Ahadith Dan Najd

28 Februari, 2008
Banjarbaru, 28 Februari 2008

Disclaimer:
Cukup panjang, cukup berat, tidak untuk disampahi.
Konsekuensinya jelas yaa, nyampah, OOT, ad-hominem, saya masukin keranjang sampah! Saya serius!
Posted under Islam, History and Life categories. Jadi anda harus tahu ke mana orientasi posting ini.

Awalnya saya menginstal software The Hadith dari Islamasoft yang saya dapat dari bonus CD PCMedia. Sebenarnya sudah lama software ini saya simpan, dan baru saja bisa saya instal setelah saya menganggur. Isinya adalah Hadith-hadith dari Shahi Bukhari.

Kemudian, lewat fasilitas search-nya, saya mencari hadith-hadith mengenai Kaum Badui (Bedouin) yang pernah saya bahas di posting sebelumnya. Hitung-hitung mau menambah referensi, setelah sebelumnya mencari dari Teks Al-Qur’an. Nah, dari sini saya menemukan tiga hadith yang serupa, hanya beberapa isinya agak berbeda.

Pertama dari Vol 1, Book 2. Belief. Hadith 044. sedangkan yang kedua dan ketiga dari Vol 3, Book 31. Fasting. Hadith 115. dan Vol 9, Book 86. Tricks. Hadith 088.. Perbedaan yang menjadi sorotan saya adalah, hadith pertama menyebutkan “A man from Najd with unkempt hair” sedang hadith kedua dan ketiga menyebutkan “A bedouin with unkempt hair”.

Dari sini saya berkesimpulan, mungkin yang dimaksud dari hadith ini adalah orang Badui yang berasal dari Najd, atau orang Badui yang tinggal di Najd.

Tunggu dulu… Najd itu apa?

Penasaran, saya search lagi dengan keyword Najd. Hasilnya ada 34 hadith yang mengandung kata Najd. Dan dari 34 hadith tersebut, 2 potong hadith berikut sangat menarik perhatian saya. Berikut saya kutipkan lengkap:

Vol 2, Book 17. Invoking Allah For Rain (Istisqaa). Hadith 147.

Narrated By Ibn ‘Umar: (The Prophet) said, “O Allah! Bless our Sham and our Yemen.” People said, “Our NAJD as well.” The Prophet again said, “O Allah! Bless our Sham and Yemen.” They said again, “Our NAJD as well.” On that the Prophet said, “There will appear earthquakes and afflictions, and from there will come out the side of the head of Satan.”

Vol 9, Book 88. Afflictions And The End Of The World. Hadith 214.

Narrated By Ibn ‘Umar: The Prophet said, “O Allah! Bestow Your blessings on our Sham! O Allah! Bestow Your blessings on our Yemen.” The People said, “And also on our NAJD.” He said, “O Allah! Bestow Your blessings on our Sham (north)! O Allah! Bestow Your blessings on our Yemen.” The people said, “O Allah’s Apostle! And also on our NAJD.” I think the third time the Prophet said, “There (in NAJD) is the place of earthquakes and afflictions and from there comes out the side of the head of Satan.”

Wow! Ketika Rasul menolak berdoa kepada Allah untuk memberkati daerah ini, alih-alih justru meramalkan terjadinya kegoncangan, fitnah dan munculnya “tanduk setan” di daerah ini, ini berita besar setidaknya buat saya yang baru mengetahui ada hadith yang berbunyi demikian dahsyatnya.

Mengenai kedudukan hadith ini, saya rasa dengan dimuatnya dua hadith ini dalam Shahi Bukhari sudah cukup menjelaskan validitasnya. Lagipula, Dr. M. Mukhsin Khan, penerjemah kitab ini telah menyatakan “His (Bukhari) criteria for acceptance into the collection were amongst the most stringent of all the scholars of ahadith.” Terlepas dari apakah masih ada distorsi dan konformitas dalam seleksi hadith-hadith beliau.

Pertanyaan berikutnya, di daerah mana tepatnya lokasi Najd?

Segera setelah bisa online, saya googling dan wiki keyword Najd. Dan, wohohoho… Ternyata Wiki menyebutkan kalau yang dimaksud Najd adalah suatu daerah dataran tinggi di tengah Semenanjung Arabia, yang disebut sebagai Plateau Of Nejd. Daerah ini juga menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Saudi Arabia, karena kota Riyadh, ibukota Saudi terletak di daerah ini.

Dan ternyata, keluarga kerajaan Al Saud berasal dari wilayah ini, utamanya berasal dari garis keturunan Banu Hanifa. Selain itu, ulama-ulama kenamaan Saudi seperti Ibn Baz dan Ibn al Uthaymeen juga lahir di daerah Najd.

Dan yang paling perlu diperhatikan adalah, Muhammad ibn Abd al Wahhab, teolog pemimpin gerakan salafiah ternyata juga berasal dari Najd. Precisely, beliau lahir di desa Uyainah, tahun 1701 M, dari garis keturunan Banu Tamim.

Tambah menarik nih! Lalu di Najd pernah ada kejadian apa?

Kebanyakan suku (Badui) di Najd merupakan suku-suku yang paling akhir masuk Islam, bahkan sebagian mereka baru memeluk Islam setelah Rasul wafat. Selain itu, sebagian lagi justru ada yang mengklaim memiliki nabi-nabi (tentunya palesu) sebagai penerus risalah kenabian Rasulullah. Salah seorang yang paling dikenal dalam sejarah literatur islam adalah Musaylimah (Al Kazzab) dari Banu Hanifa (ahem, hadn’t I mentioned this Banu before?). Musaylimah beraliansi dengan seorang wanita yang mengaku mendapat wahyu, Sajah Al-Tamimiyyah, yang kalau dilihat dari namanya, tentulah berasal dari Banu Tamim (ahem, hadn’t I also mentioned this Banu before?). Pengikut keduanya dikabarkan ditumpas di era Abu Bakr, di bawah pimpinan jenderal Khalid Ibn Al-Walid.

BTW, ini kok kayak Ahmad Musadeq sama Lia Eden yaa? *Halah, gak fokus nih!*

Satu lagi kejadian dalam sejarah adalah jatuhnya wilayah ini ke tangan kaum Kharijites, alias Khawarij. Sudah pada tahu kan Khawarij? Itu loh, yang dulu dijadikan dalil agar boleh menganjingkan sesama manusia. Pimpinan Kharijite di Najd adalah Najdah ibn ‘Amir dari Banu Hanifa (ahem, hadn’t I mentioned this Banu at least twice before?). Akan tetapi, kabarnya karena temperamen khas Khawarij (yang memang mayoritas didominasi suku Badui), yaitu kerap tidak mau kalah dan merasa benar sendiri itu, kaum ini kemudian terpecah-belah ke dalam beberapa faksi. Namun mereka sempat melakukan penyerbuan ke wilayah yang sekarang menjadi negara Iraq, dan sempat melakukan percobaan pembunuhan terhadap dua pemimpin yang sedang bertikai saat itu, Mu’awiyah ibn Abu Sufyan dan Ali ibn Abu Thalib. Percobaan pembunuhan terhadap Ali bahkan berhasil dilaksanakan, yaitu oleh Abdurrahman Ibn Muljam.

Lalu? Lalu?
Tunggu dulu, ternyata ada sebagian kalangan yang tidak terima, dan membantah kalau Najd yang disebutkan di dalam dua hadith di atas adalah Najd yang ada sekarang. Kebanyakan bantahan datang dari pihak Salafy/Wahabi. Alasan mereka tentu sudah cukup jelas, karena tidak terima wilayah mereka dituding sebagai tempat terjadi fitnah dan munculnya “tanduk setan”. Mereka menunjuk daerah Iraq sekarang sebagai Najd yang dimaksud. Beberapa pembelaan dilontarkan, bisa dibaca di sini. Tapi pembelaan-pembelaan itu justru masih bisa dipatahkan, misalkan di sini. Salah satu thread di forum MyQuran juga sempat membahas apakah Najd berada di Iraq atau di Saudi. Sayangnya, seperti halnya thread-thread kontroversial lainnya, ujung-ujungnya yang terjadi adalah debat kusir dan ad hominem gak jelas…

Saya sendiri sebenarnya tidak ingin debat kusir itu lalu berlanjut di sini, lalu bahkan berimbas pada tudingan yang macam-macam pada pribadi saya, misalnya tendensius, antek Yahudi, pengikut Syiah, atau apapun yang dianggap sebagai si penuding sebagai cara untuk mematikan karakter saya (hehe, I’m getting used to it now :mrgreen: ). Tapi ada beberapa pertanyaan dari saya yang masih memerlukan jawaban, dan saya benar-benar ingin tahu jawabannya. Oleh karena itu, saya akan coba kirim link tulisan ini ke beberapa blog bernuansa Islami di WordPress, via kolom komentar. Siapa tahu dari mereka ada yang bisa memberi jawaban yang lebih representatif terkait sejarah dunia Islam.

Berikut daftar pertanyaan saya:
1. Adakah yang tahu, kapan tepatnya Rasul membuat ramalan ini? Tahun berapa, di mana, dalam situasi apa, dan siapa yang dihadapi Beliau?
2. Kalau dikatakan Najd di dua hadith ini hanya diartikan secara umum, kenapa perbandingannya adalah our Sham (Syria sekarang) dan our Yemen (Yaman sekarang)? Kenapa ada specified possessive pronoun seperti OUR Najd? Tidak merely Najd?
3. Najd yang ada sekarang, dataran tinggi yang ada di tengah-tengah Arabian Peninsula itu, apakah 1400 tahun yang lalu juga bernama Najd atau ada nama lain? Kalau ada nama lain, apa namanya? Lalu sejak kapan nama Najd digunakan?
4. Adakah tempat bernama Najd di Iraq?
5. Kalau Najd diartikan sebagai “arah timur”, dalam hal ini adalah timur Madinah, lalu kita lihat di peta atau Google Earth, mana yang faktanya berada di sebelah timur? Najd Saudi atau “Najd” Iraq?
6. Apakah kalau begitu “our Sham” dan “our Yemen” itu boleh juga diartikan “utara kami” dan “selatan kami”?
7. Kalau Najd diartikan sebagai “dataran tinggi”, mana yang secara geologis lebih tinggi wilayahnya? Najd Saudi atau “Najd” Iraq?
8. Masalah “tanduk setan” (qarn al-shaytan) itu apakah ada hubungannya dengan “Qarn” yang ada di hadith-hadith terkait ihram haji? I.e: Vol 2, Book 26. Pilgrimmage (Hajj). Hadith 597, 599, 600, 601, 603, 604, 605 & 606 (Shahi Bukhari). What a coincidence ya?
9. Kalau Najd harus diartikan secara kontekstual, lalu ke mana metode tafsir tekstual yang diagung-agungkan selama ini? Lalu kenapa kalau menerjemahkan ayat/hadith tertentu justru harus saklek blek tekstual? Say for example anthromorphism dan matahari mengelilingi bumi?

Semoga puzzle tentang misteri Najd yang tengah saya susun ini bisa cepat saya selesaikan, agar gambaran jelas tentang sejarah Islam bisa terpampang dengan jelas, tidak hanya bagi orang-orang yang menggeluti secara serius dunia Islam, tapi juga bagi orang awam yang ignorant seperti saya… Amin…

28 Tanggapan to “Ahadith Dan Najd”


  1. wadyah. ini terlalu berat buat saya…

    wallahualam aja bisanya…

    selamat mencari Bang Amed…
    nanti saya dibagi ilmunya…
    :D

  2. rizko Says:

    terlalu berat juga buat saya, sholat aja saya seringnya telat n jarang banget ke masjid, dan saya masih tidak menganggap panggilan Allah SWT, saya ternyata lebih takut kepada manusia dibanding Allah SWT…

    hal2 seperti ini terlalu rumit untuk saya pikirkan….


  3. [...] Tersangka Utama Yang sedang terkena Musibah 2. PenJual Mobil Edan 3. Serangan Fajar ??? 4. Ahadith Dan Najd 5. orang pintar VS orang bodoh. ho ho ho…. [...]


  4. ndak rame, oom. jangan ada yg dimoderasi, deh. saya lagi kepengen nenteng2 pentungan baseball soale, kekekeke

  5. Amed Says:

    @ Mrs. Fortynine
    Saya akan terus mencari, mencari kebenaran yang Haqiqie tanpa Amaliah :mrgreen:

    @ Rizko
    Yah, rumit memang, saya juga mungkin sama ignorant-nya dengan Mas Rizko, tapi mumpung saya nemu hal “seberat” ini, saya rasa akan sangat jadi beban buat saya jika hanya berdiam diri tanpa mencari jawabannya..

    @ Uwak
    Kok trekbeknya doang yang nyampe Wak? Komennya dong…

    @ Joesatch yang katanya legendaris
    Hehe, tapi cara ini terbukti efektif sebagai penangkal komen sampah Joe… Setidaknya saya jadi ndak harus nanggapin komen terlalu banyak *masih trauma dengan 80 komentar dalam 2 hari yang dulu itu*
    Baidewei, pendapatmu soal isi postingannya sendiri gimana? Saya nungguin feedback (serius) dari pembaca nih…

  6. calonorangtenarsedunia Says:

    *test*

    moderasi ga?

    IMHO, bagaimanapun adalah sulit melacak kebenaran suatu hadis walaupun dua kali disebut oleh Bukhari, misalnya.

    Setau saya sih, dari apa yang pernah saya baca, Najd yang dimaksud di situ adalah memang yang ada di semenanjung Arab. Tempatnya Wahabi berkembangbiak.

    Ga boleh ad-Hominem ya? :mrgreen: Sebenernya saya cuma mau blg gini, kalo Najd itu adanya di Saudi Arabia kan berarti ramalan Rasul kejadian. :lol:


  7. Berat.

    Yang menarik ada ngga hubunganya dengan suku Badui, yang ada di indonesia.

    Soal keras kepala mungkin sudah genetis, makanya tempat sekarang mereka berada – saudi arabia diduduki kaum wahabi. sedikit serupa kan.

    ingat tidak ada asap kalau tidak ada api :? makanya wahabi bersikap aneh.

  8. Amed Says:

    @ Calonorangtenarsedunia
    Belum.. belum segitunya kok.. Gertak sambal doang, hehe…

    IMHO, bagaimanapun adalah sulit melacak kebenaran suatu hadis walaupun dua kali disebut oleh Bukhari, misalnya.

    Nah, itu dia, makanya saya bilang, terlepas dari Distortion dan Conformity itu tadi, mengingat hadith dibukukan bertahun-tahun setelah Rasul wafat. Bukhari saya pilih karena beliau yang paling “stringent” paling selektif dalam sortir hadith yang masuk. FYI, hadith yang bunyinya hampir sama dengan di atas juga ada di riwayat-riwayat dari perawi lainnya, tapi entah mana pula yang paling akurat penulisannya.

    Setau saya sih, dari apa yang pernah saya baca, Najd yang dimaksud di situ adalah memang yang ada di semenanjung Arab. Tempatnya Wahabi berkembangbiak.

    Google Earth juga berkata demikian, Wiki juga.. Sejarah yang saya baca juga demikian. Tapi kenapa masih ada bantahan terlontar?

    Ga boleh ad-Hominem ya? :mrgreen: Sebenernya saya cuma mau blg gini, kalo Najd itu adanya di Saudi Arabia kan berarti ramalan Rasul kejadian. :lol:

    Hmm.. kalau memang ramalan Rasul kejadian, lah berarti akhir dunia sudah semakin dekat ya? :mrgreen:

    @ RETORIKA-1000DS
    Maaf kalo agak berat, bro.. Biar berat asal akurat, itu motto saya sekarang, wakakak…

    Yang menarik ada ngga hubunganya dengan suku Badui, yang ada di indonesia.

    Eyalah, kalau itu mah kayaknya gak ada hubungannya..
    Klarifikasi aja ke http://sukubaduy.wordpress.com

    Perkara genetika… Bisa jadi, tapi saya lebih cenderung karena faktor geografis-sosiokulturnya, yang membangun masyarakat yang keras. Ingat bro, itu pegunungan padang pasir yang maha berat kondisi alamnya, bukan pantai landai seperti di Yemen…

  9. Cabe Rawit Says:

    Wah… ane kagak kompeten dengan masalah ini. Tafi terimakasih atas undangannya. Ane minta waktu dolo sebentar, kudu buka dulu hadist di maksud. Sebenernya ane pernah mendengar hadist ini. Mudah-mudahan di Sarah-nya bisa ditemukan asbaab alwurudnya. Jadi konteks hadistnya bisa difahami. :)
    *mbongkar kitab dolo*

  10. orgawam Says:

    Assalamungalaikum wrwb.
    Terima kasih undangannya.. saya bukan ahli. Kalau boleh berpendapat;

    Najd adalah Najd, Iraq adalah Iraq. Keduanya beda.. ini menurut pendapat saya. Alasannya .. saya setuju dengan mas Alexander, sebagaimana postingan beliau yang saya angkut. Ada beberapa stressing,

    1. Tanduk itu mempunyai dua ujung (dua batang). Bisa saja tanduk satu yang dimaksud adalah Iraq, sedangkan tanduk yang lain menunjuk ke Najd. Adakah ada hadits lain yang menunjuk daerah lain selain kedua daerah ini sebagai tanduk.

    2. Mungkin saja pada waktu sahabat Nabi saw itu meminta daerahnya didoakan, mereka memintanya beramai-ramai. Saling bersahut-sahutan. Kesan saya demikian. Ada yang meminta Najd, ada yang meminta Iraq, dan lain-lain. Nahh pas kedua-nya disebut, demikianlah jawaban Rasul saw.

    3. Batas-batas negara bisa berubah, tapi kayaknya nama-nama daerah di Arab sana tidak berubah sejak dulu. Ada Iraq, Syam, Yaman, Madinah, Mekah..yang tetap asli namanya. Adakah Najd berubah namanya?

    4. Jika Najd diartikan dataran tinggi, maka maksud lebih mendekati Riyadh dari pada Iraq.

    5. Jika Najd dimaksudkan sebelah timur, maka Riyadh lebih mendekati dari pada Iraq.

    6. Mengenai fitnah islam, menyimak sejarah, iraq memang mengalami kejadian luar biasa dahsyatnya. Bahkan sampai saat ini. Namun sejarah Najd (seputar Riyadh) juga patut disimak.

    7. Maaf.. ttg tanduk yang punya dua sisi. Telah ada syiah di satu sisi, munculnya di daerah Iraq (karbala berada di Iraq). Di sisi lain khawarij muncul di ….. (kayaknya ada diposting sampeyan mas Amed).

    Maaf kalau ada salah.
    Wallahu a’lam.

    Wallahu a’lam.

  11. agorsiloku Says:

    Mas Amed, ini benar-benar bahasan yang menarik. Saya sangat tidak menguasai persoalan di seputar Najd dan Sabda Rasul yang menurut para ahli hadis seperti telah Mas uraikan dan link-link yang terkait. Yang saya pahami syetan itu adalah karakter (menyifati) suatu perilaku yang tidak diridhai Allat SWT. Setan dari golongan jin dan manusia. Jadi, ketika dikatakan “tanduk setan”, tentunya pengertiannya juga lebih terarah pada karakter bukan pada wujud atau kemunculan tanduk. :D
    Ketika menelusuri link yang Mas sampaikan dan beberapa sumber lain, begitu terasa nuansa “politik”-nya dari sejarah Najd ini. Nah, kalau begitu, tentulah dari dulu sampai kini akan banyak kepentingan dan pembenaran berlangsung. Konsekuensi logisnya, Najd ini akan dijadikan alat untuk mengelaborasi kebenaran dan ketidakbenaran untuk kepentingan politik/kekuasaan atau nafsu.
    Karena, tidak ada seorang pun mau dijadikan wilayahnya sebagai sumber tanduk setan !. Apapun yang menjadi alasannya. Dan dalam hal ini hadis Nabilah yang dijadikan pergumulan alasannya. Apalagi kemudian ini dikaitkan dengan fenomena kejadian menjelang masa akhir peradaban.
    Iya kalau hadis itu benar diucapkan Nabi. Kalaupun iya, apakah pendengar yang mendengar dari “…ayahnya…” dari… dari…
    tidak mengalami distorsi seperti yang Mas sebutkan.
    Distorsi menjadi logis karena ada bauran kepentingan di dalamnya sehingga pembahasan atau analisisnya juga jelas merupakan usaha pembenaran….
    Jadi, singkatnya… saya belum bisa menjawab perihal hal ini. :(

  12. cessario Says:

    Wah, asik baca nya, keren2.. good info!

