83 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed

1.
itikkecil | 12 November, 2007 at 10:00 am
hadoooh…. saya gak ikut-ikutan….
2.
caplang™ | 12 November, 2007 at 10:09 am
itu kan haram&trade:!
3.
rozenesia | 12 November, 2007 at 11:44 am
*ngakak di pojokan*
4.
raffaell | 12 November, 2007 at 12:02 pm
Wah, ga tau ya, nanti paling ada yang bilang, itu kan duit, kalo lukisan ga boleh…. manusia manusia…
5.
Fakhrurrozy | 12 November, 2007 at 1:09 pm
Mungkin ini bisa menjadi jawabannya. Selengkapnya…
6.
Shelling Ford | 12 November, 2007 at 2:05 pm
haram?
tapi kalo dikasi banyak jadi haramdulillah, gitu?
masya allah…betapa tidak konsistennya makhluk2 itu…
kampret triak kampretlah!
7.
Nenda Fadhilah | 12 November, 2007 at 2:25 pm
Muka makhluk bernyawa itu haram, kecuali muka saya. lol
8.
aburamza | 12 November, 2007 at 3:16 pm
Silahkan dibedakan yang mana itu aturan agama dan yang mana itu perbuatan manusia
contoh, Sahabat Rasulullah pun pasti pernah bersalah/punya dosa. Tapi bukankah kita berusaha mengikuti Islam semampu-mampunya, bukan mengikuti kesalahan Sahabat Rasulullah kan
9.
kurtubi | 12 November, 2007 at 4:53 pm
mau nitip senyum
10.
kurtubi | 12 November, 2007 at 5:00 pm
dan mau salaman dan ngucapin selamat dengna blog barunya…
11.
RETORIKA | 12 November, 2007 at 5:59 pm
Salut, itu namanya langsung nyetak Hattrick!!!
Woy, antosalafy dan para pengikut mahnaj salaf kemana lu? kabur apa takut ? sini lo, tak jitak satu satu !!!
(becanda doang)
12.
abeeayang | 12 November, 2007 at 8:08 pm
oww….ini…..

ini mah dari jaman patih gajah mada masih pake koteka sudah dibahas….
dulu aku pernah baca tentang masalah ini, *sumber lupa*
intinya para ulama ada yang mengharamkan ada yang tidak.kayak hukum patung arca de el el
ikut yang mana terserah anda……
geto ajah kok repot…….
13.
cK | 12 November, 2007 at 8:46 pm
haram!!! itu haraaam!!!™
*bakar mata uang*
14. Salafy Manhaj Salaf = Produk Zionis dan Kriminal ??? « Mengapa begini ? Mengapa begitu ? | 12 November, 2007 at 8:55 pm
[...] dapat memacu perpecahan dikalangan umat islam sendiri. Mengharamkan sistem demokrasi penerapan standar ganda serta melakukan pengkafiran terhadap umat Islam beraliran lain secara jelas dan tegas merupakan [...]
15.
Sastro H | 12 November, 2007 at 10:12 pm
Aneh ya? Katanya Gambar Bernyawa Haram, tapi kok di saku para Rohaniawan Wahaby itu penuh dengan barang haram (gambar bernyawa di uang itu lho…)? Mana Haramnya?
16.
Kopral Geddoe | 13 November, 2007 at 12:39 am
*islam mode on*
Konon sih beberapa denominasi puritan nggak menganggap haram apabila nggak utuh; i.e. apabila yang ditampilkan itu nggak bisa ‘hidup’. Misalnya kepala thok, tangan thok, dan seterusnya. Kalau kepala sampai perut, misalnya, konon sudah haram, sebab dengan anggota badan itu manusia sudah bisa hidup.
Namun kayaknya oknum yang mas maksud (you-know-who) termasuk yang denominasinya lebih keras, soale ya semua juga tahu, avatar (yang kebanyakan emang cuma gambar kepala doang) juga nggak diperbolehkan oleh beliyau.
*islam mode off*
Bakar!!! Bakar!!!
17.
gi males login | 13 November, 2007 at 2:58 am
Haram ituh. Maka dari itu sebaiknya di serahkan kepada saya ajah.
18.
saya | 13 November, 2007 at 5:06 am
walah…
kalo gitu you-know-who itu miskin yak…
kalo ndak miskin berarti dia selingkuh ama homok…
didompetnya isi gambar lelaki semua
dalam berbagai warna pulaktpi nggak ada poto istrinya…wak wak wak…
19.
mrtajib | 13 November, 2007 at 8:31 am
kayaknya haram… bila gambarnya bukan di duwit…. *ha ha ha ha*
20.
agorsiloku | 13 November, 2007 at 9:11 am
Ya… sudah… kalau Mas anggap gambarnya haram… kirimkan saja itu duwit sama agor…
siapa menerima dengan tulus dan mengamalkan kembali atau menikmatinya….
Yang jelas sekali itu duwit di dalamnya tidak ada
gambarmahluk bernyawa.Lagian… emang yang bernyawa itu hanya mahluk…
bagaimana dengan alam semesta yang bertasbih kepada Allah?. Apakah alam semesta itu bukan mahluk?…
21.
atmo4th | 13 November, 2007 at 9:25 am
masih simpang siur deh kayaknya…
Soalnya gak ada ulama di negeri ini yang berani mengklaim hal tersebut haram…
kalau mereka mengklaim itu haram, gimana dengan lagu-lagu UJ, Yusuf Mansyur, Poster Ustad, dll?
gak beken mereka.
22.
Amed | 13 November, 2007 at 10:18 am
@ Itikkecil
Loh, saya kan cuma tanya???
@ Caplang™
Benarkah?
@ Rozenesia
*Telpon RSJ, suruh ngangkut yang ngakak di pojokan*
@ Raffaell
Sepertinya akan demikianlah jawabannya…
@ Fakhrurrozy
Terima kasih link-nya. Sejak semula saya juga berpikir seperti itu…
@ Shelling Ford
Standar ganda bukan?
@ Nenda Fadhilah
Weh, fatwa dari mana ini?
@ Aburamza
Tapi pertanyaan saya???
@ Kurtubi
Pak Kurtubi, jangan senyum-senyum doang dong… Bantuin jawab gih…
Oh, iya, makasih ucapan selamatnya…
@ RETORIKA
Huss… saya kan cuma bertanya… Nggak niat main jitak-jitakan…
@ Abeeayang
ikut yang mana terserah anda……
Repotnya Pak, ada aja yang main hakim sendiri dan menyalahkan yang tidak sepaham…
@ cK
Apa sebaiknya kita kembali ke jaman di mana uang hanya dalam bentuk kepingan ya?
*mikirin bawa duit dua juta recehan semua*
@ Sastro H
Jadi apa mas setuju kalau saya katakan ada standar ganda dalam kasus ini?
@ Kopral Geddoe
Jadi sebenarnya perbedaan pendapat memang tidak bisa dihindarikah?
@ Dana
Bagi-bagi sama saya juga boleh $-)
@ Saya
Lah belum tentu toh, kalo bayar selalu dengan kartu kredit kan bisa terbebas dari menggunakan gambar makhluk bernyawa di atas…
Termasuk untuk beli telur di warung sebelah…
@ Mrtajib
Loh, haram kok pake kecuali?
@ Agorsiloku
*Jegrek*
Entah kenapa kalo mas Agor yang komen selalu menyadarkan saya…
Makasih Mas..
@ Atmo4th
“UJ, Yusuf Mansyur dll itu BUKAN ULAMA!!”
Pasti jawabannya gitu deh. Jangan ngambil contoh itu deh Mas…
23.
mrtajib | 13 November, 2007 at 2:59 pm
@amed
anjing saja enak boleh dimakan kalau terpaksa…
uang juga boleh dipegang bila terpaksa…
coba saja ke tanah Arab sana, bawa recehan seribuan untuk beli sesuatu… kayaknya gak bakal diterima…
bukankah itu artinya haram diprbolhkan bila dalam kondisi yang “kepept”"?
ha ha ha…ngacir aja…
24.
Fortynine | 14 November, 2007 at 2:57 pm
Haram. Pokoknya itu duit haram! Karena saya belum punya iu duit! Kalau saya sudah punya banyak, itu duit halal!
25.
rozenesia | 14 November, 2007 at 6:45 pm
*kabur*
Ah, tadinya mau nyolong ituh duit. Tapi ga jadi… Mencuri katanya haram, pake diancem kalau gambarnya haram pulak.
Masa dosa porsi double nih?
26.
nothing | 15 November, 2007 at 12:22 pm
Yg nyiptain aturan itu (menfsirkan) kyknya paranoid dehh, persangkaan dia ttg Allah tentunya Allah itu buat dia galak, pemarah, menghendaki sebanyak mungkin yg gagal dlm beribadah, sulit utk masuk surga sehingga dimudahkan masuk neraka.
Wahh..kalau begitu pasti sangat berbeda dg persangkaan saya ttg Allah, buat saya sihh Allah itu maha Rahman maha Rahim, Maha Pemaaf, Maha Pengampun, Maha Lembut, Maha Adil, Maha Pemurah…, kalau ada aturan gambar itu haram, kayaknya semua manusia harus kembali ke jaman batu tdk boleh berilmu, krn kalau berilmu pasti akan ditemukan tinta, kamera, kertas dll. Atau kita semua rame2 masuk ke hutan (walaupun kyknya gak ngejamin juga sihh..hehehe..:D).
Wahhhh sulitt.sulit dahh kl haram, kiri kanan noleh gambar, foto, TV haram gak yaa? dulu sihh di arab TV haram, Mobil haram (krn Nabi naik onta, katanya…:P).
Yang gagal menghindarkan gambar dan foto ntar rame2 exodus dr Islam donk..hiiiiiii..:-
27.
alief | 15 November, 2007 at 4:54 pm
haram
titik gak pake koma
28.
Alex | 15 November, 2007 at 7:45 pm
Kalau di konsepnya sih, yang kukuh bilang itu uang haram, semangat betul agar kembali ke sistem mata uang emas. Alasannya cukup logis-logis juga benarnya.
Cuma sayangnya… di konsep doang. Coba deh suruh mereka kudeta Bank Dunia dulu, biar gampang bikin standarisasi
Eh, yang kukuh bilang haram, mending itu uang diberikan ke saya saja. Lumayan juga buat ditukar rupiah
29.
almascatie | 15 November, 2007 at 8:19 pm
kalo gambar
khalifahpresiden ga apa2 kali yah30.
begitulah | 15 November, 2007 at 8:59 pm
soal :
sebutkan macam-macam makhluk bernyawa.
cepet deeeekk..!!!
kumpulkan segera..!!
haram semuwa..!!!
31.
Amed | 16 November, 2007 at 11:49 am
@ Mrtajib
“Dharuroh” lagi alasannya? Bah basi!
@ Fortynine
Padahi bos tu, duwit-duwit nang dibingkai sidin di ruang tamu tu haram samunyaan..
Julung gasan auk haja tu…
Eh, duwit Arab beneran ndak punya ya?
@ Rozenesia
Yah, dosanya dobel…
@ Nothing
Entahlah, aturan ya aturan, kalau mau konsisten, kenapa syaikh-syaikh yang terhormat itu tidak mengeluarkan larangan kepada rajanya?
@ Alief
Waduh? *gedebuk*
@ Alex
Bagi-bagi!
@ Almascatie
Konsisten dong ah!
@ Begitulah
Sudah Bu Guru!
*Mengumpulkan tugas*
32.
antogirang(TM) | 16 November, 2007 at 10:28 pm
Hahahaha(TM).
Seperti biasa, yang diundang tak akan datang.
33.
Amed | 16 November, 2007 at 11:11 pm
@ Antogirang(TM)
Ah, saya ndak ngundang siapa-siapa
34.
Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny | 17 November, 2007 at 8:31 pm
Astagfirullahh!!! Sini kasih ana duit aslinya, biar ana liat buktinya!!
35.
Siw | 20 November, 2007 at 5:06 pm
harom Med…harooom…
36.
Abu Kuda Al-Laknatullahharromanirrojim | 20 November, 2007 at 11:41 pm
lebih cepet bangkrutnya accho…. menggunakan kartu kredit berarti bentuk penghamburan biaya pajak g jelas itu…
lucu banget gembar-gembor mengharamkan gambar makhluk bernyawa tapi sendirinya melakukan pemborosan…
37.
Amed | 21 November, 2007 at 11:37 am
@ Abu Onta Al-Lesehanhallalantayyibanny
Ane cuma punya specimennya doang yaa akhi…
@ Siw
Iya deh… Haroomm…
@ Abu Kuda Al-Laknatullahharromanirrojim
Pokoknya™ biar boros yang penting halal!!!!
38.
aburamza | 24 November, 2007 at 6:51 am
@amed
afwan saya cuma orang bodoh dalam ilmu agama. silahkan bertanya pada Ulama atau orang yang mumpuni unuk mencari fatwa.
saya bukan orang sok pintar yang berkata kata ini halal dan itu haram.
39.
aburamza | 24 November, 2007 at 7:24 am
dan, baca ulang tulisan saya:
“Silahkan dibedakan yang mana itu aturan agama dan yang mana itu perbuatan manusia
contoh, Sahabat Rasulullah pun pasti pernah bersalah/punya dosa. Tapi bukankah kita berusaha mengikuti Islam semampu-mampunya, bukan mengikuti kesalahan Sahabat Rasulullah kan ”
kalo nggak bisa mengartikan, saya coba bantu. Lihat tuh penjara dan LP, kebanyakan isinya kan orang Islam. Tapi, apakah seperti itu ajaran Islam?
artinya, kalo ada orang islam yang berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat, jangan dipertentangkan antara orang salah itu dengan syariat islam. cuma orang bodoh yang melakukan demikian.
kalo niatnya ngolok ngolok agama, siap siap aja
40.
c Lover | 24 November, 2007 at 4:47 pm
ya aburamza… kalopun itu perbuatan manusia… kenapa masih diikuti hingga berpuluh-puluh taun,maksud saya diikuti adalah kenapauang itu masi digunakan hingga kini… apa usaha abu supaya mereka yang menggunakan uang itu kembali ke jalan yang benar…??? saya rasa menyerang orang yang menyuarakan kebobrokan nggak bantu banyak degh
@abuamed… tolong 2 comment saya diatas itu dihapus…minimal dihapus link-nya lah… pliss…
41.
Amed | 24 November, 2007 at 8:24 pm
@ Aburamza
Nah, ini dia. Begini loh Pak, just in case you don’t get the POINT of this post, kalo mengenai fatwa, saya banyak melihat bertebaran fatwa yang mengharamkan gambar makhluk bernyawa. Anda pun, saya rasa bisa dengan mudah menemukannya. Gugling aja “hukum gambar bernyawa“, maka banyak kan yang muncul? Dan lihat siapa blog wordpress yang berada di peringkat atas.
Dan sekilas Bapak pernah bilang, kan, kayaknya nggak ada yang salah dengan fatwa fawa itu.
Ada banyak pendapat memang. Sebagian ada yang setengah mengharamkan, ada pula yang menghalalkan selama tidak menyekutukan gambar bernyawa yang bersangkutan dengan Allah. Nah, sebagian lagi mengharamkan total gambar bernyawa, dan hanya menerima gambar tidak bernyawa atau paling banter tumbuhan. Kebanyakan yang mengeluarkan fatwa yang mengharamkan tersebut adalah ulama dari Saudi.
Lah, dari sini saya berasumsi kalau di Saudi, mestinya tidak ada dong gambar bernyawa, kan sudah dilarang. Tentunya demikian keadaannya jika pemerintahnya mau menerapkan Islam yang “kaffah” sesuai dengan perintah ulama mereka.
Kenyataannya, mata uang mereka masih bergambarkan raja-raja Saudi kan? Ini apa maksudnya? Apa artinya raja-raja itu sudah bebas dari hukum dan berhak menempel gambar mereka, bahkan di benda yang paling jamak digunakan orang di sana sebagai alat tukar?
Bapak mungkin cuma orang bodoh, dan saya mungkin justru lebih goblok lagi. Bertanya, itu pun saya lakukan. Caranya, salah satunya ya dengan posting ini. Judulnya aja sudah kalimat tanya kan?
Saya juga tidak mau sok pintar berfatwa ini itu, tapi berhubung ada yang merasa punya “privilege” untuk berfatwa, saya kok ya bertanya-tanya, privilege mereka kok malah tidak berlaku untuk umara-umara di negara mereka sendiri?
Dan kalau fatwa sudah dikeluarkan, kenapa pemerintah mereka tidak mengindahkannya? Okelah ini soal perbuatan manusia. Tapi lah fatwa ulama itu mereka anggap apa dong? Apa hanya berlaku untuk avatar sehingga bebas dimutilasi? So shallow, eh?
@ c Lover
That’s it. Kenapa ulama di sana kok diam aja?
BTW, Sudah saya hapus tuh. Saya emang nyariin kamu, kangen merindu dan mengkhawatirkan keselamatanmu dari Pangeran Diponegoro, hweheheh…
42.
c Lover | 25 November, 2007 at 12:36 am
jangan buka kedok saya dong abu….
btw, kalo ada abu yang kesasar lagi, hubungi saya ya…
kok kelihatannya enak sekali menjatuhkan argumen suubjektif nan tak ingin disalahkan itu…
43.
Ade | 25 November, 2007 at 5:32 am
kalo udah nggak bernyawa boleh kali?
*kabuuurrr
44.
Amed | 26 November, 2007 at 11:25 pm
@ c Lover
Ke ke ke..
Kesasar? Lah saya ngehubungin kamu buat apaan? Buat nganterin mereka pulang, gitu?
Tapi ingat, yang dijatuhkan argumennya loh ya, jangan orangnya.. Gedebuk sakit loh..
@ Ade
Bisa jadi… Tapi rasanya yang saat ini dipake ya yang masih bernyawa.. Atau bukan? Bentar saya cek lagi di Wiki…
45.
susan | 27 November, 2007 at 11:57 am
gini ya,satu hal yang mesti kita tahu bahwa yang berhak untuk mengharamkan sesuatu itu adalah ALLAH,kita hanya menjalankan perintahNYA aja urusan dosa adalah urusan antara ALLAH dengan hambaNYA.
46.
hariadhi | 27 November, 2007 at 10:06 pm
nah.. kira-kira siapa yang mengharamkan gambar? Allah atau manusia?
47.
Amed | 28 November, 2007 at 12:33 am
@ Susan
Lalu yang kemudian merasa berhak maki-maki orang itu?
@ Hariadhi
Ah, saya kira dalilnya sudah cukup jelas. Tidak ada yang perlu diperdebatkan lagi…
48.
Belajar berkata jujur. | 28 November, 2007 at 10:45 am
Nggak usah jauh-jauh lah, yang perlu dipertanyakan apakah kita sudah bisa mengamalkan perintah Rasulullah shallallahu alaihi wa salam, dan menjauhi larangan beliau. Jangan bisanya mengkritik saja, sedangkan shalat wajib berjamaah diremehkan, apalagi shalat yang sunnah rawatibnya. Hukum sudah jelas kenapa mesti diutak-atik dengan kasus ini kasus itu. Komentar aburamza itu bagus, dan mudah dicerna. Dan tanggapan panjang lebar dari Amed tidak menemui sasaran alias ad hominem. Kasihan…ada ada saja.
49.
Amed | 28 November, 2007 at 11:52 am
@ Bapak yang anti bid’ah
Lagi-lagi, mengelak dengan memberi contoh di luar konteks kan?
Kalau sudah jelas, saya tanya APA HUKUMNYA GAMBAR RAJA SAUDI DI DUIT ITU? HALAL ATAU HARAM? Anda bilang sudah jelas kan? Itu saja, jawab dengan jelas.
BTW, anda sudah ngerti arti ad hominem apa belum?
50.
c Lover | 28 November, 2007 at 7:59 pm
nggak usah jauh-jauh lah, itu gambar halal atau harrom…??? kalo harrom kenapa dipake…???
dan kata sipa akami meremehkan sholat berjama’ah…??? apakah sekarang shuudzon itu diperbolehkan…???
dan ya, komentar aburamza itu memang bagus dan mudah dicerna… tapi kalo nggak bisa menjawab pertanyaan dan malah semakin berputar-putar kenapa dicerna lebih jauh…???
sekarang siapa coba yang keluar konteks…???
ngomongin gambar bernyawa kok malah lari ke sholat….
51.
orgawam | 1 Desember, 2007 at 1:17 am
Saya suka pendapat ini,
………. cut …..
pendapat yg Jumhur bahwa diharamkan menggambar makhluk yg bernyawa, namun sebagian ulama berpendapat bahwa yg diharamkan adalah melukis seluruh tubuh dg sempurna beserta tangan, kaki, kepala, dengan lukisan yg lengkap, jika hanya kepala saja, atau setengah badan maka tak diharamkan,
mengenai foto, bukan termasuk gambar atau lukisan yg dimaksud hadits tsb, karena foto bukanlah melukis tubuh, tapi merekam bayangan cahaya, maka foto, video dll tak bisa disamakan dengan melukis, karena hukumnya pun berbeda,
…………….. cut …………….
Wallahu a’lam
52.
Amed | 1 Desember, 2007 at 1:36 am
@ Celo
Thanks, anda bisa menjawabnya dengan lebih mengena daripada saya sendiri. Dengan ini saya angkat anda jadi asisten saya di postingan ini,
@ Orgawam
Wah, komennya berantakan mas, saya rapiin linknya trus yang kosong tadi saya hapus yaa..
Iya nih mas, saya dulunya juga pernah dengar seperti itu aturannya. Tapi, seperti komentar Geddoe, sekarang ada yang denominasinya lebih “keras”, sehingga avatar yang kadang cuma kepala atau tangan, foto pula, bukan lukisan, tetap diharamkan. Makanya saya kasih lihat specimen duit di atas, yang notabene ada gambar (lukisan loh ya, bukan foto) manusia.
53.
asaltahu | 4 Desember, 2007 at 12:02 pm
numpang mampir. memukau sekali kita ini ya. suka mengkritik kekeliruan orang, tapi tidak mau tahu dengan kesalahan sendiri. menurut saya, kalau itu bentuk kritikan tentu tidak seperti itu caranya karena ada kecenderungan ke arah menggunjing sesama muslim. menurut pengamatan cek&ricek, bapak amed sering menulis artikel yang berbentuk gunjingan yang kemudian disimpulkannya. misalnya dengan artikel di atas atau artikel antosalafy atau yang lainnya, entah apa maksudnya. kalau maksudnya itu untuk mengatakan bahwa gambar bernyawa itu haram, mengapa di blog ini justru banyak gambar bernyawanya. kalau maksudnya bahwa gambar bernyawa itu tidak haram, mengapa dia mempersoalkan gambar yang bernyawa. kembali kepada maksud bapak amed sendiri. Ini menarik untuk diteliti. Tim cek&ricek insya Allah akan melakukan investigasi terhadap para blogger yang melakukan hal serupa. tunggu tanggal mainnya.
54.
Amed | 4 Desember, 2007 at 12:58 pm
@ Asaltahu
Terima kasih atas ad hominemnya.
Bagaimana dengan anda sendiri? Apa pendapat anda tentang hukum gambar bernyawa? Kenapa tidak berani menjawab pertanyaan saya itu? Tentukan dulu sikap anda baru nyontong lebih lanjut.
Jadi begini ya cara kalian beraksi? Setelah terdesak tidak mampu menjawab, lalu maki-maki orang dan main ngancem? Kalau berani kenapa tidak menyertakan url, dan kenapa e-mailnya palsu? Memangnya ente tim cek & ricek dari Plasa dot com ya? Sayangnya kok IP address anda tidak dipalsukan sekalian? Kan jadi ketahuan domisili anda di mana???
Ini artinya tantangan terbuka nih?
55.
almascatie | 4 Desember, 2007 at 1:27 pm
wakkakakakaka
*ngakak campor2*
btw kenapa yah setiap pertanyaan tidak pernah dijawab secara lansung..
mata pisau tidak pernah ditangkis dengan mata pisau yang sama
56.
cek&ricek | 4 Desember, 2007 at 2:07 pm
kritikan dibilang ad hominem. teguran dibilang ad hominem. nasihat dibilang ad hominem, sepertinya bapak kurang paham makna istilah tersebut. sering salah dan kacau dalam penempatan. kalau dilihat kata2 bapak amed, cek&ricek simpulkan bahwa bapak ini seorang temperamen, mudah emosi dan terbakar. baru dikritik begitu saja sudah marah, tapi mengkritik orang lain sangatlah pedas lagi keras. sebagai pembelajaran bagi bapak dan pembaca bahwa instropeksi diri itu perlu.
57.
hanif | 4 Desember, 2007 at 2:15 pm
Allah dan RAsul-NYa adalah benar.
Walau akal merasa semua hal itu imposible.
Allah dan Rasul-Nya adalah benar.
Walau akal merasa itu aneh
wallahul musta’an
kalau kalian ingkari keharaman gambar makhluk bernyawa, padahal dalil tlah jelas.
Maka urusannya adalah di tangan Allah
Lihat saja apa yang telah dijanjikan Allah lewat Rasul-Nya…
Barakallahu fiikum wallaahu yahdikum wa iyyay
58.
Shelling Ford | 4 Desember, 2007 at 3:05 pm
@ hanif
hohoho, allah dan rasulnya memang pasti benar.
akal merasa semua hal itu impossible? justru kata2 anda sendirilah yang impossible
akal sejati tidak akan pernah bertentangan dengan syariat allah, mas. karena datangnya akal itu dari allah sendiri, kan?
tapi…
akal masih mungkin bertentangan dengan PENAFSIRAN thd syariat allah. karena bagaimanapun, yang namanya PENAFSIRAN (aka. fatwa ulama) itu kan bikinan manusia, bukan pasti merupakan hal yang dimaksudkan oleh allah sejatinya
penafsiran itu bukan fakta yang sesungguhnya, sobat. penafsiran cumalah hasil pendekatan pemahaman terhadap fakta. dan hasil penafsiran tiap manusia thd fakta bisa berbeda-beda sesuai tingkat kecerdasannya
59.
Amed | 4 Desember, 2007 at 3:44 pm
@ Almascatie
Solidaritas, Mas… Solidaritas…
Kalau yang ini saya juga ndak ngerti…
@ Cek&Ricek
Maaf, anda ingin berdiskusi atau hanya ingin memaki? Pertanyaan saya, yang menjadi core posting ini kok belum dijawab?
Salah dan kacau? Kalau begitu tolong definisikan ad hominem sesuai pemahaman kalian.
@ Hanif
Ah, akhirnya ada yang terang-terangan menyatakan kalau gambar bernyawa itu kalian haramkan…
Baik kalau begitu silakan jawab pertanyaan berikutnya. Apakah kalian juga mengharamkan duit Saudi di atas?
@ Shelling Ford
Maaf, bisa dijelaskan lebih lanjut ucapan antum yang ini?
60.
cek&ricek | 4 Desember, 2007 at 5:27 pm
tidak ada yang memaki bapak amed, justru bapak yang telah memaki saya duluan. masalah gambar bernyawa, sudah jelas haditsnya kok masih bertanya apakah haram apa nggak. kemudian yang dirilis mata uang saudi arabia yang ada gambar rajanya, apa kira2 maksudnya? tim cek&ricek menyimpulkan dari investigasi bahwa ini adalah indikasi tendensius terhadap negara tersebut. kenapa begitu? ya, ada kesan sentimen di sana. kenapa bukan gambar mata uang indonesia yang ditampilkan. ya itu kembali kepada niat pak amed. hanya saja pak amed tidak kritis dalam membaca komentar para pengunjung, seperti saudara aburamza telah kemukakan di no 8. dan menanggapi komentar bapak hanif, sungguh pak amed mengesankan bahwa hukum gambar bernyawa itu hanya dikenakan kepada orang tertentu, padahal itu hukum datangnya dari Allah dan untuk hambanya. apakah pak amed ini merasa bebas dari syariat dan aturan Allah? silakan dijelaskan. apakah dengan menampilkan gambar duit saudi arabia, pak amed ini sudah bebas menyimpulkan bahwa arab saudi itu haram? padahal ini masalah berawal dari gambar di dalam mata uang. ada gunanya nggak postingan seperti di atas? ya, tim cek&ricek sekadar melakukan investigasi agar semuanya kembali melihat diri, instropeksi diri. mengkritik memang mudah, tetapi melihat kesalahan diri sendiri sungguhlah berat. tim cek&ricek beriman bahwa gambar bernyawa itu haram hukumnya.
61.
Amed | 4 Desember, 2007 at 5:53 pm
@ Cek & Ricek
Saya rasa saya sudah menyampaikan alasannya di komen #41, karena ulama yang berfatwa demikian berasal dari Saudi.
Kalau mereka mau konsisten dengan fatwa yang sudah dikeluarkan sendiri, kenapa mata uangnya masih bergambar makhluk bernyawa? Ada pembelaan terkait hal ini?
Indikasi tendensius? Kesan sentimen? Sekarang apa saya boleh berkesimpulan kalau anda pun sedang ingin membela abis Saudi?
Termasuk raja-raja Saudi kan? Lah justru di postingan ini saya mempertanyakan, kenapa orang-orang tertentu, dalam kasus ini Raja-raja Saudi bebas dari syariat dan aturan Allah tersebut?
Kapan saya menyimpulkan bahwa Arab Saudi itu haram? Logika berpikir yang bagaimana yang anda gunakan?
Pertanyaan di atas saya lemparkan ke publik. Mereka yang berhak menilai. Kalau anda merasa post ini melecehkan silakan. Kalau yang lain justru merasa post ini mencerahkahkan, itu juga hak mereka.
Dan ini juga berlaku untuk anda kan?
Dan semoga tempat anda bekerja bisa ikut menghentikan mencetak gambar bernyawa
62.
Shelling Ford | 5 Desember, 2007 at 1:55 pm
ahahahaha…apa masih perlu dijelaskan lagi maksud kata2 saya itu, mas amed?
63.
pemudadayak | 5 Desember, 2007 at 2:45 pm
numpang tertawa ya …
haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!
64.
Amed | 5 Desember, 2007 at 11:19 pm
@ Shelling Ford
Biar terpeta dengan jelas.
Perlu dong
Eh, saya serius!
@ Pemudadayak
*Pasang masker…*
BTW, mas komen saya kok lama bener dimoderasinya? Mbok dilepas doong..
65.
Shelling Ford | 5 Desember, 2007 at 11:47 pm
sebenernya sederhana aja kok, mas amed.
orang pinter: menafsirkan dalil dengan pinter.
orang goblok: menafsirkan dalil dengan goblok.
cuma ya, selama kita belum ketemu sama tuhan, ya kita belum tau kita ini termasuk pinter/goblok. kan belum bagi2 raport.
herannya, ada yang sok yakin kalo dia itu pinter dan jawabannya atas ‘pertanyaan’ dari tuhan pasti bener, padahal pengumuman hasil ujiannya belum keluar…hohohoho!
66. Cihuy … Retorika Masuk Infotaniment ! « Mengapa begini ? Mengapa begitu ? | 10 Desember, 2007 at 1:12 am
[...] hanya mengangkat isu yang berkaitan dengan serangan terhadap Manhaj Salaf, Antosalafy dan Persoalan Haramnya gambar. Sedangkan Isu lain yang dimuat di Retorika yang tidak kalah kontroversialnya malah tidak di sentuh [...]
67.
Freddy Hernawan | 10 Desember, 2007 at 3:48 pm
jarang-jarang nemu blog yang ringan tapi berisi. ini salah satu nya. good blog.
68.
Amed | 10 Desember, 2007 at 8:19 pm
@ Freddy Hernawan
Makasih Mas..
Perut saya juga berisi kok
69.
deltafarce | 10 Desember, 2007 at 9:02 pm
gambar mahluk hidup diharamkan!!!
itu hanya berlaku pada jaman rasul soalnya pada jaman itu org banyak menyembah berhala ,kalau kita memajang gambar mahluk hidup tidak haram kok asal niat cuma untuk buat hiasan bukan untuk maksud lain yg menuju ke musyrik
70.
celo =3 | 12 Desember, 2007 at 6:06 am
amed
asaltahu
benar sekali apa kata anda… KITA ini memukau ya… saya dan anda benar-benar memukau… mari kita berkaca bersama di sebuah cermin yang rata
asaltahu
karena pak amed adalah orang yang bodoh agama dan ingin mendapatkan pengetahuan yang lebih tentang agama… tentunya dari orang-orang pintar seperti baginda
yang karena sudah terlalu pintarnya memiliki hak untuk mengharamkan yang halalalmast
karena pake kampak lebih gampang…. apalagi kalo langsung ngebabat kepala orang yang megang pisau
cek&ricek
anooo… sudah pernah ngecheck di kamus-kamus apa arti ad hominem…??? di jagad wordpress sendiri banyak yang membahas tentang ad hominem lho…
iya memang pak amed baru dikritik sedikit sudah marah namun mengkritik orang begitu pedasnya… tapi setau saya pak amed nggak memnyasalahkan apakah orang yang dikritiknya marah atau tidak… kok anda sepertinya melarang pak amed untuk marah saat dikritik ya…???
hanif
Amin… semoga para pencetak uang itu membusuk dineraka… dan orang-orang yang menggunakannya juga terbakar dalam siksa yang pedih… amin… amin… amin….
cek&ricek
duh plis degh… kalo namanya cek&ricek… ya lakukanlah cek&ricek… jangan hanya sekedar cek atau investigasi satu arah aja dong….
joe
ahh kasar itu mas…. kalo menurut saya… orang goblok : menafsirkan apa adanya sementara orang pintar : menafsirkan dan menafsirkan dan menafsirkan dan menafsirkan ulang
freddy
AAPPPPAAAA….????
ini ringan….???? modddiiiiarrrr….
deltafarce
lha iki piye toh…??? haram atau nggak nih sebenarnya…??? lagian antum terlalu takabur… memang di Indonesia jarang ada yang menyembah berhala… tapi dunia itu tidak hanya Indonesia saja… antum terlalu cepat menyimpulkan bahwa kini sudah tidak ada yang berhala….banyak-banyaklah antum membaca buku dan menambah pengetahuan….
mas amed… kalo komentar saya dirasa terlalu menyinggung situ, saya mohon maaf…..
71.
secondprince | 17 Desember, 2007 at 3:39 pm
Seru juga ya
wah saya jadi tertarik dengan cek dan ricek
kira-kira apa dia juga akan menginvestigasi blog-blog yang suka mensesatkan dan memngkafirkan orang lain
72.
Amed | 21 Desember, 2007 at 8:40 pm
@ Deltafarce
Mungkin karena itulah gambar para rasul dan sahabat dilarang, karena ditakutkan akan “disembah”?
Tapi sadarkah kita kalau benda yang ada makhluk bernyawa di atas (baca: duwit) sekarang ini juga kerap disembah-sembah?
@ Celo =3
Wohoo.. manstab.. Terima kasih asistenku
Saya gak tersinggung kok, malah terbantu, dan bisa melihat segala sesuatunya dari sisi yang lain.
@ Secondprince
Hehe. Investigasi cuma sebagai wujud solidaritas gitu aja kok.
73. Fatwa Wonggendeng tentang Doraemon « hAtI kU | 23 Desember, 2007 at 7:10 pm
[...] wonggendeng: Seperti kebimbangan seorang blogger dulu, tentang hukum gambar bernyawa, kasus inipun memang sama. Tolong sampeyan semua baca tulisan saya ini baik-baik. Seperti tulisan [...]
74.
RETORIKA | 26 Desember, 2007 at 2:58 am
@ Amed
Cek&Ricek itu tau betul kalo dia sudah kalah diskusi dengan antum.
Tetapi perihal kenapa “yang ditunjukan adalah uang saudi” sepertinya sudah jelas.
=================================================
Karena pemerintah Saudi adalah pemerintahan dari negara yang berdasarkan syariat islam beraliran salafi wahabi yang terang terangan mengharamkan gambar/foto
=================================================
ketika cek&ricek meributkan mengapa bukan uang rupiah saja yang dijadikan contoh, ini juga cukup jelas.
1.Pemerintah Indonesia bukan berbasis Syariat salafi-wahabi dan tidak mengharamkan gambar
2.Terlihat jelas bahwa sikap nasionalisme cek&ricek patut dipertanyakan, bahkan bila ditanya pilih indonesia atau saudi mungkin makhluk yang satu ini akan memilih saudi …
75.
RETORIKA | 26 Desember, 2007 at 3:00 am
semakin memperkuat kesan dan bukti dari tidak konsistenya kaum salafy dan wahabi atas keputusan mereka.
simply : You win dora emon
76.
Amed | 26 Desember, 2007 at 7:25 pm
@ RETORIKA
VICTORY!!!
77.
aba shofiya | 28 April, 2008 at 9:48 am
Sekali lagi, manusia-manusia mendahulukan hujjah2 tanpa sandaran yang kuat. Sesuatu dinilai bukan karena mayoritas atau apa yang ada, namun dari dalil AlQuran dan Sunnah, jika hukum tersebut belum ada maka Kita melihat FATWA ULAMA atas hukum tersebut.
Kalau tidak berilmu: Monggo TUTUP MULUTMU, dan DENGARKAN, BACA apa Fatwa Ulama.
78.
ghaniarasyid™ | 12 Mei, 2008 at 10:47 am
sebenernya dari Hadits yang sahih emang nggak boleh… haram, menurut kata ulama-ulama.
Tapi seiring perkembangan jaman, tetntunya harus disesuaikan ma saat ini…. kan foto dan gambat-gambar itu penting banget dari berbagai segi dan unsur kehidupan.
Aku juga ikutan ta’lim Ahlussunnah manhaj Salaf.
Tapi dari diskusi-diskusi ma ustadz-ustadz dan ikhwan-ikhwan tempat aku ta’lim, aku bisa menyimpulkan gini…
Gambar yang nggak boleh adalah yang digantung aja, tapi yang ada dalam album foto nggak papa…
Soale, gambar seseorang yang digantung di tembok atau apapun itu biasanya menimbulkan perasaan kagum, dll…
jadi ga boleh…
Selain itu, ada haits yang bilang kalo Malaikat nggak mau masuk ke rumah orang yang terdapat lukisan/gambar makhluk bernyawa dan patung makhluk bernyawa…
begitulah pendapat saya…
ini pendapat yang moderat dari Ahlussunnah manhaj salaf.
*terengah-engah dengan penjelasan yang panjang-lebar-tinggi* :O
79.
Jojon | 29 Mei, 2008 at 9:44 am
kalau uangnya ana gantung di jemuran karena basah gimana hukumnya? terus kalo ana kagum dengan gambar yang ada diuangnya gimana juga hukumnya?
80.
Anak Chadstone | 17 Juni, 2008 at 1:50 am
Ghania Rasyid:
Antum khan pernah ikutan pengajian manhaj salaf, pengen nanya donk..paling banyak pengikut manhaj salaf dinegara mana sih? pengen pindah kesana buka usaha jualan album foto..
Di Melbourne mau bisnis? Mau bisnis narkoba? haram..Jualan Bokep? Haram..Prostitusi? Haram…yang Halal? Banyak, tapi Tax nya gede..pusing deh..
81.
deni | 23 Juni, 2008 at 4:08 pm
hemmmm..
oy salam kenal buat yang punya blog..
hemmmmm, sekali lagi..
kayanya kalo bahas yang ‘kaya gini’…
rasanya banyak kardus yang meng’kotak-kotak’an..
kardus=kardus.. bukan arti lain, ga ada tanda petiknya..
artinya, banyak orang yang masih bicara pake ‘aku dan ku,ku lainya.. dijamin ga mudeng (kekekekeke)..
eyd’nya masih serampangan…
masalah gambar ya..?
wah, aku sendiri baru tau hadistnya..
tapi kalo denger ‘berita’nya udah lama..
ya maklum, minim pengetahuan agama..
(dikamerku penuh gambar, buffon yang paling gede)
tapi yang jelas aku tertarik wacana kaya gini…
lebih disuruh mikir.. kenapa?
dari pada jawab.. itu=itu.. sesekalilah naya ‘kenapa?’kek..
jadi ga ada masukan, (benar or salah)..
maklum belum berkompeten untuk memberi fatwa…
kekekekekke..
semoga makin rame aja……………..
82.
ck..ck.. | 26 September, 2008 at 5:05 pm
bicara agama tuh berdasarkan dalil…
jangan cuma pake akal dong masss…apalagi pake perasaan belaka…kalo g tau ilmunya lebih baik diam.. emang anda udah mengecek dalilnya shahih apa ga? klo bener ada.. gimana…, islam tuh udah sempurna… tinggal manusianya aja masih males nyari ilmu…, udah ada dalil tapi masih pegang yang sesuai dengan akal dan perasaan doang… , sama2 cari ilmu deh klo gitu.. ucapan juga dipertanggungjawabkan…^^
83.
ManusiaSuper | 27 September, 2008 at 11:27 am
Lah, di sini masih lumayan seru yak?