Kebahagiaan

18 November, 2009

Seorang rekan, dengan gaya sinisnya yang khas, berdoa di Fesbuk.

“Tuhan… saya mohon jadikan saya manusia yang kebahagiaan dan kesedihannnya tidak tergantung pada manusia lain…”

Saya tertarik pada satu kata yang saya cetak tebal di atas: kebahagiaan.

Apa itu kebahagiaan? Bagaimana mendefinisikan kebahagiaan itu? Apa ciri orang bahagia? Parameter apa yang bisa kita gunakan untuk mengukur kebahagiaan?

Tiap orang mungkin akan berbeda dalam menjabarkan kebahagiaan menurut versi masing-masing. Ada yang mungkin mengidentikkan kebahagiaan dengan seberapa berlimpah materi yang dimiliki, ada yang dengan jabatan yang tinggi, dan bahkan ada yang dengan jumlah hati yang pernah disinggahi… Harta, tahta, wanita…

Saya tidak dalam posisi menganggap ada yang benar atau ada yang salah. Saya sendiri juga masih mencari kebahagiaan. Mungkin setiap orang hidup pun juga sama, mencari kebahagiaan. Tak heran kalau dalam ajaran agama pun ada janji-janji terkait surga. Bukan hal aneh kalau setiap perusahaan menargetkan margin keuntungan yang terus meningkat setiap tahun. Dan adalah lumrah kalau cerita, novel, film dan sinetron lebih banyak yang berakhir bahagia…

Yang saya herankan adalah, kenapa kebahagiaan harus ditaruh di bagian akhir? Bahkan pepatah lama mengatakan “bersakit-sakit dahulu, senang senang kemudian”! Bahwa kebahagiaan hanya bisa dicapai dengan perjuangan dan kerja keras, saya tidak menampik. Akan tetapi saya kok merasa tidak sreg kalau proses mengejar kebahagiaan itu harus dilalui pula dengan tidak bahagia.

Dua tahun lalu, di tengah ritme kerja yang berat, saya beranggapan kalau kebahagiaan akan dicapai kalau kita mau bersyukur.
Tahun lalu, setelah menjadi guru dan melihat sendiri betapa profesi guru kerap menjadi sasaran empuk politik pencitraan penguasa, saya mengubah pandangan kalau kebahagiaan hanya akan dicapai kalau ada keadilan.
Tahun ini, di tengah carut-marutnya pertarungan para reptil, ditingkahi meningkatnya penjualan lilin, teplok dan genset, serta badai tuduhan-tudingan-hujatan di sana-sini, apa lagi makna kebahagiaan buat saya?

Akhirnya saya temukan jawabannya pekan lalu, mengutip tulisan seorang praktisi pendidikan.

The main difference between happy and unhappy people is that happy people mostly evaluate their own behavior and constantly attempt to improve what they do.

Unhappy people, on the other hand, mostly evaluate the behavior of others and spend their time criticizing, complaining and judging in an attempt to coerce them into “improving” what they do.
(William Glasser, The Quality School, pg. 180)

Ternyata perbedaan antara orang yang bahagia dan yang tidak bahagia adalah kemampuan mengevaluasi dan mengembangkan diri. Bahwa orang akan bahagia jika ia senantiasa mengasah dirinya menjadi lebih baik lagi setiap harinya. Dan orang akan tidak bahagia kalau melulu ngurusin, ngrasanin, mengkritik memprotes dan menghakimi orang lain, demi memuaskan ego bahwa dirinyalah pusat dunia, dan orang lain seharusnya berlaku dan berbuat sesuai keinginannya.

Ternyata itu saja. Dan saya merasakan sendiri. Saya tidak merasa bahagia ketika sibuk melihat aib dan kekurangan orang lain. Jika aib tak nampak, saya mengaisnya agar muncul ke permukaan. Ada 1001 macam pembenaran untuk mengkritisi dan menghakimi orang lain, atas nama perbaikan, atas nama idealisme, atas nama ideologi. Dan apakah sikap ini membahagiakan? Toh ternyata tidak.

Kutipan di atas, setidaknya untuk sementara menyadarkan saya, untuk bisa lebih memperbaiki diri, sebelum menuding orang lain dan menyuruhnya menjadi sesuai apa yang kita inginkan. Seperti yang kerap saya sampaikan juga kepada anak-anak di kelas “ketika kau menuding seseorang, lihatlah, ada tiga jemari yang sedang menunjuk ke dirimu sendiri.”

17 Tanggapan to “Kebahagiaan”

  1. jensen99 Berkata

    Hmm… saya memikirkan konsep kebahagiaan ini sejak tahun lalu, tapi ya belum beranjak dari teori juga, masih jauh dari mengalaminya. :mrgreen:
    *happiness-hunter mode*

  2. Aap Berkata

    Semua orang menginginkan bahagia termasuk saya !

  3. yulian Berkata

    satu lagi dilarang bahagia di atas penderitaan orang lain.. BTW memang temennya yang berdo’a di facebook itu kelewatan PD ya…xixixixi…

  4. Iezul Berkata

    Kbhagian dan kpuasan akn didapat pabila kta mnemukan smua it pda sang MAHA KUASA

  5. Iezul Berkata

    Bukan menemukan tpi mencari ketenangan hxa dgan kmbali kpada sang MAHA KUASA. . .

  6. aidicard Berkata

    jika bersyukur dengan apa yg dimiliki maka kita bisa merasakan bahagia..

    eh temennya di efbe bukan makhluk sosial ya… wakakakak..

  7. itikkecil Berkata

    posting yang menyentuh hati, mungkin memang benar, kebahagiaan saya seharusnya tidak bergantung pada orang lain….

  8. Manusiasuper Berkata

    Untung rekan di FB itu da jadi nulis doa “tuhan, jika Engkau memang ada..”, bisa tambah panjang posting ini…

    Kebahagian, saya kutip dari Rima Fauzi “laki-laki kerap kali belum mengerti arti kebahagian sampai saat mereka menikah. Dan saat itu semuanya sudah terlambat…”

  9. illuminationis Berkata

    kebahagiaan dan kesedihan tidak tergantung pada manusia lain
    .
    bener banget itu :-)

  10. yatie Berkata

    saya sey beranggapan kalau kebahagian dapat diraih bila seseorang itu pandai bersyukur..

  11. syafwan Berkata

    Saya sedang bahagia ketika berkomentar disini.

  12. Amd Berkata

    @ Jensen99
    Jensen sang pencari kebahagiaan…
    *sinetron banget :mrgreen: *

    @ Aap
    Sudah terpenuhikah keinginannya Om?

    @ Yulian
    Over Pede? Sepertinya sudah bawaannya…

    @ Iezul
    Ah, normatif nian…

    @ Aidicard
    Saya malah khawatir dia bukan makhluk…

    @ Itikkecil
    Ahem, “orang lain” yang dimaksud Mbak Ira siapa yaaa? :twisted:

    @ Manusiasuper
    Mungkin dia nggak berani, takut status selebnya ternodai…

    Kalo saya mengutip Sir Leigh Teabing saja:

    …It is called scotoma. The mind sees what it wants to see…

    @ Illuminationis
    Jadi anda setuju dengan doa si rekan sinis di atas?

    @ Yatie
    Yah, dua tahun lalu saya masih beranggapan seperti itu juga, Neng…

    @ Syafwan
    Suit suiiit…

  13. illuminationis Berkata

    Faktanya begitu. Didoakan atau tidak didoakan, tidak mengubah fakta.

  14. emina Berkata

    ika kita berpikir bahwa kita bahagia, maka kita bahagia ^^

  15. online Berkata

    Ya, mungkin karena itu


  16. [...] senang, dan senang liat orang lain susah” itu memang satu penyakit hati yang menggerogoti kebahagiaan kita sendiri. Mungkin tak pantas, karena melihat ke atas, apalagi ditingkahi dengan rasa tak [...]


Comments are closed.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: