, judulnya! Judulnya!”
Iya, iya, ini merupakan posting lanjutan dari posting saya yang legendaris *pletak!*, yang sempat memicu kehebohan kecil di blogosphere. Sudah sangat lama ingin saya posting, tapi baru sekarang saya bisa realisasikan, setelah saya merasa sudah cukup banyak mengumpulkan evidences.
Akan tetapi, kali ini saya akan spesifik membahas fatwa dari salah seorang ulama Salafy/Wahabi, Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin yang menyatakan kalau matahari mengelilingi bumi.
Tidak ada maksud untuk memperpanjang keributan, saya hanya tidak ingin dianggap mentaklid buta terhadap sains dan bersikap tidak dewasa kalau membuat statement tanpa argumen yang jelas. Untuk itu saya berusaha merangkum berbagai bukti, semoga pembahasan panjang lebar ini bisa dinikmati dengan kepala yang dingin, tanpa emosi, tanpa argumentum ad hominem, tanpa pengafiran, dan tanpa hujatan ndak jelas.
Oleh karena itu, dimohonkan kerjasamanya kepada semua teman-teman blogger, agar khusus di postingan ini bisa berkomentar dengan santun, tidak OOT, tidak hattrick atau pertamax, dan tentunya tidak mencemooh dan ad hominem terhadap saya atau komentator lainnya. Yang ngeyel komennya akan langsung saya hapus (saya tidak main-main!). Toh masih banyak postingan saya yang bisa kalian sampahi kan? Hwehehehe…
Oke kita mulai saja.
I. Dalil!!!!
Sesuai adab dan SOP, pertama-tama, saya akan mendahulukan dalil dari Al Qur’an. Dalam pembahasan di artikel ini, saya akan mengutip artikel dari blog Abdurrahman, yang menyatakan kalau dhohir ayat Al Qur’an telah menetapkan kalau mataharilah yang berputar mengelilingi bumi dan dengan perputarannya itulah yang menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam dipermukaan bumi.
Benarkah?
Dalam hal ini saya mencoba cross-check.membandingkan terjemahan yang disediakan Pak Abdurrahman (saya beri kode AR), dengan terjemahan Al Qur’an versi DEPAG (DP).
1. QS. Al-Baqoroh: 258
“…sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia (matahari) dari barat…” AR
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan.” Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” DP
2. QS. Al-An’am: 78
“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata:’Inilah Rabku, ini yang lebih besar’, maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata:”Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”. AR
“Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” DP
3. QS. Al-Kahfi: 17
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit condong dari arah gua mereka ke sebelah kanan dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu…” AR
“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” DP
4. QS. Al-Anbiya’: 33
“Dan Dia-lah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya” AR
“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” DP
5. QS. Al-A’rof: 54
“Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat…” AR
“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy’. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. DP
6. QS. Az-Zumar: 5
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” AR
“Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” DP
7. QS. Asy-Syams: 1-2
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya…” AR
“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya,” DP
8. QS. Yaasiin: 37-40
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah Yang Maha Besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapn Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya” AR
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan. dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” DP
Saya bukan ahli tafsir, jadi saya tidak akan berusaha menafsirkan ayat-ayat di atas. Saya letakkan mereka as is, dan berusaha menganalisa dhohir ayat tersebut saja.
Ada dua pertanyaan yang bisa muncul dari sini.
a. Apa bahasa Arab atau istilah Al Qur’an untuk “mengelilingi”?
b. Apakah dari delapan ayat tersebut ada secara eksplisit menyebutkan kata tersebut?
Pertanyaan pertama sudah pernah saya tanyakan kepada saudara Abu Hanif di blog Wahabisme, tapi tidak ada jawaban juga dari pertanyaan tersebut. Selanjutnya saya menanyakannya kepada saudara Antosalafy di blog Orgawam, pun masih tidak ada jawaban yang memuaskan, padahal katanya argument saya itu gampang saja untuk dipatahkan loh???
Ya sudah, saya cari sendiri jawabannya kalau begitu. Berikut yang sudah saya coba:
- Pertama, search keyword untuk kata “mengelilingi” dari kedelapan ayat di atas. hasil 0.
- Lalu search keyword yang sama “mengelilingi” di keseluruhan Al Qur’an digital, hasilnya juga 0.
- Coba padanan kata lainnya yang mungkin hampir sama dengan mengelilingi: mengitari, memutari, dan berkeliling, hasilnya, yang terdekat adalah THAWAF, yaitu gerakan berputar mengelilingi ka’bah. Apakah kata Thawaf bisa digunakan untuk “mengelilingi” secara umum, bukan hanya untuk Ka’bah? Well, pertanyaan saya yang ini saya serahkan pada kalian yang merasa ahli bahasa Arab. Mohon pencerahannya yaa…
- Kalaupun bisa, apakah kata Thawaf tadi tercantum secara eksplisit dalam kedelapan ayat di atas? Well, nyatanya tidak… Kata Thawaf hanya muncul dalam tiga ayat: Al Baqarah 125, Al Hajj 26 dan 29, yang kesemuanya berbicara dalam konteks Ka’bah…
- Apakah “beredar” sama dengan “mengelilingi”? Well, meski tidak sama persis, kata ini yang paling mendekati. Dua dari delapan ayat di atas memuat kata ini. Nah, apakah disebutkan beredar mengelilingi bumi? Tidak juga, hanya disebutkan secara eksplisit matahari dan bulan beredar di dalam / pada garis edarnya…
Jadi, so far, kita semua, mau tidak mau harus mengakui, seperti ujar Pak Agor kala menjawab komen saya, saya tidak menemukan kata dalam al Qur’an bahwa matahari mengelilingi bumi, tapi yang ada matahari dan bulan pada garis peredarannya. Sesuai kan dengan temuan saya? Atau ada yang memiliki temuan yang berbeda?
II. Teori Sains
Pertama-tama, mohon maaf kalau saya menjelaskannya secara serampangan, hanya berusaha menguraikannya sepemahaman saya, mohon koreksinya dari yang merasa ahli Fisika Astronomi yaaa…
Menurut doktrin teori astronomi, telah dijelaskan kalau matahari merupakan pusat dari tata surya (solar system), di mana planet-planet, sesuai kecepatan dan jaraknya masing-masing, beredar mengelilinginya, termasuk bumi. Sebenarnya bukan fisik mataharinya yang dikelilingi oleh planet-planet tersebut, tetapi gaya tarik (gravitasi) yang berada di pusat matahari, akibat dari massa-nya yang maha besar (jutaan kali lipat bumi) yang “mengikat” planet-planet sehingga tidak “terpental’ kesana kemari.
Lebih spesifik lagi, kalau kita membicarakan hubungan antara bumi dan matahari, maka bumi ditetapkan beredar mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari per satu putaran. Garis edar lintasannya berbentuk elips, tidak bulat penuh, yang berpengaruh pada jarak bumi terhadap matahari, yang juga berpengaruh pada iklim di bumi.
Kalau penjelasan saya dianggap kurang, berikut kutipan yang saya ambil dari sini:
Earth, the third planet of our solar system revolves around the Sun once every 365 1/4 days. The elliptical orbit of the earth varies from 91.5 million miles on January 3 called “perihelion”, to 94.5 million miles on July 4 called “aphelion” for an average earth-sun distance of 93 million miles. The elliptical path causes only small variations in the amount of solar radiation reaching the earth.
“Lah, kalo siang dan malam itu gimana? Itu kan kelihatan jelas kalau matahari muter, terbit di timur kala fajar, trus terbenam di barat pas maghrib? Itu kan artinya matahari yang muter?”
Well, itu karena, seperti matahari juga, bumi juga punya pusat massa, yang menjadi sumbu perputaran bumi pada porosnya. Fase ini berlangsung selama 24 jam, dengan kutub utara dan kutub selatan menjadi kedua ujung dari poros tersebut.
The Earth rotates at a uniform rate on its axis once every 24 hours. Turning in an eastward direction the Sun “rises” in the east and seemingly “travels” toward the west during the day. The Sun isn’t actually moving, it’s the eastward rotation towards the morning Sun that makes it appear that way. The Earth then rotates in the opposite direction to the apparent path of the Sun. Looking down from the North Pole yields a counterclockwise direction. From over the South Pole a clockwise direction of rotation occurs. You can demonstrate this by looking down at the North Pole of a counterclockwise rotating globe. Lift the globe while keeping it spinning in a counterclockwise direction and look at it from below.
“Wah, lalu kalau gitu kutub utara dan selatan gak bisa lihat matahari dong?”
Bisa, karena selain ber-revolve dan ber-rotate, bumi juga berinklinasi. Nah apa pula inklinasi ini? Ia adalah perputaran kecondongan posisi kedua kutub ini terhadap matahari, berhubung poros utara selatan ini tidak tegak lurus terhadap matahari. Hal ini mengakibatkan matahari bisa terbit selama hingga lebih dari tiga bulan berturut-turut di satu kutub, sementara di kutub lainnya matahari bisa tidak terbit selama hingga lebih dari tiga bulan berturut-turut juga (saat beruang kutub ber-hibernasi itu loh).
During the summer months, the North Pole experiences twenty-four hours of daylight daily, but during the winter months the North Pole experiences twenty-four hours of darkness daily. Sunrise and sunset do not occur in a twenty-four hour cycle. At the North Pole, sunrise begins at the Vernal equinox taking three months for the sun to reach its highest point at the summer solstice when sunset begins, taking three months to reach sunset at the Autumnal equinox. A similar effect can be observed at the South Pole, with a six-month difference. This day/night effect is in stark contrast to what is observed at the Equator.
This effect is caused by a combination of the Earth’s axial tilt and its revolution around the sun. The direction and angle of axial tilt of the Earth remains fairly constant (on a yearly basis) in its plane of revolution around the sun. Hence during the summer, the North Pole is always facing the sun’s rays but during the winter, it always faces away from the sun.
During the southern winter the South Pole receives no sunlight at all, and in summer the sun, though continuously above the horizon, is always low in the sky. Much of the sunlight that does reach the surface is reflected by the white snow. This lack of warmth from the sun, combined with the high altitude (about 2,800 meters), means that the South Pole has one of the coldest climates on earth. Temperatures at the South Pole are much lower than at the North Pole, primarily because the South Pole is located at altitude in the middle of a continental land mass, while the North Pole is at sea level in the middle of an ocean (which acts as a reservoir of heat).
Kejadian serupa terjadi pula di beberapa negara di skandinavia, seperti Norwegia dan Finlandia.
In areas north of the Arctic Circle, the summer sun may never completely descend beneath the horizon, hence Norway’s description as the “Land of the Midnight Sun.” During summer, inhabitants south of the Arctic Circle still experience sunlight nearly 20 of the day’s 24 hours.
At Finland’s northernmost point, the sun does not set for 73 consecutive days during summer, and does not rise at all for 51 days during winter.
Jadi, bumi melakukan tiga gerakan memutar sekaligus, revolusi, rotasi, dan inklinasi. Ketiga gerakan inilah yang berpengaruh langsung kepada pergantian siang dan malam, perubahan musim, iklim dan cuaca, juga angin dan tekanan udara.
“Waduh, tiga kali muter sekaligus? Apa ndak pusing? Buktinya kita kok diam aja, nggak ngerasa bergerak sampe 30 km per detik toh?”
Tau teori gerak relatif ndak? Fisika lagi nih… Intinya gini loh, anggaplah kita naik kereta ekspress super cepat macam TGV atau Shinkanshen, maka “seolah-olah” yang bergerak itu adalah gunung dan pohon-pohon di luar kereta kan? Sementara kita di dalam kereta duduk diam saja. Itulah esensi dari gerak relatif, kita tidak merasa kalau sedang bergerak, karena kita dan seisi kereta (bumi) sejatinya tengah bergerak sedang gunung dan pohon (matahari) justru yang oleh mata kita lihat “seolah-olah” bergerak.
Mas deKing sudah coba menjelaskannya kepada Pak Abdurrahman, sayang komennya dihapus sama adminnya… Hak prerogative sih, jadi saya tidak bisa mencampuri keputusan beliau (Pak Abdurrahman).
Lagipula, apakah pergantian siang dan malam sudah mencukupi dalam mendasari asumsi kalau matahari mengelilingi bumi? Lalu bagaimana dengan Mars? Venus? Jupiter dan planet-planet lainnya? Ternyata mereka mengalami pergantian siang dan malam juga kan?
Lalu apakah itu artinya matahari juga mengelilingi planet-planet tersebut? Bagaimana pola pergerakan matahari tersebut? Ada yang bisa menggambarkan betapa rumitnya?
Jadi apakah teori sains yang dikemukakan di sini bertentangan dengan Al Qur’an? Untuk kasus ini saya tidak melihat ada pertentangan karena Qur’an tidak secara eksplisit menyatakan kalau matahari mengelilingi bumi, pun tidak secara gamblang menentang teori kalau bumi mengelilingi matahari. Yang ada hanya verb “beredar”, “memasukkan”, dan “terbit/terbenam” kan?
Lalu apakah yang salah si pembuat fatwa? Nanti dulu, kita harus lihat dulu keseluruhan isi fatwa tersebut, dan latar belakang munculnya fatwa tersebut. Diskusi antara Mas Harry Sufehmi dengan Mas Syaiba saya rasa bisa menjawab pertanyaan ini. Diskusi tersebut saya kutip sebagian di bagian ketiga.
III. Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-’Utsaimin
Syaiba:
Yang perlu Antum perhatikan, Syekh Utsaimin tidak membuat statemen ilmu astronomi. Antum jangan terpengaruh dengan ‘kesan’ sang penulis terhadap pendapat Syekh Utsaimin. Sebaiknya baca sendiri bunyi fatwa beliau. beliau hanya menyatakan bahwa “dhohirul quran” menunjukkan bahwa “Matahari mengelilingi bumi”. Sedangkan informasi tentang pengamatan atau analisa yang menunjukkan bahwa bumi mengelilingi matahari, belum sampai ke beliau dengan meyakinkan (dari segi validitas informasinya maupun dari segi ketepatan konklusinya).
Jadi Syekh Utsaimin sudah berada pada posisi ilmiah yang tepat: “Mendahulukan yang lebih meyakinkan & lebih punya argumen daripada yang lebih lemah & lebih meragukan”.
Well.. kalau kita mengikuti diskusi-diskusi ini di dunia arab dan di kalangan murid-murid Syekh Utsaimin sendiri (baik yang pakar tafsir maupun yang pakar astronomi), kita akan menemukan suasana yang memang jauh lebih ilmiah, dibandingkan dengan yang terjadi dalam kasus buku kontroversial tersebut.
Paling tidak, ada tiga pendapat besar bagi mereka:
1. Matahari mengelilingi bumi (tanpa dinyatakan “secara ABSOLUT” ataukah “secara relatif”)
2. Bumi mengelingi matahari bersama planet-planet lainnya
3. “mengelilingi” dan “dikelingi” itu relatif. Sebagaimana “gerak” dan “diam” juga relatif. Jadi tidak bisa dipastikan secara absolut. Hanya bisa dinyatakan secara nisbi, atau dinyatakan dalam bahasa yang biasa (mis: “matahari sedang terbit di timur”, “matahari akan terbenam di tengah laut”).
Konsep heliosnetris (ataupun kosep “mengelilingi inti massa) sudah terkonfirmasi dengan berbagai pembuktian yang jelas.
Harry:
Syaiba - saya kutipkan ucapan syaikh Utsaimin :
Kami sampaikan bagi pengajar pelajaran geografi, jelaskan kepada para murid bahwa dzahir al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah menjelaskan bahwa malam dan siang terjadi akibat dari peredaran matahari terhadap bumi, bukan sebaliknya.
Jika para murid bertanya, mana yang harus kami ambil, apakah dzahir al-Qur’an dan as-Sunnah atau apa yang mereka (ahli falaq) anggap nyata bahwa (bumi mengitari matahari)?
Jawabnya, kita mengambil dzahir al-Qur’an dan as-Sunnah, karena al-Qur’an adalah Kalamullah I (ucapan Allah) yang telah menciptakan segala sesuatu, alam beserta segala isinya dan keadaanya, geraknya, dan diamnya. Firman-Nya adalah sebenar-benar perkataan dan paling jelas. Dia menurunkan al-Qur’an sebagai penjelas segala sesuatu. Allah mengabarkan bahwa Dia menjelaskannya kepada hamba agar mereka tidak tersesat.
Sedangkan as-Sunnah, ia adalah ucapan utusan Tuhan semesta alam. Makhluk yang paling tahu dengan hukum-hukum dan perbuatan Tuhan-Nya. Tidaklah berbicara tentang hal ini melainkan dengan wahyu dari Allah U, karena tidak ada jalan untuk mengetahuinya melainkan dengan wahyu.
Syaiba:
Tapi sayangnya antum justru memangkas kalimat-kalimat penting Syaikh Utsaimin yang menjelaskan background epistemologi beliau mengapa beliau berpendapat demikian. al:
Kesimpulan pendapat kami mengenai rotasi bumi adalah bahwa dia termasuk perkara yang tidak ditetapkan atau ditolak oleh al-Qur’an dan as-Sunnah.
…
Sedangkan pendapat kami seputar revolusi bumi, kami berpegang dengan dzahir al-Qur’an dan as-Sunnah yang menunjukkan bahwa matahari mengelillingi bumi yang berakibat pada adanya malam dan siang; sampai ada dalil pasti yang dapat dijadikan hujjah untuk memalingkan dzahir al-Qur’an dan as-Sunnah kepada pendapat bahwa bumi mengelilingi matahari, dan hal itu belum ada.
Yang wajib bagi seorang mukmin dalam perkara ini dan selainnya adalah berpegang dengan dzahir al-Qur’an dan as-Sunnah.
…
Mengenai apa yang dikatakan ahli falaq sekarang ini (bahwa bumi mengelilingi matahari), keterangannya belum mengantarkan kami sampai tingkat yakin, sehingga tidak dapat menolak dzahir al-Qur’an dan as-Sunnah nabi kami.
Jelas, beliau memilih pendapat pertama (yang lebih dekat dengan dhohirul Quran), sebab informasi mengenai revolusi bumi terhadap matahari atau inti massa tata surya, belum sampai ke beliau dengan meyakinkan.
Harry:
Syaiba - terimakasih sekali lagi atas waktu & usaha yang sudah Anda luangkan untuk klarifikasinya.
Satu baris kecil itu terlewat oleh saya ketika sedang membaca fatwa beliau : “…dia termasuk perkara yang tidak ditetapkan atau ditolak oleh al-Qur’an dan as-Sunnah”
Sepertinya, dengan menilik konteks Syaikh Utsaimin tersebut (belum sampainya informasi yang lengkap kepada beliau), maka bisa dimengerti kenapa beliau sampai memfatwakan demikian.
Saya tetap menyayangkan kenapa informasi yang sudah sangat sedemikian lazimnya (bumi mengelilingi matahari) bisa tidak sampai kepada beliau.
Tapi saya coba berbaik sangka saja, dan dengan konteks demikian maka beliau memang insyaAllah sudah pada posisi yang benar (walaupun fatwanya keliru), dan mudah-mudahan termasuk dalam mujtahid yang disebutkan dalam hadits Rasulullah saw.
Memang sekarang jadi muncul pertanyaan baru - kenapa penulis buku ini tidak lebih kritis, dan cuma mengambil mentah-mentah saja; sehingga jadi turut keliru.
Mudah-mudahan suatu saat penulisnya bisa turut mengklarifikasi kepada kita semua.
Syaiba:
Soal fatwa Syekh Utsaimin, memang itu lahir dari kurangnya informasi tentang bukti-bukti astronomis. Tapi ini sangat bisa dimaklumi. Kalau tidak salah, fatwa ini adalah jawaban spontan untuk pertanyaan spontan yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu (Jadi bukan hasil kajian). Dan itupun disampaikan di masa tua beliau, di mana sebelumnya beliau memang tidak terlalu mendalami detail-detail astronomi berikut argumen-argumen dari teori-teorinya.
Kekurangan ini wajar, sebab memang dalil-dalil astronomis untuk “Bumi mengelilingi Matahari” memang tidak sejelas dalil-dalil untuk “bulatnya bumi”. Dalil-dalilnya hanya diketahui oleh orang-orang yang mendalami astronomi. Yang diketahui oleh para murid di sekolah-sekolah umumnya hanyalah “konsepsi teori yang sudah jadi”, bukan argumentasinya.
Kalau untuk “bumi bulat”, ini sudah menjadi Ijma’ sejak zaman Para Sahabat, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Katsir rh.
Setahu saya, murid-murid Syekh Utsaimin sendiri (dan mayoritas ulama dan cendekiawan muda salafi di Timur Tengah) justru berpandangan beda dengan fatwa Syekh. Mereka sudah ramai mengkaji dan mendiskusikannya sejak dulu. Silakan ikuti pembahasannya di sini:
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=72769
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=72769&;page=2
di sini:
http://www.islamweb.net/ver2/Fatwa/ShowFatwa.php?lang=A&;Id=60279&;Option=FatwaId
http://www.islamweb.net/ver2/Fatwa/ShowFatwa.php?lang=A&;Id=12870&;Option=FatwaId
di sini:
http://www.ahlalthar.com/vb/showthread.php?t=1422
di sini:
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=76798
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=19691
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=61775
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=29780
yang ini:
http://arabconteng.host.sk/egypt_falak.rar
dan lebih ramenya di sini:
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=3794
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=3794&;page=2
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=3794&;page=3
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=3794&;page=4
Well, lumayan panjang, tapi sangat mencerahkan, at least buat saya. Sampai di sini saya sejujurnya menyesali pernah beranggapan kalau beliau sengaja membuat fatwa pembodohan, padahal kenyataannya hal ini hanyalah disebabkan oleh minimnya informasi yang beliau terima terkait astronomi. Selain itu, merujuk komentar Mas Syaiba, fatwa ini bukan hasil kajian, dan disampaikan di masa tua beliau, yang sebelumnya tidak mendalami astronomi beserta teori-teorinya.
Semoga ini bukan argumentum ad hominem atau character asinan terhadap pribadi Syaikh Utsaimin, pun seandainya ada yang menyanggah atau bersikeras menganggap fatwa beliau sebagai suatu keniscayaan (atau kepastian?), monggo disampaikan di halaman ini. Kalau ada yang juga punya fakta yang berbeda terkait latar belakang keluarnya fatwa ini, mohon dimasukkan referensinya yaa, saya terbuka untuk yang mau menaruh link (paling tidak sampai 4-5 link masih belum masuk akismet kok.).
IV. Jump to Conclusion
Oke, panjang lebar bikin tulisan, intinya apa aja?
- Telah jelas, kedelapan ayat di atas tidak ada yang secara eksplisit menyebutkan matahari mengelilingi bumi.
- Telah jelas, terlalu banyak bukti-bukti ilmiah sudah memperlihatkan, bahwa bumi-lah yang beredar mengelilingi pusat massa matahari, berputar pada porosnya, sekaligus berinklinasi. Hal ini telah pula berpengaruh pada penerapan di dunia nyata, seperti prakiraan cuaca, peluncuran satelit dan lain-lain.
- Telah jelas, dalam hal ini sains tidak bertentangan dengan Al Qur’an, sehingga tidak ada alasan bagi yang ingin menganggap mereka yang menentang MMB berarti menentang Al Qur’an, dan bahkan perlu dipertanyakan keimanannya (baca: dikafirkan).
- Fatwa ini muncul dari reaksi spontan atas pertanyaan spontan pula, sehingga bukan hasil kajian.
- Syaikh Utsaimin bukan orang yang mendalami ilmu astronomi.
So far, telah jelas buat saya mana yang bisa saya ambil sebagai patokan dalam memegang “kebenaran”. Henceforth, logika berpikir yang menganggap kalau yang menentang MMB adalah kekafiran merupakan logika yang meloncat-loncat dan terlalu mengada-ada.
V. Extra! Extra! Beberapa “Worth Considering Comments”
Berikut beberapa komentar menarik dari mereka yang pro, kontra, maupun netral dalam menyikapi masalah ini. Semoga komentar mereka yang saya muat di sini, pun masih banyak komentar di posting-posting dengan tema serupa bisa memperkaya khasanah berpikir kita.
Priyadi
kalau bicara soal relativitas, memang benda apa saja bisa dijadikan frame of reference. yang jadi masalah adalah kenapa kita pilih benda tersebut. kenapa harus bumi? kenapa bukan jupiter yang planet paling besar? kenapa matahari? matahari disini adalah yang paling pas karena massa-nya 99% (?) dari seluruh tata surya dan mungkin pergerakan planet-planet bisa digambarkan dengan lebih baik dan sederhana jika kita letakkan matahari sebagai frame of reference. kalau bumi kita jadikan frame of reference, mungkin semua perhitungan akan menjadi jauh lebih rumit.
matahari memang frame of reference yang tepat untuk ruang lingkup tata surya. tapi posisi tata surya juga bukan posisi yang ‘indah’ di dalam milky way. untuk ini, frame of reference yang tepat adalah blackhole yang berada di tengah2 milky way.
jadi kembali lagi ke masalah ‘keindahan’ dalam pemilihan frame of reference. seandainya nanti semua benda selestial sudah berhasil kita inventaris semua dan ternyata bumi berada di pusat titik berat, maka jika ternyata mengasumsikan bumi sebagai frame of reference tidak menyederhanakan masalah dalam ruang lingkup tata surya, maka tetap saja bukan bumi yang menjadi pusat tata surya.
pendeknya, kalau kita memutar2kan bola yang diikat pakai tali dengan menggunakan tangan, kita bisa saja menggunakan bola sebagai frame of reference. atau kalau kita menghitung sebuah mobil yang bergerak, bisa saja kita pakai mobil sebagai frame of reference, dan bumi yang bergerak relatif terhadap mobil.
tapi kenapa harus susah2? penjelasan yang paling simpel biasanya yang paling benar™hanan
Saya sudah membaca buku tersebut dan buku tersebut bahkan sudah dibedah di ITS, tentunya dengan sangat percaya diri , ustadz Ahmad Sabiq akan memaparkan banyak dalil baik aqli maupun naqli. Dan seperti kita ketahui ITS merupakan kampus yang cukup terkemuka di indonesia. Akan tetapi sebenarnya bagi saya cukuplah dalil dari Al-quran dan sunnah, tanpa perlu pendapat manusia. Bukankah teori Darwin yang meskipun diajarkan di sekolah-sekolah ternyata dengan amat sangat mudah untuk di bantah? Bahkan untuk saat ini teori darwin sudah runtuh.
Disamping membantah teori Heliosentris sebenarnya di buku tersebut juga membantah bahwa bumi berotasi , dikatakan bahwa bumi adalah diam dan ini sangat masuk akal. sebagaimana Firman Allah “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan bergeser; dan sungguh jika keduanya bergeser tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun. ” Surat AlFathir :41.
Ustadz juga menanyakan bagaimana mungkin Bumi berotasi dengan kecepatan 30 km/detik sebagaimana dikatakan oleh para ahli, sedang hanya bergeser sebagian dari bumi saja sudah sangat besar dampaknya, masih ingatkah kita terjadinya gempa di Aceh dan juga di Jogya? Bagaimana kalau bumi berotasi dengan kecepatan 30 km/detik, tentunya akan berterbangan apa yang ada dibumi.
Juga pertanyaan dari saya, seandainya bumi berputar pada porosnya, maka daerah yang dekat dengan poros mungkin dekat kutub utara dan selatan akan menjadi sumbu, yang tentu saja akan mengalami perputaran lebih cepat dari daerah lain.
Begitu juga bila kita naik pesawat tentulah akan ada perbedaan waktu tempuh bila kita terbang dari surabaya ke Jakarta daripada sebaliknya dari jakarta ke surabaya, bukankah bumi itu berotasi, atau bahkan kita tidak pernah sampai ke Surabaya atau Jakarta, karena perputaran bumi lebih cepat dari kecepatan pesawat terbang. Tolong jelaskan karena inilah yang mudah dipahami oleh akal dan perasaan manusia.
Dalam memahami ayat-ayat Al-Quran seharusnya kita mengembalikan kepada ulama’ Ahli tafsir, semisal Ibnu Katsir, Ibnu Jarir Athabari dan lain-lain, bukan kepada selainnya. Saya pikir Mas Hari secara tidak jujur menukil hanya surat Al Anbiya’ :33 yang dijadikan dalil oleh Ustadz Sabiq, padahal ada beberapa ayat bahkan 8 ayat dan 2 hadist Rasullullah. Salah satunya adalah ayat “Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan: Al An’am ayat 78. Ustadz menerangkan dengan pengetahuan bahasa Arab yang baik “Di sini Allah menjadikan gerakan terbit dan terbenam itu oleh matahari, seandainya bumi yang bergerak rotasi maka seharusnya ayat itu bukan dengan lafadz “Afalat” “matahari terbenam akan tetapi dengan lafadz “falama afala ‘anhaa” maka tatkala ada sesuatu yang membuat matahari itu bergerak hilang”.
Sebaiknya kita baca buku tersebut dengan lapang dada tidak dengan sesak dada hanya karena cuma bergelar Lc dan beliau ini amat sangat muda setahu saya usianya belum genap 30 tahun, akan tetapi bagaimana hujjah itu ditegakkan dengan dalil Alquran dan sunnah, maka bagi seorang muslim itu sudah cukup.
Kalau kita katakan bahwa Ustadz hanya taklid pada para ulama, saya katakan tidak, karena beliau mengetahui dalilnya dengan sangat baik. Taqlid adalah mengikuti seseorang tanpa mau tahu dalil.
Dan menurut saya Mas Harri-lah yang taklid kepada ilmuwan-ilmuwan kafir, tanpa meneliti lebih jauh.
Kalau saya ditanya kira-kira siapa yang lebih pantas diikuti dalam menafsirkan alquran apakah Syaikh Utsamin Rahimahullah atau Ustadz Ahmad Sarwat? Maka saya akan memilih Syaikh Utsamin, karena secara keilmuan dalam dien tidak bisa dibandingkan. Coba saya tanya berapa kitab yang dikarang oleh Ustadz Ahmad tanpa merendahkan beliau, dibandingkan dengan dengan Syaikh Utsaimin, seorang ulama besar Arab Saudi? Kalau terhadap penyakit kita bertanya kepada dokter spesialis bahkan sub spesialis kenapa untuk urusan dien kita tidak bertanya kepada ulama’ yang ‘alim?
Disamping saya melihat jawaban Ustadz Ahmad menunjukkan keraguan beliau.
Kalau Mas Hari mengatakan bahwa semua yang dikatakan Ustadz penuh dengan kesombongan, maka apa yang Mas Hari katakan bukankah juga kesombongan yang lebih parah, dengan celaan yang kurang adab. dan yang Mas hari kira sebagai kesombongan hanyalah persepsi Mas Hari, tetapi menurut saya bukan kesombongan, Karena kesombongan menurut Rassulullah adalah ” Menolak kebenaran dan merendahkan orang lain”. Semoga Allah memperbaiki diri kita dan kaum muslimin seluruhnya.
Wallahu ‘alam.
hananibnu syamsu
Subhanallah… mudah2an bahasan tentang hal keduniaan ini tidaklah menjadikan kita semua saling berdebat… setiap orang memiliki kemampuan berfikir yg berbeda, dan jg takaran hidayah yg berbeda, mari berlapang dada dan sabar atas perselisihan dalam hal yg bukan pokok AdDien ini….
Berikut poin2 yg saya ingin sampaikan:
Pertama, belum ada satu dalil pun ditemukan yg secara tegas menyatakan bahwa “Matahari mengelilingi bumi”. Walaupun ada dalilnya atau pemahaman atas dalil (seperti buku tsb), maka itupun sudah dipastikan BENAR, karena memang matahari TERLIHAT mengelilingi bumi bagi kita manusia yg tinggal di bumi. Sama seperti halnya dengan bulan yg KELIHATAN mengelilingi bumi. Tapi coba bayangkan jika kita di berada di matahari/bulan, bukankah kita akan MELIHAT bumi yg mengelilingi kita??? Dan definisi “MENGELILINGI” dalam kedua kasus tsb adalah BENAR menurut akal sehat pun, karena RELATIF dimana kita berada (di bumi atau di matahari). Konsep RELATIF inilah intinya.
Kedua, fakta bahwa sebenarnya ilmu fisika/astronomi/gravitasi TIDAK PERNAH menyatakan bahwa “Bumi mengelilingi matahari” secara ABSOLUT, tapi menyatakan bahwa pergerakan (termasuk mengelilingi) itu adalah RELATIF karena TIDAK ADA KERANGKA ACUAN YANG ABSOLUT DI ALAM SEMESTA INI, KECUALI JIKA KITA MENDEFINISIKANNYA. Ini adalah sebuah kebenaran yg mudah dibuktikan seperti kasus relatifnya penglihatan kita ketika kita berada di bumi (kerangka acuannya bumi) atau di matahari (kerangka acuannya matahari).
(alangkah akan sangat baiknya buku tsb jika penulis memahami konsep gerak relatif ini)
Lalu bagaimana hakikat pergerakan sebenarnya kalau dilihat dari sebuah kerangka acuan yg ABSOLUT (artinya kita berada di suatu tempat yg benar tidak bergerak sama sekali terhadap bumi atau matahari)?? akan terlihat seperti apakah pergerakan bumi dan matahari?
Perhitungan dan eksperimen ilmu gravitasi membuktikan bahwa ternyata bumi dan matahari mengelilingi PUSAT MASSA bumi dan matahari (alangkah baiknya jg penulis buku tsb memahami jg konsep pusat massa ini). Jadi SECARA ABSOLUT, MATAHARI DAN BUMI SEBENARNYA MENGELILINGI PUSAT MASSA SISTEM MATAHARI-BUMI tersebut.
Dimanakah letak pusat massa tsb? pusat massa lebih dekat kepada benda yg lebih bermassa (lebih berat), dan makanya itu letaknya akan lebih mendekat matahari yg sangat jauh lebih berat drpd bumi, bahkan jarak matahari dan pusat massa sangat jauh lebih dekat daripada jarak matahari dan bumi, sehingga bumi akan lebih terlihat mengelilingi matahari, padahal mengelilingi pusat massa yg sangat dekat dengan matahari.
Kenyataanya kita tidak bisa mempertimbangkan hanya sistem matahari-bumi ini saja, karena kenyataanya ada planet2 yg lainnya dalam tata surya (matahari yg terbesar) ini, yg tentunya akan mempengaruhi kesimpulan tentang gerak ABSOLUT di atas. Naah, kalau kita berbicara tentang sistem tata surya sebagai kerangka acuan, maka sistem tata surya inipun sebenarnya mengelilingi PUSAT MASSAnya, yg lagi2 pusat massanya sangat dekat dengan matahari dikarenakan massa matahari yg masih sangat besar dibanding keseluruhan planet2 yg ada di sekitarnya. Karena itulah matahari seolah-olah seperti pusat tata surya, padahal bukan.
Ilustrasinya dapat diperluas kepada sistem yg lebih luas daripada sistem tata-surya, misalnya sistem galaxi, dimana banyak bintang2 lainnya yg seperti matahari, bahkan lebih besar lagi. Bagaimanakah pergerakan sistem galaxi tsb?? kembali lg kpd sistem pusat massa sebagai pusat edarannya, dan tentunya penentuan letak pusat massa sistem galaxi ini akan lebihh kompleks lagi dibandingkan sistem tata surya.
Kesimpulan, titik temu akan terlahir jika kita semua mendefinisikan KERANGKA ACUAN yang SAMA, yaitu “darimana kita melihat pergerakannya”, karena dengan begitu kita akan memiliki kesimpulan yg sama tentang DEFINISI PERGERAKAN.
Juga, akan menjadi sebuah buku yg bagus jika penulis buku tsb jg faham atas ilmu fisika/astronomi yg menjadi rujukan para ahli fisika/astronomi dalam mengambil kesimpulannya. Dan lebih bagus lg jika penulis memaparkan hujjah2nya dengan lebih ilmiah (disertai eksperimen yg dapat diterima khalayak awam) sehingga lebih difahami oleh semua kalangan, termasuk para ahli2 fisika/astronimi yg ada.
Wallahua’lam
ibnu_syamsuMutoha MMC
Inilah akibat kita ‘buta’ ilmu falak/astronomi sebab di negri ini memang astronomi masih asing dan sebatas hanya hapalan nama2 planet…! Akibatnya pengetahuan mengenai perkembangan astronomi hanya didominasi oleh kalangan akademisi saja (bahkan mungkij cuman di ITB) sehingga kita masyarakat awam tidak banyak yang faham. Nah hal ini menyebabkan kita mudah dipengaruhi oleh fahaman / tafsir2 yang menyesatkan!! yang sengaja digulirkan oleh oknum2 / penerbit demi keuntungannya pribadi (bukunya laris!!!!)
Berita inipun sempat masuk milis astronomi….
Lah apa maunya??
Saya jadi curiga jangan memang penulisnya sengaja membua opini agar bukunya laris???? Tapiiiii….. inikan memalukan umat Islam (termasuk saya..). Apalagi membawa embel2 “kepastian”?????? Nah buat penerbit dan pengarangnya…. sudahkah anda fikirkan apa akibat dari larisnya buku yang anda terbitkan….. Anda memang mendapat banyak rezeki dari Judul Buku??? tapi tolong… jangan bawa kata2 “KEPASTIAN” sungguh saya tidak terima… nabi saja tidak pernah demikian…..
Ohhh.. mengapa peristiwa memalukan ini bisa terjadi…???????
Hormat saya,
Mutoha
Jogja Astronomi Club (JAC)
Yogyakarta - Indonesia
http://groups.yahoo.com/goup/jogja_astroclub/
“Turut Memasyarakatkan Astronomi di Indonesia”
================================T. Djamaluddin
Saya tidak terlalu risau dengan “teori” penulis yang awam dengan topik yang ditulisnya, sama halnya saya tidak terlalu risau dengan “teori” menentang Teori Evolusi dari Harun Yahya yang juga awam untuk topik teori evolusi sesungguhnya dalam sains (Teori Evolusi secara awam hanyalah “manusia hasil evolusi dari monyet”, aspek yang tidak secara eksplisit dibahas dalam teori evolusi sesungguhnya). Berargumentasi dengan mereka juga susah karena kerangka pijakannya berbeda. Mereka punya pijakan sendiri, yang berbeda dari sains. Termasuk ada dikhotomi “kafir” versus “Muslim”, padahal dalam sains tidak mungkin ada dikhotomi. Sains yang berlaku hanya untuk Muslim, bukanlah sains. Demikian juga sains yang hanya berlaku untuk kafir, juga bukan sains. Sub judul “kepastian al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan terhadap teori bumi mengelilingi matahari” saya pandang sekadar penarik agar orang penasaran, walau pembaca yang cermat akan kecewa karena tidak adanya kepastian ayat-ayat atau hadits yang secara eksplisit menyebutkan matahari mengelilingi bumi. Semuanya kembali kepada penafsiran. Untuk menilai penafsiran, kita harus tahu latar belakang penulisnya. Ahli bahasa Arab dan ilmu Al-Quran dan Hadits, belum tentu ahli dalam aspek fisik fenomena alam yang ditafsirkan dari ayat atau hadits tersebut. Bagi saya, biarlah buku “Matahari Mengelilingi Bumi” itu dianggap tafsir bahasa, bukan tafsir fenomena alamnya. Terlalu banyak fakta sains yang harus ditunjukkan untuk membantahnya.
Berikut ini satu paragraf kata pengantar saya dalam buku yang saya tulis “Menjelajah Keluasan Langit Menembus Kedalaman AlQuran” (Penerbit Khazanah, Grup Percikan Iman, Bandung 2006 — Kalau berminat, tersedia juga di Gramedia):
“Tulisan-tulisan saya yang terserak sebagai artikel lepas, ingin mengajak masyarakat untuk mendudukkan sains pada tempatnya, terutama untuk mengungkap berbagai fenomena alam. Mengkaji sains atau bahkan mengkritiknya juga harus dengan perangkat sains. Tidak bisa sains dibantah dengan ilmu lain, misalnya sosiologi atau filsafat, termasuk juga dengan penafsiran yang mengatasnamakan kebenaran hakiki ayat-ayat Al-Quran. Pada tulisan-tulisan saya, ayat-ayat Al-Quran juga ingin ditempatkan pada posisi seharusnya sebagai sumber kebenaran mutlak yang harus dibedakan dari penafsiran yang kebenarannya relatif. Kalau pun ada kecocokan antara pemahaman sains dan penafsiran Al-Quran, hal itu harus dianggap sekadar isyarat Allah dalam menunjukkan kebenaran Al-Quran, bukan sebagai bukti kecocokan Al-Quran dengan suatu teori sains.”Mas Agor, kalau penafsiran ayat seperti di sini bisa dianggap picik juga ndak?
@
Wah, saya tidak dalam posisi “menghakimi”. Yang pertama, kalau tidak salah ada hadis bilang :”…kembalikan saja semua kepada ahlinya”. Yang kedua, saya tidak menemukan kata dalam al Qur’an bahwa matahari mengelilingi bumi, tapi yang ada matahari dan bulan pada garis peredarannya. Jadi matahari jelas dinyatakan bergerak pada garis peredarannya, seperti juga bulan.
QS 13:2 Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
Dalam usaha memahami ayat al Qur’an, saya berusaha meminimalisir tafsir, tapi berusaha memahami apa adanya saja. Oleh karena itu, ketika :”saya berpendapat” pada posting-posting yang saya lakukan, saya usahakan hanya bertumpu pada apa yang Allah nyatakan pada Al Qur’an.
QS 6:114. Maka patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu dengan terperinci? Orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu-ragu.
Sedangkan sebuah wacana :”bumi mengelilingi matahari”, dengan kata lain : “memahami pusat” bisa didekati dari ragam pola berpikir.
Pusat mode –>Paris
Pusat peribadatan –> Mekkah (semua ummat muslim beribadah ke arah mekah dari segala arah di permukaan bumi).
Pusat tata surya –> Matahari.
Pusat kehidupan di tata surya untuk mahluk berakal ->Bumi.
Pusat bumi (earth) –> inti bumi (pusat lingkaran bumi).
Pusat alam semesta seluruhnya –>diduga bigbang, … dahulunya satu kemudian dipisahkan (QS 21:30)
Jelas di Al Qur’an, pusat perhatian dalam penjelasannya berada di bumi. Memerincikan posisi manusia yang tinggal di bumi, banyak ayat yang menunjukkan pusat pengelihatan adalah posisi kita relatif terhadap sekitarnya. Misalnya, pada ayat :
QS 18:86. Hingga apabila dia telah sampai ketempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.
Perhatikan kata : melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam
Kata melihat menunjukkan posisi pengamat terhadap objeknya. Jadi betul-betul posisi relatif. Begitu juga dalam ayat yang posisinya lebih luas dijelaskannya bulan dan matahari (bukan bulan, bumi, dan matahari).
Melakukan komparasi harus berada pada konteksnya. Jadi membandingkan dengan kopernikus untuk pengertian posisi bulan dan matahari (tata surya), sedang ayat menjelaskan matahari dan bulan pada peredarannya saya kira menurut ilmu astronomi nggak begitu (saya bukan astronom), karena kopernikus bicara tentang pusat pergerakan di tata surya, sedangkan ayat itu bicara soal matahari yang bergerak pada garis edarnya, sedangkan Zulkarnaen (pada QS 18:86) jelas berada pada posisi dia berada di bumi dan melihat matahari.
Akhirnya, betul sekali : serahkan pada ahlinya, jangan mudah mengambil kesimpulan terhadap apa yang menjadi “pemahaman”. Peringatan untuk saya, khususnya yang sedang belajar memahami.
Oh ya, dalam konteks yang tidak berhubungan dengan Al Qur’an dan hadis; saya main kutip saja, main di level persepsi-persepsi juga.
Salam, agor.Abul Izz
Assalammualaikum
Jazakumullah khair atas artikelnya…
Ana dulu waktu diberitahu ustadz ana bahwa matahari mengelilingi bumi, masih belum percaya karena di sekolah diajarkan doktrin bahwa bumi yang mengelilingi matahari.
Subhanallah dengan membaca artikel ini ana menjadi yakin bahwa matahari yang mengelilingi bumi..
Kepada para pengkritik artikel ini…
Hendaknya kalian sadar…berapa sih kapasitas otak kita?Tidak mungkin kita bisa menyaingi Ar Rahman.apa kalian tahu semua rahasia yang ada di alam semesta ini?Apa kalian bisa membuat alam semsta ini?atau hanya seekor lalat?apakah kalian tidak berfikir?
Banyak hal-hal yang belum terbayangkan 100 tahun yang lalu tapi ternyata terbukti kebenarannya..Evy
Jamannya copernicus..opo siapa tuh pemikir europe saat sing dibunuh oleh gereja.. lali aku..dari jaman dulu banyak pemikiran tg bumi itu datar bukan bulat.. trus columbus membuktikan bumi bulat..
Kemudian ada pemikiran bumi mrpk pusat alam.. sing lain muterin bumi.. termasuk matahari dan bulan serta planet lain.. ini juga pernah jadi pemikirannya kristen, dan dianut cukup lama.. sampe semua pemikir saat itu sing berseberangan dg gereja mereka bunuh.. ada bukti2 sejarahnya… khan pak?
trus.. setelah itu baru muncul pemikiran bahwa mataharilah sing menjadi pusat satu susunan tata surya.. dan..tata surya merupakan bagian dari galaxi.. di dalam galaxi..terdapat banyak matahari dg susunan tata surya yg mengikutinya..
trus.. didalam alam semesta ini terdapat ribuan tata surya.. dst…
Dalam Al-Qur;an sudah disebutkan bahwa alam itu luas.. bumi merupakan bagian kecil saja dari alam.. semua planet bergerak mengikuti sunnahtullah.. hukum Allah..dan dari penelitian terakhir..sepertinya masih tetep kalo matahari itu dikeliling bumi.
@
Jaman kegelapan Eropa menyadarkan bangsa Eropa kemudian untuk tidak tenggelam dalam alam kebodohan.
Yap… ya betul, alam luas sekali. Bahkan dibalik batas berarti ada ruang lagi. Jadi tak terbayangkan ya… Bagaimana Allah menyusun ciptaanNya. Padahal hanya di bumi saja, sudah ada milyar-milyar-milyar mahluk hidup (lebih dari 5 kali 10^30).
Soal tatasurya (bumi mengelilingi matahari), yah… mau bagaimana lagi. Memahami ayat dan mengkombinasikan dengan pengetahuan tentang gravitasi, pusat perputaran, gaya-gaya… memang bukan bidang ulama (kecuali tentunya ulama yang kompeten pada bidang ilmu pengetahuan, yang sekolah dan pengetahuannya ada pada garis yang sesuai). Mereka tidak banyak, tapi jelas ada…..Raffaell Assalamu’alaikum,
Kalau boleh saya minta penjelasan dari sisi ilmiahnya, teoritisnya, hitung hitunganya, dan matematis nya, supaya bisa membuktikan pendapat anda.
Wa ‘alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh.
Ilmiah,apa makna ilmiah dalam pandangan anda? Imiah dalam pandangan kami adalah berdalil dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan atsar sahabat. Sedangkan secara teoritis atau selainnya hal itu bisa benar jg bisa salah.Barokallahu fiik.
Kuwait, 15 Rabi’ul Awwal 1428 - 2April 2007Abumaulid
Terima kasih kunjungan dan komentar di blog saya. Namun, hal seperti ini saya lebih percaya dan yakin kepada apa yang dibawakan oleh dalil Alquran dan hadits shohih, seperti yang telah ditulis oleh syaikh muhammad shalih al utsaimin. Adapun yang antum tulis di atas masih sebatas simulasi (tiruan) dan belum menerangkan yang sebenarnya dengan argumen yang bisa menyanggah dalil dari Alquran dan hadits shahih karena masih mengandalkan sains. Padahal ilmu sains itu berkembang dan bisa berubah. Dan sebagai seorang muslim, saya mengedepankan Alquran dan hadits shahih. Adapun penemuan sains atau teknologi baru jika itu bertentangan dengan Alquran dan hadits shahih maka akan saya tolak (seperti kasus BMM di atas).–>Terima kasih kembali.. maaf terlambat. Ehh .. tahu2 sdh banyak yg reply.
Ada beberapa hal yang perlu ditanggapi,
1. Tidak ada dalam dalil (Quran n hadits) yang mengatakan bahwa MMB. Sehingga tidak salah kami meyakini BMM. Dan tidak beralasan men-cap sesat (atau kafir) kepada muslimin yang tidak meyakini MMB.
2. Memang simulasi di atas adalah tiruan. Tapi simulasi itu adalah miniatur dari kenyataan alam jagad raya ini, dibuat berdasar perhitungan dan konsep-konsep data-data ilmiah ilmu pengetahuan yang ada.
3. Walaupun anda mengingkari adanya konsep BMM, tetapi adalah suatu kenyataan bahwa kita saat ini hidup dan menggunakan teknologi yang dikembangkan dari konsep BMM. Apakah akan diingkari juga kenyataan ini?wallahu a’lam
Heri Setiawan
ilustrasi itu memang tidak membuka apapun ya karena memang itu cuma ilustrasi. Masalah ini memang membingungkan… kalau memang ada video “asli” yang menunjukkan bahwa bumi itu berputar atau matahari itu yang mengelilingi bumi tentunya akan sangat bagus.Kalau ada bukti bahwa bumi itu berputar tolong di-share dunk agar masalah semakin jelas.
Saya meyakini bumi berputar karena beberapa pertimbangah:
1. memang ahlinya bilang seperti itu
2. ternjadinya angin
3. “asumsi” huru-hara ketika kiamat dimana diceritakan guning2 beterbangan dan saya kira itu ada hubungannya dengan rotasi bumi yg dihentikan secara mendadak
4. adanya satelit yang diluncurkan ke angkasa dimana dikatakan bahwa gerak satelit disesuaikan dengan pergerakan rotasi bumi sehingga satelit tetab berada pada orbitnya.–> salam kenal mas heri..
Sangat pesimis untuk mendapatkan video asli. Mungkin butuh waktu ratusan (bahkan ribuan) tahun untuk mengirim kamera hanya untuk merekam gerakan tata surya dari jauh seperti di atas. Ilustrasi di atas memang hanya ilustrasi. Tetapi menurut kami, itu sudah mewakili dan membuka kemudahan bagi kita untuk memahami konsep gerakan tata surya kita.Dan ahlinya memang berkata demikian (BMM dan bumi berputar pada porosnya). (Salah satu dari) ahlinya ini pulalah yang membuat ilustrasi ini dalam bentuk software. Software yang sama meramalkan terjadinya Gerhana Bulan kemarin, adanya komet Mc Naught (bener gak nihh tulisannya) beberapa waktu yg lalu, dll, yang terbukti (hampir) selalu tepat.
Saya setuju .. ilustrasi (atau software) ini bukan segala-galanya. Tapi menolak sama sekali adalah sesuatu yang Naif.
wallahu a’lam.
somedude
sayang sekali yah, ulama yg punya nama sebesar Syaikh bin baz & Ibnu utsaimin secara nggak langsung mendorong pembodohan umat Islam dengan fatwa2 mereka yang bertentangan dengan kenyataan. Parahnya lagi para pengikutnya nggak mau tau & ikut membabi buta.Perkara yg udah jelas & terbukti secara ilmiah kok masih ditafsir-tafsir …
matahari mengelilingi bumi? IDIOT, absolutely idiot.
hhh … mo jadi apa nih umat Islam kalo nurutin wahabi …
Abu Salafy II
BUMI MENGELILINGI MATAHARI ATAU MATAHARI MENGELILINGI BUMI?DARI KECIL KITA DIAJARKAN DENGAN TEORI-TEORI ILMIYAH BAHWA BUMI MENGELILINGI MATAHARI. NAMUN RUPANYA DALAM ISLAM ADA ISYARAT BAHWA MATAHARILAH YANG MENGELILINGI BUMI DENGAN ISYARAT DARI DALIL ALQURAN DAN SUNNAH NABI.
ADA CONTOH LAIN DALAM HAL INI
DI ILMU BIOLOGI MANUSIA ITU BERASAL ATAU BERNENEK MOYANG DARI KERA BERDASARKAN TEORI-TEORI ILMIYAH MANUSIA. NAMUN RUPANYA DALAM ISLAM ADA PETUNJUK BAHWA NENEK MOYANG MANUSIA ADALAH MANUSIA JUGA YAITU ADAM AS.
JADI SAYA BERKESIMPULAN :
1. YANG BERPENDAPAT BUMI MENGELILINGI MATAHARI, DIA ITU NENEK MOYANGNYA ADALAH KERA.
2. YANG BERPENDAPAT MATAHARI MENGELILINGI BUMI, DIA ITU NENEK MOYANGNYA ADALAH ADAM AS.TERIMA KASIH TELAH MEMBACA KESIMPULAN SAYA.
Abu Salafy:
Kesimpulan yang hebat, andai kera-kera tahu kesimpulan anda itu pasti mereka mendukung anda.
VI. Closing
Bumi Mengelilingi Matahari bukanlah doktrin, tetapi bukti ilmiah yang didapatkan dari hasil pengamatan banyak ilmuwan selama ratusan tahun. Copernicus telah berabad-abad lalu menentang DOKTRIN gereja, dan dihukum mati karenanya. Galileo juga dipenjara untuk kasus yang serupa. Apakah kita mau mengikuti piciknya gereja abad pertengahan, masa dark age dulu dengan justru mendukung doktrin yang sama dan bersifat dogmatis karenanya? Apakah logika harus diputar balikkan hanya demi taklid buta pada fatwa ulama?
Sementara agama sebelah sudah berusaha melakukan sinkronisasi terhadap sains, dan imbasnya barat memperoleh kemajuan di bidang teknologi, apakah kita, umat muslim, justru mau menjatuhkan diri ke lubang kenistaan dengan berdebat kusir, saling hujat, saling ejek, dan mengafirkan satu sama lain hanya karena persepsi yang sempit dan picik?
Saya sih tidak mau! Masih banyak problema umat yang harusnya bisa kita pecahkan bersama-sama. Kemiskinan, kemelaratan, minimnya akses informasi, harusnya itu semua justru bisa kita atasi agar umat ini bisa maju BERSAMA.
Oleh karena itu, setelah posting ini, sikap saya terhadap yang mana yang benar antara MMB atau BMM saya rasa sudah cukup jelas. Saya tidak akan bersikeras lagi di blog orang untuk mempertahankan pendapat saya. Cukup semuanya akan saya lokalisasikan di sini, di posting ini.
Terima kasih, kalau anda telah membaca semua tulisan ini sampai habis.
All truths are easy to understand once they are discovered; the point is to discover them. (Galileo Galilei)
I do not know what I may appear to the world; but to myself I seem to have been only like a boy playing on the seashore, and diverting myself in now and then finding a smoother pebble or a prettier shell than ordinary, whilst the great ocean of truth lay all undiscovered before me. (Isaac Newton)





32 tanggapan so far ↓
Amed // 27 Oktober, 2007 pada 5:55 pm
Posting (beneran) pertama di rumah baru
Posting pertama yang pake read more
Posting terpanjang
Posting paling banyak link
…
Semoga tidak menjadi
Posting paling bikin pusying…
Amin..
rozenesia // 27 Oktober, 2007 pada 6:30 pm
Sumpah, saya nggak nyampah!!Saya sih memposisikan diri sebagai orang yang belum begitu mendalami agama maupun sains. Awam lah istilahnya. Di mana orang awam kayak saya, jika ada sebuah doktrin dari ahli agama, dan yang didoktrinkan itu sifatnya bisa dilihat oleh mata dan bisa dibuktikan (dalam hal ini, sains berperan), ya ada baiknya doktrin itu dikaji dengan sains. Saya rasa memang, jangan menuhankan akal, namun alangkah nggak pantasnya kita menyianyiakan akal pemberian Tuhan dengan langsung menerima tanpa ada telaah yang kebetulan bisa disangkutkan dengan hal lain semacam filsafat dan sains. Iman, ya itu penting, namun keimanan yang benar-benar murni saya rasa bukan langsung percaya begitu saja tanpa ada kajian yang nyata.
Agama emang absolut, katanya…tapi IMHO, nggak sesulit itu lah. Tuhan mempersulit manusia? Benarkah?
Saya sih balik ke mbah Einstein..
“Knowledge without religion is blind, religion without knowledge is lame..”
agorsiloku // 27 Oktober, 2007 pada 6:33 pm
Ha.ha…ha.. tetap juga masih merupakan bahasan yang menarik. Kesimpulan bahwa matahari mengelilingi bumi adalah kesimpulan dari tafsir Al Qur’an, sedangkan kesimpulan bahwa bumi mengelilingi matahari adalah kesimpulan yang didasarkan metodologi sains. Terpikir juga
Al Qur’an sebagai sumber sains?
Karena para ulama “itu” menafsirkan problematika kosmologi dari sisi Al Qur’an, maka menarik kesimpulan begitu rupa. Tepatkah?. Kalau boleh saya kritisi, Al Qur’an tidak merujuk agar manusia beriman melihat pada Al Qur’an untuk melihat dan mempelajari sains, tapi kita disuruh melihat kalam Allah itu melalui pengamatan.
(QS 67. Al Mulk 3)
Namun toh, seperti kutipan di atas ada juga toh yang bisa menyimpulkan :
YANG BERPENDAPAT BUMI MENGELILINGI MATAHARI, DIA ITU NENEK MOYANGNYA ADALAH KERA.
Nah, kalau begitu… tentulah yang muncul rasa marah dalam hati beliau sehingga manusia lain yang notabene sama-sama ciptaan Sang Maha Kuasa juga, karena berbeda kesimpulan maka disimpulkan nenek moyangnya adalah kera.
Inilah salah satu tipikal kita yang tidak usah diperpanjang (karena debat kusir) dan ini akan semakin jauh dari kebenaran.
Tipikal lainnya, kita anggap dua-duanya benar.. –> Toleransi yang sebenarnya salah kaprah. Kalau pendekatan ini diambil, maka jawabnya.. bagaimana kalau di hari-hari ganjil MMB dan di hari-hari genap BMM
All of all, sebuah perdebatan/diskusi/wacana akan bernilai jika kita mengarifinya. Dengan begitu, jadi sedekah, jadi pahala. Dan seorang saintis, seperti juga ulama tak boleh ragu untuk mengakui kebenaran dan menerimanya.
Adakah jalan untuk mengerti posisi kesimpulan masing-masing dan mengoreksi arti PUSAT?.
Shelling Ford // 27 Oktober, 2007 pada 6:36 pm
sobrun…
lagi belum sempat mempelajari isi tulisan di atas. butuh waktu. mohon maklum, ini kan malam minggu
cK // 27 Oktober, 2007 pada 11:29 pm
maaf, cK sedang sibuk. ndak sempat baca postingan
yang panjang naujubillah. absen aja ya…hoek // 28 Oktober, 2007 pada 10:51 am
*ngliad omeng diatas*
ARGGHH!! BANG AMED! cK NYAMFAH TUH! NYAMFAH!!! AFUS TUH BANG AMED! AFUS!!!!!
__________
ahem…ndak bole OOT khan?
ahemm…saia juga heran, kenafa orang-orang kek mereka ngurusin soal bumi, matahari dan keliling-keliling…kek ndak ada kerjaan laen..
alex // 28 Oktober, 2007 pada 1:56 pm
Wah! Udah main peng-kera-kera-an begini ya?!
Saya juga bisa donk ngomong sebaliknya, secara sampai hari ini saya masih percaya Bumi mengelilingi matahari bahwa:
Aku harap sih ndak ada yang marah. Toh kita sudah sama-sama mengkera-kerakan kok, ya ndak?
Guh // 28 Oktober, 2007 pada 5:44 pm
Buset, panjang amad!!
*Ngeliat keraisasi barusan*
Ngapain pada berdebat sih, sudah jelas kalau pusat alam semesta ini adalah saya.
*Sedikit lebih oot*
Pendapatnya Galileo mirip kata nenek moyang jawa, entah kera atau bukan, tapi kata mereka “ngelmu iku angele nek durung ketemu”. Jadi ya…
Hmm… setelah puas oot dan sok tahu, sekarang saya mau baca dulu.
Sastro H // 28 Oktober, 2007 pada 6:44 pm
He he he di sini juga ramai rupanya….
Saya dah usulin fatwa baru buat ulama Salafy (Wahaby) yang memakai metodology over tekstual (zahiry) dalam melihat ayat dengan menfatwakan bahwa “Bumi itu berupa hamparan bak tikar atau meja catur, bukan bulat”…lihat di Salafyindonesia.wordpress.com lengkap dengan zahir teks ayat-ayat yang ada, plus solusi penyeesaiannya, yaitu dengan menyewa pesawat luar angkasa dan melihat bumi dari awang-awang…ha ha ha
benbego // 28 Oktober, 2007 pada 7:41 pm
ampuun deh..pusing gue!
islam feminis // 28 Oktober, 2007 pada 7:53 pm
Salamualaikum
Maaf, ikut nimbrung sedikit…
Jelas sekali bahwa ujung permasalahan yang dihadapi oleh Syeikh Utsaimin -beserta para pengikut dan murid beliau- adalah tentang metodology penafsiran dan pengambilan kesimpulan (istinbath) dari dzahir-dzahir ayat al-Quran dan hadis. Dari kendala itulah akhirnya beliau terjerumus ke dalam ketergesa-gesaan dalam mengambil konklusi dari ayat-ayat al-Quran dan Hadis Shahih. Padahal, kalaupun kita berpegang kepada dzahir Ayat dan Riwayat maka jelas sekali bahwa dari dzahir keduanya tidak dapat ditetapkan tentang tesis “Matahari Mengelilingi Bumi” (MMB). Disaat itu berarti ayat al-Quran dan Hadis Shahih sama sekali tidak bertentangan dengan Sains yang ada. Pemahaman yang salah, hasil dari metolodogy yang tidak tepat semacam ini, jika dipaksakan maka akan terjadi ketimpangan dalam memahami hubungan antara Islam dan Sains. Jika kertimpangan itu terjadi maka jangan salahkan jika terjadi Rennaisance dalam Islam, seperti yang pernah terjadi pada doktrin gereja kristiani terhadap kasus Galeleo ataupun Newton pada kasus-kasus semacam ini. Disaat itu terjadi maka bersiap-siaplah pribadi seperti syeikh Utsaimin beserta para pengikutnya untuk ditunjuk hidung sebagai penyebabnya.
Kurang lebihnya minta maaf.
Wassalam
deKing // 28 Oktober, 2007 pada 11:27 pm
I am back!!!!
*halah ga penting*
Membaca postingan ini saya jadi tersenyum sendiri. Kenapa???
Saya tidak menyangka kalau ternyata Bang Amed menemani saya dalam memikirkan materi thesis saya hehehe…
Kebetulan judul thesis saya (sementara ini) “
Mathematics talks about astronomical phenomenon: Varying day length and its computation” … *halah malahan promosi*Sejauh ini…semua referensi mutakhir (terkini) yang saya baca menunjukkan bukti2 ilmiah akan adanya fakta bumi yang mengelilingi matahari
Berarti kalau ternyata matahari yang mengelilingi bumi…itu sama saja saya harus mengulang thesis saya dunk :((
Seperti beberapa rekan yang sudah menyinggung kasus doktrin gereja akan geocentris, saya juga berpendapat bahwa sebaiknya kita tidak terlalu tergesa2 mengulang kesalahan yang sama (doktrinasi).
Saya membaca sekilas di atas bahwa ada yg mengajak kita untuk menyadari kapasitas otak kita. Tapi apakah penyadaran dan kesadaran akan kapasitas otak harus dilakukan dengan cara semacam penarikan “kesimpulan teori kera vs Adam” hehehe
Bukankah Alloh tidak hanya menurunkan ayat2 kauliyah, tetapi juga ayat kauniyah. Bagaimana kalau kita berusaha mengkombinasikan kedua ayat tsb. Janganlah kita memaksakan supaya ayat kauniyah untuk mengalah pada ayat kauliyah hanya karena alasan “sepertinya” .. “tampaknya” dll.
Ayat kauliyah sangat berkaitan dengan bahasa bukan? Dan yang namanya bahasa perlu ditafsirkan bukan? Bagaimana kalau dalam menafsirkan ayat kauliyah itu kita tidak hanya terpaku pada analisa ayat kauliyah tsb. Mungkin juga analisa ayat kauliyah masih membutuhkan sedikit faktor external dr ayat kauniyah (misalnya); and vice versa.
ArifKurniawan as Bangaiptop // 29 Oktober, 2007 pada 1:53 am
Mas Amad, tulisannya bagus. Saya malahan jadi ketawa-ketawa ketika salah seorang acuan panelis diskusi yang merasa diblejeti, lalu mengkera-kerakan yang menganut mazhab BMM.
Saya sudah meluncur ke TKP, ke blognya Pak Harry dulu. Coba-coba melihat berbagai kemungkinan terbaru dari pengikut Syeikh Utsaimin. Sayangnya, ternyata tidak ada yang baru.
Dan di postingan ini, ada pandangan baru mengenai kasus BMM atau MMB. Dan saya pikir, postingan ini juga bukan karakter asinan terhadap Syeikh Utsaimin. Melainkan mencoba ijtihad bersama untuk mencari jawaban.
Terimakasih atas tulisannya, Mas Amed.
almascatie // 30 Oktober, 2007 pada 9:33 pm
kapan yah manusia ke luar dari galaksi ini biar bisa tau yang pastinya
*binun mode on*
myresource // 30 Oktober, 2007 pada 10:55 pm
hwei saya dah pernah denger nih…
akhirnya dapat artikel lengkapnya…
makasih..
morishige // 31 Oktober, 2007 pada 6:23 pm
Kalo menurut saya, sebelum seseorang belajar al quran, dia harus belajar sastra terlebih dahulu.
Belajar apa itu gaya bahasa, perumpamaan, makna konotasi dan denotasi, dan lain-lain.
Jika tidak, niscaya orang yang belajar al quran tanpa tau sastra itu akan menelan terjemahan al quran itu mentah-mentah.
Allah itu Maha Indah.
Fortynine // 2 Nopember, 2007 pada 6:16 pm
OOT: Kok masih belum laku keras?
Agak OOT: Maaf kepanjangan
Gak OOT: Saya sudah pernah keluar angkasa. Liat Matahari Bumi dan Bulan. dan aslinya memang mataharilah yang dikelilingi Bumi. Dan Bumilah yang dikelilingi bulan
SEKIAN
almirza // 2 Nopember, 2007 pada 9:18 pm
Yah panjang
Tapi selesai membacanya
Tulisan bagus
secondprince // 3 Nopember, 2007 pada 6:25 pm
Wah ini tulisan yang paling bagus menurut saya (dari semua yang membahas masalah ini)
setidaknya anda punya analisis sendiri dan argumen yang kuat, saya salut untuk itu
Amed // 7 Nopember, 2007 pada 11:38 am
@ Rozenesia
That’s it! That’s the point!
@ Agorsiloku
Saya kurang tahu juga, beliau itu marahnya karena apa, Pak. Karena merasa paling benar atau terlalu bersemangat membela membabi-buta tanpa paham etika pengambilan kesimpulan? Atau gimana?
@ Shelling Ford
Hasyah…
@ cK
Hmm….
@ Hoek
Sebenarnya menurut saya gpp kalau mereka mau berbicara mengenai pergerakan benda langit. Tapi harus tahu ILMU-nya dulu dong…
@ Alex
Hus hus!
*Sekap Alex di kerangkeng*
@ Guh
Yah, yang paling saya gak suka tuh kalo ada yang ngomong “Kalo cuma begitu aja, saya juga bisa!”
@ Sastro H
Ho ho ho, sebenarnya cuma satu kata, kalau mereka mau belajar, untuk membuktikan siapa mengelilingi siapa, satu kata, tapi perlu proses yang panjang: OBSERVASI.
@ Benbego
Hasyah, pusing jangan di sini… Pulang aja, ntar pingsan…
@ Islam Feminis
Dan alangkah naifnya kalau ketergesa-gesaan itu justru dianggap sebagai “keniscayaan” kan?
@ deKing
Reverensi, eh, referensinya kafir semua ngkale tuh???
*Hasty generalisation mode off*
Tapi saya setuju Mas deKing, kita juga harus membiasakan diri memahami ayat-ayat kauniyah milik Allah.
@ ArifKurniawan as Bangaiptop
Makasih juga Bangaip.
Sayang memang, yang membela doktrin ini kerap mengambil kesimpulan yang makin tergesa-gesa, tanpa telaah yang mendalam.
Tapi mau apa lagi, kita kan harus memahami kapasitas otak mereka juga
Loh, kok saya jadi ad hominem begini sih???
@ Almascatie
Semoga bisa secepatnya.
@ Myresource
Sama-sama
@ Morishige
Ini dia, tapi kadang manusia justru menutup mata dan batin dari keindahan-Nya.
@ Fortynine
Memang saya jualan apaan?
Sengaja, namanya juga ngumpulin referensinya berbulan-bulan…
Sadarlah wahai ahlul ahwa’ zindiq! Sungguh engkau sedang dalam kesesatan yang nyata!
@ Almirza
Makasih
@ Secondprince
Mosok sih?
Yah, setidaknya saya punya kumpulan reverensi, eh, referensi yang lumayan banyak. Semoga mencukupi, dan kita bisa melihatnya secara berimbang…
Ngomong-ngomong kok yang membantah pada belum datang ya???
Mengapa Mahasiswa Harus Mendukung Fundamentalisme Islam « OMG! Opinions - Uncensored // 8 Nopember, 2007 pada 3:20 pm
[...] ini salah. Karena fakta yang benar adalah Bumi Berputar Mengelilingi Matahari. Tidak ada lagi penjelasan selain itu, karena demikianlah yang disampaikan secara terang dalam [...]
atmo4th // 9 Nopember, 2007 pada 10:37 am
penting ya?
cuma debat masalah siapa yang muterin siapa.
sampai umpat-umpatan pakai kata ‘kera’ segala.
cuman untuk membuktikan, “saya benar”
yang pasti, kalau diberikan bukti yang nyata semua pasti setuju.
saya tidak bisa memberikan bukti itu.
bye.
Amed // 9 Nopember, 2007 pada 11:19 am
@ Atmo4th
Silakan saja menyederhanakan masalah. Yang jelas memang harus ada yang membuktikannya. Dan bukti harus dicari, melalui observasi.
Dan salah satu komentator di sini (mas deKing) saat ini tengah sekolah lagi untuk mempelajari matematika astronomi. Kita bisa belajar banyak dari apa yang telah beliau teliti.
BTW, post ini dibaca sampai habis apa tidak?
ahmad // 12 Nopember, 2007 pada 11:46 am
knp bumi bisa berotasi..?
Abu Salma Mohamad Fachrurozi // 13 Nopember, 2007 pada 3:15 am
Assalamu ‘alaikum
Maaf terlambat, kemarin-kemarin sih sudah lihat tulisan ini ngetop tapi belum tertarik.
Ketahuilah bahwa saya orang salafy tapi kali ini akan bicara secara teori ilmiah.
Perlu diperhatikan :
1. Kebenaran IPTEK itu tidak Absolut,
1,5. Yang dapat membuktikan teori IPTEKnya secara metodologi ilmiah, maka teorinya yang di anggap benar.
2. Saat ini teori yang di anggap benar secara metodologi Ilmiah BMM. (ingat bahwa BMM adalah salah satu teori tentang tata surya. Ada satu teori lagi yang mengatakan bahwa bumi sebagia pusat tata surya).
3. Namun tetap tidak boleh dimutlakkan bahwa BMM, sekali lagi itu adalah teori yang saat ini paling ilmiah, sehingga bukan dalil bahwa secara absolut BMM.
4. Bagaimanapun tidak ada teori ilmiah yang bersifat Absolut (ini dimaklumi oleh orang yang terjun dalam penelitian ilmiah)
5. Sehingga apabila ada orang mengabsolutkan teori ilmiah adalah orang yang bodoh terhadap metodologi ilmiah itu sendiri.
6. Oleh karena itu setiap dalam penelitian ilmiah selalu dikenal sampling eror, karena setiap penelitian ilmiah tiak berani mengabsolutkan.
7. Itu membuktikan bahwa para pakar IPTEK meyakini yang paling mengetahui secara hakikat adalah Tuhan (bahasa Umum), yang mereka semua (manusia Islam /kafir ) jika di tanya siapa yang menciptakan Alam semesta, mereka semua menjawab Allah.
8. Tidak ada bukti empiris yang mengatakan BMM, yang ada adalah bukti secara teori. Berbeda dengan teori bahwa bumi adalah bulat, ini benar-benar ada bukti secara empirisnya.
9. Keadaan seperti itulah yang menjadikan Syaikh Utsaimin tidak yakin bahwa BMM.
10. Dasarkesimpulan saya no. 8 adalah yakin menurut Syaikh Utsaimin pengetahuan yang pasti, sebagaimana penjelasan Beliau dalam syarah Utsuluts tsalasah tentang tingkatan ilmu ada enam, dan tingkatan yang pertama adalah : Al Ilmu huwa idraaku syai’ ‘ala maa huwa ‘alaihi idrokan jaziman (Al Ilmu yaitu mengetahui sesuatu sesuai kenyataannya dengan tingkat pengetahuan yang pasti), sehingga ketika Syaikh Utsaimin mengatakan tidak yakin bahwa BMM bukan berarti syaikh sama sekali tidak mengetahui secara teori astronomi, tuduhan semacam ini adalah terburu-buru dan menunjukkan orang tersebut tidak mengerti sifat seorang ulama. Padahal Allah berfirman memuji sifat para ulama yang artinya kurang lebih “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah dari hamba-hambaKu adalah para ulama”. Insya Allah Syaikh mengatkan tidak yakin karena tidak ada bukti empiris dn sifat dari teori telah disepakati tidak benar secara mutlak.
Terimakasih.
Tunggu tulisan saya secara rinci dalam bab ini insya Allah.
klik http://abasalma.cjb.net
Amed // 13 Nopember, 2007 pada 3:37 pm
@ Ahmad
Silakan ditelurusi di link-link postingan ini.
@ Abu Salma Mohamad Fachrurozi
Wa’alaikum salaam
Nggak apa-apa terlambat Pak, yang penting anda sudi menanggapi
. Dan poin-poin dan revisi yang anda minta sudah saya perbaiki ya.
Ok, saya sepakat. Tapi bisakah kita juga sepakat kalau 10 poin (sebenarnya 11 ya?) yang anda tampilkan di sini juga tidak Absolut?
Saya juga sepakat. Tentu cara pembuktiannya yang harus dicari, kan?
Dan DULU di zaman pertengahan, masa kegelapan, MMB-lah yang dipaksakan untuk dianggap benar, Anda tentu tidak berusaha menutup mata dari kenyataan ini kan?
Tentu, saya juga sependapat.
SAYANGNYA, semakin banyak hasil temuan ilmiah yang MENDUKUNG teori bahwa BMM, dari inklinasi, aurora, medan magnet bumi, hingga peluncuran satelit ke orbit bumi. Atau adakah temuan ilmiah yang justru sebaliknya, mendukung teori MMB?
Saya rasa anda terlalu banyak mengulang-ulang kata absolut. Apakah di postingan saya ini saya terlalu banyak mengumbar keabsolutan ya?
Anyway, saya masih sepakat…
OK, tidak perlu mengabsolutkan. Tapi tetap wajib untuk membuktikan kan?
Pak, absolut lagi?
Masih sepakat…
Pun, tidak ada bukti empiris kalau MMB kan? Sama saja kan? Yang ada adalah, semakin banyak teori dan bukti ilmiah yang MENDUKUNG BMM kan?
Sepertinya sudah saya bahas di atas. Anda tidak terlewat membacanya kan?
Pertama, saya tidak pernah mengatakan kalau Syaikh Utsaimin sama sekali tidak “mengetahui”, melainkan beliau tidak “mendalami” Astronomi. Saya rasa amat besar beda dua kata tersebut.
Saya pun dalam postingan ini sama sekali tidak menyalahkan Beliau, karena saya tahu posisi beliau dalam pengambilan pendapat sudah “benar”.
Yang jadi masalah adalah, kalau Pak Abu Salma mengatakan dari tadi, tidak ada yang absolut, tidak ada kepastian, tidak ada bukti empiris, kenapa muncul buku dengan judul “Matahari mengelilingi bumi, sebuah kepastian al-Qur’an dan as-Sunnah serta Bantahan Terhadap Teori Bumi Mengelilingi Matahari” ?
Siapa yang berani memastikan? Kalau Syaikh Utsaimin terbukti tidak memastikannya, lalu siapa?
Sama-sama, senang berdiskusi dengan Anda. Saya tunggu postingannya, kalau sudah selesai kasih kabar ya Pak.
black_xscale // 19 Nopember, 2007 pada 2:04 pm
untung yang ditafsir gak balik tafsir…
ah dasar
manusia… gitu aja kok repot…Amed // 21 Nopember, 2007 pada 11:52 am
@ Black_xscale
Repot ya?
lasiono // 4 Maret, 2008 pada 5:43 pm
untuk semuat teman yang lagi diskusi…,
saya mau menyampaikan argument yang ilmiah dan tak terbantahkan oleh siapapun. karena ini perkataan dari Allah
kalau anda percaya pada Alquran.
di alquran sudah jelas di sebutkan oleh ALLAH surat yasin ayat 38.
wasamsu tazril lumus takhori laha, zalika taqdirul ajijil alim.
yang artinya.: matahari perputar pada tempatnya……dst..
masak ia matahari mengitari bumi….????
percaya gak sih enteh…sama omongan alllah..(Alquran).???
dan ilmu ini sudah di maling oleh Galeleo yg yahudi yg mengatan ini hasil riset belia, padahal kita tahu datangnya Alquran 14 abad yg lalu sedangkan galeleo lahir berkisar thn 1800
kalau belum jelas tolong buka alquran surat yasin ayat 38
alquran satu sumber ilmu yang tiada tanding.
0812-601-0416.
terima kasih…….
lasiono // 5 Maret, 2008 pada 2:16 pm
relat galeleo tahun 1608.
Amed // 17 Maret, 2008 pada 10:42 pm
@ Lasiono
Mohon maaf, terlewat cukup lama, maklum koneksi saya terbatas…
Oke, pertama-tama, saya mau bertanya, sudahkah Anda membaca tulisan ini dari awal sampai akhir? Kalau tidak sempat, sebaiknya Anda membaca bagian pertama dulu: Dalil Al-Qur’an. Bahkan bagian ini saya tulis di bagian pertama, dan sepertinya Anda terlewat begitu saja ya?
Kalau sudah, silakan jump to conclusion di bagian 4. Saya tidak masalah Anda membaca secara sekip-sekip, tapi dengan membuat komentar seperti yang Anda tulis, kentara betul Anda hanya ingin memaksakan hujjah sesuai keyakinan Anda tanpa mau mendengar pendapat orang lain kan?
Seperti yang sudah saya bilang, ayat yang Anda kutip sudah saya cantumkan di atas, terlewat? Lihat nomor 8, Yasin 37-40. Ayat-ayat ini menceritakan tentang salah satu tanda kekuasaan Allah, yaitu malam dan benda-benda langit yang beredar sesuai garis edarnya. Tapi apa disebutkan secara eksplisit “matahari beredar mengelilingi bumi sesuai garis edarnya”? Kenyataannya tidak kan?
Lah itu dia! Kalau Al-Qur’an tidak menyebutkan seperti itu, masak iya kita harus percaya matahari mengitari bumi….????
Saya percaya. Makanya Allah tidak menyebutkan kalau matahari mengelilingi bumi kan? Maka yang tidak bisa saya percayai 100 persen adalah fatwa yang menafsirkan begitu saja kalau Allah menyebutkan hal itu. Juga yang saya sesalkan adalah sikap pendukung fatwa tersebut yang kelewat bersemangat sehingga mempertahankan fatwa ulamanya tanpa melihat sebab munculnya fatwa tersebut (baca dialog di bagian 3). Yang terjadi adalah taklid buta menggebu-gebu yang ujung-ujungnya pengafiran (lagi) toh?
Ho ho ho… Ini dia bagian yang saya sukai…
1. Galileo (dan BUKAN Galeleo) adalah seorang Katolik, bukan Yahudi. Dari mana Anda dapat info yang mengatakan kalau beliau seorang Yahudi? Kalaupun beliau Yahudi, lalu kenapa? Adakah argumen beliau kemudian boleh dipatahkan begitu saja? Fallacy itu namanya Om…
2. Galileo lahir tahun 1542. Tahun 1608 beliau membuat teleskop. CMIIW
3. Galileo menentang DOKTRIN Gereja kala itu, yaitu matahari mengelilingi bumi. Kalau dari logika berpikir Anda di atas, Anda berkeyakinan kalau Galileo mencolong teori di atas dan mengakuinya sebagai hasil risetnya kan? Kok kenyataannya justru sebaliknya?
4. Kenyataannya Galileo
MENCOLONGmendukung teori heliosentrisme (bumi mengelilingi matahari) seperti yang diyakini Copernicus satu abad sebelumnya. Anda punya penjelasan terkait hal ini?Dan tahukah Anda kalau bumi, langit dan semua benda di alam semesta ini juga “Al-Qur’an”?
Tiranisme Pengikut Salafy « Analisis Pencari Kebenaran // 29 Maret, 2008 pada 9:52 pm
[...] atau dari siapapun yang akan menyatakan bahwa tulisan anda itu tidak benar, Musik itu memang haram, Matahari memang mengelilingi bumi dan Syiah itu memang sesat. Kalau memang ada yang seperti ini saya mohon maaf untuk kelancangan saya [...]
Tinggalkan Komentar