  13. Herianto Says:

    Assalamungalaikum wrwb.
    Terima kasih bung amed atas undangannya.
    Saya sudah baca postingan ini dan komen2 nya, semuanya insya Allah dapat memberikan pencerahan. Tapi untuk memberikan pendapat memang berat. Di samping belum pernah mengkajinya bahkan mendengar fenomena ini saja baru kali ini.
    Jadi terima kasih sekali telah memperluas bahan kajian dan pemikiran ke depan ttg sejarah Islam.
    Wassalam.

  14. almascatie Says:

    uh bener2 panjang bang…
    *ngumpet*

  15. Abu Alkayyis Says:

    salaam kenal, baru sekarang saya berkunjung. Saya berkomentar nanti akan ada yang tersinggung (tanduk setan sih…)

    Di Blog saya saya hindari -sebisa mungkin- untuk tidak menyinggung dan lebih memberikan yang bisa mudah difahami dan diamalkan.

    Gampangnya Arab Saudi….


  16. bentar, bos. saya juga gara2 postingan ini skrg lagi sibuk nyari2 literatur ttg najd. cuma kalo pengen berpikir secara subyektif, saya juga jadi pengen tersenyum2 sendiri, kekekekeke

  17. Abu Alkayyis Says:

    Assalamu alaikum

    Kalo bener2 mau tanya… Tanya ke orang tang Alim. Setahu saya di Banjarmasin banyak Ulama dan Ahli Hadits.

    Saya ada kenal di Amuntai DR. Shobran, kamu tanya saya ke beliau, semoga mendapatkan jawaban yang memuaskan.

  18. aldohas Says:

    sepakat ama yang diatas
    karena setahuku, tafsir hadist itu gak sembarangan
    karena hadist juga gak sembarangan
    dan hadist memang sangat rumit
    banyak faktor yang mempengaruhi

    mulai dari bahasa arabnya (paling rumit dipelajari, gak bisa langsung tafsir perkata, apalagi tafsirnya dari bahasa inggris ???)
    sebab-sebab hadist, keadaan saat itu, hubungan dengan hadist lain (so, harus hapal banyak hadist) termasuk keshahihannya (harus hapal sanadnya, bersambung ato gak)

    ada kok pakar yang emang udah cape2 mempelajari itu semua (ulama-ulama ahli hadist), gak hanya sebentar, tapi bertahun-tahun, so kayaknya gak layak klo kita yang hanya baca bentar plus googling singkat berani-beraninya menafsirkan sendiri

    tp, klo buat anda sendiri ma terserah, silahkan saja, n tanggung sendiri akibatnya klo ternyata anda salah dan telah membuat orang lain salah, hehehehe….


  19. Buat apa antum bikin beginian? Apakah antum ahlul kitab? Ahlul bait? Ahlul jannah atau ahlul apa?

    Yang begini tidak pantas dipertanyakan. Karena menurut wak somad, orang Islam itu hanya butuh Iman. Bukan logika seperti yang antum paparkan!

    Hapus saja postingan ini, atau privatisasi saja blog ini!

  20. Amed Says:

    @ Cabe Rawit
    Nah, itu dia yang juga saya cari-cari, sebab terucapnya hadith ini… Kira-kira konteksnya apa, gitu loh…

    @ Orgawam
    Terima kasih tambahan informasinya, Mas. Saya belajar banyak juga dari dua postingan Anda.

    @ Agorsiloku
    Saya sependapat dengan mas Agor. Kepentingan dan politik tentunya dua hal yang tidak terpisahkan. Seperti yang dibilang Lord Palmerston, “Nations have no permanent friends or allies, they only have permanent interests.” Dan sampai saat ini saya masih cenderung skeptis dan menganggap, bahkan agama-pun sekadar dimanfaatkan untuk meraih kepentingan-kepentingan itu. Jadilah yang diutamakan bukan kebenaran sejati, tetapi lebih ke pembenaran demi keuntungan sepihak.

    Karena, tidak ada seorang pun mau dijadikan wilayahnya sebagai sumber tanduk setan !. Apapun yang menjadi alasannya. Dan dalam hal ini hadis Nabilah yang dijadikan pergumulan alasannya.

    Tapi semoga dengan menulis post ini saya tidak dicap sedang ingin menciptakan pergumulan baru ya Pak…

    Iya kalau hadis itu benar diucapkan Nabi. Kalaupun iya, apakah pendengar yang mendengar dari “…ayahnya…” dari… dari…tidak mengalami distorsi seperti yang Mas sebutkan.

    Ya, dan untuk alasan itulah saya memilih Bukhari, yang katanya paling ketat dalam seleksi hadith. Yang mengatakan bukan saya, tapi mereka-mereka yang sudah puluhan, ratusan, bahkan ribuan tahun belajar hadith…

    Distorsi menjadi logis karena ada bauran kepentingan di dalamnya sehingga pembahasan atau analisisnya juga jelas merupakan usaha pembenaran….

    Buat saya, pembenaran masih belum bisa dianggap sebagai tindakan logis, mas, melainkan hanya tindakan yang “dapat dimengerti”, dalam artian, semua tentulah pengen “cari selamat” dulu… iya toh?

    Jadi, singkatnya… saya belum bisa menjawab perihal hal ini. :(

    Yah… kok ujungnya?

    @ Cessario
    Makasih…

    @ Herianto
    Makasih Pak, manfaat, dan semoga manfaat itu juga yang bisa saya dapat..

    @ Almascatie
    *Melotot*

    @ Abu Alkayyis
    Salam kenal Pak Herry, hehe… Yah, mengenai yang ringan-ringan, kalau niatnya memang pengen dakwah buat memajukan syiar Islam ya silakan dilakukan.
    Di post ini saya memang ndak berniat untuk dakwah, karena sudah banyak, termasuk pak Herry yang melakukannya, (dan tentunya lebih kompeten lah). Saya juga ndak muluk-muluk pengen membuka dialog teologi tingkat tinggi.
    Saya hanya penasaran. Dan rasa penasaran saya itu kebetulan terakomodir lewat akses internet dan beberapa kitab milik adik ipar serta bapak saya.
    Mengenai tanya langsung, Insya Allah juga akan saya coba lakukan. Cuma kalau ke Amuntai, wah kejauhan itu Pak, Amuntai itu 160 kilo lebih dari Banjarbaru. Tapi rencananya Senin malam ini ada kajian Hadith di mushola dekat rumah. Moga ngebahas hal-hal semacam ini juga, walau biasanya sih yang dibahas yang “ringan-ringan” aja hehe…
    But, anyway, makasih sarannya Pak…

    @ Joesatch yang legendaris tapi kata si Amad belagu ituh
    Saya tungguin tambahan infonya yaa… Kalo bisa dipost di sono ngelink ke sini yaaa… *nodong*

    @ Aldohas
    Sulit, rumit, tapi tentunya tidak jadi alasan untuk kita jadi malas mempelajarinya kan?
    Lalu, setahu saya, CMIIW, bahasa arabnya hadith itu sudah jauuuh lebih sederhana dari Al-Quran.
    Mengenai tafsir bahasa Inggris, menurut anda lebih parah mana dengan tafsir bahasa Indonesia? Kalau sama saja rumitnya, apakah berarti hadith hanya boleh dipelajari oleh orang yang cuma bisa bahasa Arab?
    Kalau begitu yang terjadi, lalu apakah kita hanya boleh pasif menunggu apa yang oleh ulama ahli hadith layak untuk dibahas dan menjadi santapan publik? Lalu hal-hal semacam ini, yang selama ini ditutup-tutupi, apa kita hanya boleh ignorant terhadapnya?

    @ Mr. Fortynine
    Terima kasih atas ad hominemnya. Saya ahlul ahwa, hohoho…

    Saya tidak bicara iman dan logika, itu sudah antum bahas dengan Uwak kan? Saya di sini membahas hadith, sejarah Islam dan ramalan Rasul. Setiap orang punya porsi bahasan masing-masing kan?

    Hapus saja postingan ini, atau privatisasi saja blog ini!

    Ah, memangnya saya antum? Yang suka hapus-hapus blog dan menutup kolom komentar di fortynine?

  21. secondprince Says:

    Hmm pokok bahasan ini memang menarik juga, dari dulu sih memang kontroversi tentang Najd dalam hadis tersebut
    Sayangnya saya lebih fokus pada arti tanduk setan dalam hadis tersebut, ada hadis lain yang senada dengan tanduk setan tetapi tidak terkait dengan Najd
    Silakan dicari, semoga bisa membantu


  22. :D

    terima kasih atas tanggapannya…

    *ngakak*

  23. Guh Says:

    Saya mau dong di notify atau dispam atau apalah, yang penting di beritahu kalau sudah ada kelanjutan dari pencarian ini :D

    Terimakasih

  24. qeyama2 Says:

    jadi pingin komen…
    senernya masalah ini emang menarik…lho maksudnya
    iya,,,baik yang pro maupun kontra,,dar dulu sampe sekarang dan mungkin sampe nanti ga bisa sependapat…

  25. akarimomar Says:

    sudi kiranya membaca ulasan ini:

    Hadith Najd – Kebenaran Yang Digeruni dan Pembohongan Fakta
    http://blogtraditionalislam.wordpress.com/2009/02/06/hadith-najd-%E2%80%93-kebenaran-yang-digeruni-dan-pembohongan-fakta/

  26. uut Says:

    Muhammad bin Abdul Wahhab: Fitnah Nejed?

    (Kritikan Ilmiah untuk Penentang Dakwah Tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab)

    INILAH JAWABANNYA

    Demikianlah teks ucapannya sebagaimana termuat dalam Majalah ”Cahaya Nabawiy” Edisi 33 Th. III Sya’ban 1426 H (September 2005 M) hal. 15-17 tanpa saya kurangi atau tambahi (adapun penulisan cetak tebal dalam beberapa kata atau kalimat adalah dari admin blog). Ucapan di atas mendorong penulis menanggapinya dalam tiga point pembahasan:

    Sebenarnya apa yang dilontarkan oleh saudara Masun Said Alwy di atas bukanlah hal baru melainkan hanyalah daur ulang dari para pendahulunya yang mempromosikan kebohongan ini, semisal al-Haddad dalam Mishbahul Anam hal. 5-7, al-A’jili dalam Kasyful Irtiyab hal. 120, Ahmad Zaini Dahlan dalam Durarus Saniyyah fir Raddi ‘alal Wahhabiyyah hal. 54([3]), Muhammad Hasan al-Musawi dalam al-Barahin al-Jaliyyah hal. 71, an-Nabhani dalam ar-Raiyah ash-Sughra hal. 27, dan lain-lain dari orang-orang yang hatinya disesatkan Alloh. Semuanya berkoar bahwa maksud ”Nejed” dalam hadits-hadits di atas adalah Hijaz (Saudi Arabia sekarang) dan maksud fitnah yang terjadi adalah dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab!

    Kebohongan ini sangat jelas bagi orang yang dikaruniai hidayah ilmu dan diselamatkan dari hawa nafsu, ditinjau dari beberapa segi:lanjutkan
    http://abiubaidah.com/kritikhadits-wahabi.html/

  27. Amd Says:

    @Uut

    Sebentar, sebentar, Kok tiba-tiba ada klaim kalau Najd = Hijaz? Siapa yang mengatakan demikian?

    Hijaz ada di sebelah barat Medina, sedangkan Najd di sebelah timur. Hadith di atas mengatakan tanduk muncul di timur atau di barat?

    http://id.wikipedia.org/wiki/Hijaz

    Bedakan dengan

    http://id.wikipedia.org/wiki/Nejd

    Dan sejarah mencatat, baru pada 1924 Hijaz di”akuisisi” oleh Nejd, dan berdirilah kerajaan Saudi Arabia.

    Jadi, poin dari komentar panjang lebar di atas sebenarnya apa sih? Siapa yang sedang mengumbar kebohongan?

  28. Hamba Allah Says:

    dari jalur Ismail bin Mas’ud: Menceritakan kami Ubaidullah bin Abdullah bin Aun dari ayahnya dari Nafi ‘dari Ibnu Umar – dengan lafazh:

    اللهم بارك لنا في شامنا, اللهم بارك لنا في يمننا. فقالها مرارا, فلما كان في الثالثة أو الرابعة, قالوا: يا رسول الله! وفي عراقنا? قال: إن بها الزلازل والفتن وبها يطلع قرن الشيطان

    Wahai Alloh berkahilah kami dalam Syam kami, wahai Alloh berkahi kami pada Yaman kami. Ia mengulanginya beberapa kali, pada ketiga atau keempat kalinya, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah! Dalam Irak kami? “Beliau menjawab,” Sesungguhnya di sana terdapat kegoncangan dan fitnah dan di sana pula muncul tanduk setan. ”

    * Sanad hadits ini bagus. Ubaidullah seorang yang dikenal haditsnya, sebagaimana kata Imam Bukhari dalam Tanggal al-Kabir 5/388/1247. Ibnu Abi Hatim berkata dalam al-Jarh wat Ta’dil 5 / 322 dari ayahnya, “Shalih (bagus) haditsnya.”

    * Imam Muslim dalam Shahihnya 2905 meriwayatkan dari Ibnu Fudhail dari ayahnya, dia berkata, “Saya mendengar ayahku Salim bin Abdullah bin Umar berkata:

    يا أهل العراق! ما أسألكم عن الصغيرة وأركبكم عن الكبيرة, سمعت أبي عبد الله بن عمر يقول: سمعت رسول الله n يقول: إن الفتنة تجيئ من ها هنا وأومأ بيده نحو المشرق, من حيث يطلع قرن الشيطان

    Wahai penduduk Irak! Alangkah seringnya kalian bertanya tentang masalah-masalah sepele dan alangkah beraninya kalian menerjang dosa besar! Saya mendengar ayahku Abdullah bin Umar mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-bersabda,’ Sesungguhnya fitnah datangnya dari arah sini-beliau sambil mengarahkan tangannya ke arah timur-, dari situlah muncul tanduk setan …. ‘”

    Riwayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa maksud “arah timur” adalah Irak sebagaimana dipahami oleh Salim bin Abdullah bin Umar.

    * Al-Khaththabi berkata dalam I’lam Sunan 2 / 1274, “Nejed: arah timur. Bagi penduduk kota Madinah, nejednya adalah Irak dan sekitarnya. Asli makna ‘Nejed’ adalah setiap tanah yang tinggi, lawan kata dari ‘Ghaur’ yaitu setiap tanah yang rendah seperti Tihamah (sebuah kota di Makkah-pen) dan Makkah. Fitnah itu muncul dari arah timur dan dari arah itu pula keluar Ya’juj dan Ma’juj serta Dajjal sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadits. ”

    * Demikian pula dijelaskan oleh para ulama lainnya seperti:

    1. al-‘Aini dalam Umdatul Qari 24/200,
    2. al-Kirmani dalam Syarh Shahih Bukhari 24/168,
    3. al-Qashthalani dalam Irsyad Sari 10/181,
    4. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 13/47,
    5. dan sebagainya.

    Sejarah dan fakta lapangan membuktikan kebenaran hadits Nabi di atas. Benarlah, Irak adalah sumber fitnah, baik yang telah terjadi maupun yang belum terjadi. Seperti:
    1. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj,
    2. Perang Jamal,
    3. Perang Shifin,
    4. Fitnah Karbala ‘,
    5. Tragedi Tatar.
    6. Demikian pula munculnya kelompok-kelompok sesat seperti
    • Khawarij yang muncul di kota Harura ‘-kota dekat Kufah-,
    • Rafidhah (Syi’ah)-hingga kini masih kuat-,
    • Mu’tazilah,
    • Jahmiyah, dan
    • Qadariyah.
    Awal kemunculan mereka di Irak, sebagaimana dalam hadits pertama Shahih Muslim.
    Dan kenyataan yang kita saksikan dengan mata kepala pada saat ini, keamanan di Irak terasa begitu mahal. Banyak peperangan dan pertumpahan darah, serta andil (intervensi) orang-orang kafir dalam menguasai Irak. Kita berdo’a kepada Alloh agar memperbaiki keadaan di Irak, mengatur langkah para mujahidin di Irak dan menyatukan barisan mereka. Amiin.

    • Ibnu Abdil Barr berkata dalam al-Istidzkar (27/248), “Rasulullah mengabarkan datangnya fitnah dari arah timur, dan memang benar secara nyata bahwa kebanyakan fitnah muncul dari timur dan terjadi di sana. Seperti perang Jamal, perang Shifin, terbunuhnya al-Husain, dan lain sebagainya dari fitnah yang terjadi di Irak dan Khurasan dari dahulu hingga sekarang. Akan sangat panjang kalau mau diuraikan. Memang, fitnah terjadi di setiap penjuru kota Islam, namun terjadinya dari arah timur jauh lebih banyak. ”

    • Syaikh Abdur Rahman bin Hasan berkata dalam Majmu’atur Rasa’il wal Masa’il (4/264-265), “Telah terjadi di Irak beberapa fitnah dan tragedi mengerikan yang tidak pernah terjadi di Nejed Hijaz. Hal itu diketahui oleh seorang yang menelaah sejarah, seperti keluarnya Khawarij, pembunuhan al-Husain, fitnah Ibnu Asy’ats, fitnah Mukhtar yang mengaku sebagi nabi … dan apa yang terjadi pada masa pemerintahan Hajjaj berupa pertumpahan darah, sangat panjang kalau mau diuaraikan. ”

    • Syaikh Mahmud Syukri al-Alusi al-Iraqi berkata dalam Ghayatul Amani (2 / 180), “Tidak aneh, Irak memang pusat fitnah dan musibah. Penduduk Islam di sana selalu dihantam fitnah satu demi satu. Tidak samar lagi bagi kita, fitnah anggota Harura ‘(kelompok Khawarij-pen) yang menggambarkan Islam. Fitnah Jahmiyah yang banyak dikafirkan oleh mayoritas ulama salaf juga muncul dan berkembang di Irak. Fitnah Mu’tazilah dan ucapan mereka terhadap Hasan al-Bashri serta lima pokok ajaran mereka yang berseberangan dengan paham Ahlus Sunnah begitu terkenal. Fitnah ahli bid’ah kaum sufi yang menggugurkan beban perintah dan larangan yang berkembang di Bashrah. Dan fitnah kaum Rafidhah dan Syi’ah serta perbuatan ghuluw (berlebihan) mereka terhadap ahli bait, ucapan kotor terhadap Ali bin Abu Thalib-radhiyallahu a’nhu-serta celaan terhadap pembesar para sahabat, merupakan hal yang sangat terkenal juga. ”
    Anggaplah bahwa “Nejed” yang dimaksud hadits di atas adalah Nejed Hijaz, tetap saja tidak mendukung keinginan mereka, sebab hadits tersebut hanya mengabarkan terjadinya fitnah di suatu tempat, tidak menvonis perorangan seperti Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Terjadinya suatu fitnah di suatu tempat, tidaklah mengharuskan tercelanya setiap orang yang bertempat tinggal di tempat tersebut.

    • Bukankah Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam-juga mengabarkan akan terjadi fitnah di kota Madinah Nabawiyah?! Seandainya terjadinya fitnah di suatu tempat pasti mengakibatkan setiap penduduknya tercela, maka itu artinya seluruh penduduk Madinah tercela, padahal tak seorangpun mengatakan hal ini. Bahkan tidak ada suatu tempat pun di dunia ini-baik telah terjadi maupun belum-kecuali akan terjadi fitnah di dalamnya. Lantas akankah seseorang berani mencela seluruh kaum muslimin seantero dunia?! Jadi, timbangan celaan seorang bukanlah karena dia lahir di tempat ini atau itu. Tetapi timbangannya adalah kalau dia sebagai pemicu fitnah berupa kekufuran, kesyirikan, dan kebid’ahan. (Shiyanatul Insan ‘an waswasah Syaikh Dahlan hal. 498-500 oleh Syaikh Muhammad Basyir al-Hindi)

    agar lebih rinci lanjutkan ke
    http://abiubaidah.com/kritikhadits-wahabi.html/

    wallahu a’lam.


Comments are closed.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: