Rumah-Rumah Terapung

16 November, 2010

Letusan Merapi, yang katanya terbesar dalam 140 tahun itu memaksa saya pulang ke kampung halaman. Berhubung sudah lumayan kangen dan dikangeni sekolah, saya pun memutuskan mengunjungi tempat saya mengabdi sejak hampir tiga tahun lalu itu…

Sekolah itu, SMPN 11 Banjarbaru, terletak di ujung utara kota Banjarbaru. 5 kilometer dari jalan utama, komposisi jalan kadang aspal, kadang pasir, dan kadang tanah merah. Jauhnya jarak bisa membuat orang yang pertama kali mengunjungi sekolah ini mikir: “saya ini mau ke sekolahan apa mau nyekar?”

Akan tetapi, memasuki pagarnya, semua rasa lelah niscaya akan terobati. Rindangnya, hijau, dan warna-warni bunga masih saja menyambut saya “si pengungsi” ini… Tak lupa celoteh ceria para siswanya, juga binar di mata dan ketulusan di senyum mereka, makin menyegarkan hati, yang agak sesak selama di perantauan.

Sebagai sekolah yang mencanangkan diri “berwawasan lingkungan”, sekolah ini memang agak berbeda, terutama di fokus untuk membina lingkungan. Di depan, taman bunga dan pohon rindang menyambut, sementara bagian belakang sekolah dijadikan ladang untuk praktik bercocok tanam siswa. Nah, di tengah, selain lapangan sepakbola dengan rumput asli, ada beberapa kolam, yang selain berisi ikan, kadang juga berisi kaki-kaki siswa, terutama ketika panas tengah melanda…

All

Dan di kolam itu ketika saya datang, tengah digelar “Festival Rumah Apung”. Belasan kelompok, dari kelas VII sampai IX berkompetisi merancang, merakit, dan mengapungkan rumah-rumah kecil dengan memanfaatkan bahan sederhana, kreativitas dan imajinasi mereka. Para siswa berlomba menghasilkan karya yang, ternyata amat bervariasi, bahkan terkadang “melenceng” dari konsep “rumah”. Berikut beberapa di antaranya:

Maket
(Diorama lengkap dengan gunung dan sungai…)

Monas
(Paduan Monas vs Honai, semacam kritik “pusat vs daerah”?)

Banjar
(Rumah Banjar, kian sulit dicari rumah aslinya.)

View
(Kolam dipenuhi hasil karya siswa)

Jamban
(Wujud kepekaan dan kritik terhadap realitas sosial?)

Karya-karya mereka menjadi hiburan tersendiri buat saya yang tengah dalam “pelarian”, sekaligus membuat saya semakin bangga menjadi seorang guru. Semoga ke depannya kelak lebih banyak lagi karya para siswa dapat dihasilkan, buah ide liar dan kreativitas yang sudah selayaknya diarahkan dengan baik dan benar…

About these ads

20 Tanggapan to “Rumah-Rumah Terapung”

  1. manusiahero Says:

    mantabbbbssss berapaan kaplingan rmh disitu yu lah,,aku handak rmh yang honai tu za nah… :)

  2. misbah Says:

    Bgs bgt, biarkan mereka berkreasi. Tak usah dibatasi oleh bentuk rmh yg konvensional. I like this


  3. sip…ajang kreasi yang sip…lanjutkan…siapa tau besok jadi arsitek jempolan.. heheh.. :D

  4. almascatie Says:

    sumpah! keren banget!

  5. syafwan Says:

    Miniatur yang terakhir Banjaris banget. yang seperti itu perlu dilestarikan atau dibumi hanguskan ya?

  6. Amd Says:

    @ Manusiahero
    Murah ja, kalo mau ntar dipesanin, hehe…

    @ Misbah
    Yup, anak zaman sekarang kreatifnya beda ya.. Dulu zaman saya es-de, semua anak kalo gambar pemandangan pasti gambar gunung dua, di tengahnya ada matahari dan dibelah sungai… :cry:

    @ Komunitas Pendidikan
    Dan tak harus kuliah di arsitektur dulu baru membuat sebuah karya… ;)

    @ Almascatie
    Saya juga masih terkagum-kagum…

    @ Syafwan
    Nah, itu tergantung kebijakan satpol pp setempat, :lol:


  7. blog walking…nice info, “rumah-rumah terapung” bisa dicoba sama adek-adek di tempat saya.
    salam kenal :)

  8. Amd Says:

    Salam kenal juga ;)
    Iya Mbak, bisa juga dimodif dengan tema-tema lain.
    Kebetulan sekolah kami lahannya mendukung buat dibikin kolam, kalo di sekolah lain di kota ini, ada juga yang bagian belakangnya bisa dijadiin danau (!) buatan…

  9. itikkecil Says:

    idenya bagus Med. anak-anak dibiarkan berkreasi. tapi IMHO, yang paling keren adalah honai dan monas itu, walaupun jauh dari konsep rumah terapung

  10. sp0ngew4ter Says:

    assalamu’alaikum warohmatullah wb.

    liat tulisan menarik ini di halte blogger-nya Bpost. blog yg menarik, mudah2an ke depannya makin banyak hal menarik & bermanfaat yg lain yg akan dishare disini ^_^

    salam kenal juga dari saya…

  11. Amd Says:

    @Mb Ira
    Iya saya juga paling suka yang itu, “kena” banget rasanya…

    @sp0ngew4ter
    wa’alaikum salaam warohmatullah wb.

    Salam kenal juga mbak :) etapi saya malah ndak tau kalau masuk BPost, loh, di Jogja nda ada BPost soale…


  12. keren!!! dah baca ni tulisan di B-Post.
    tetap semangat.

  13. nia Says:

    Kreatif-kreatif sekali anak murid pian bang lah …

    Liat foto-fotonya gin keren, apalagi aslinya :)

  14. aRuL Says:

    mesti ki gurunya update berita banget…. :) keren :)

  15. warm Says:

    keren karyanya
    keren muridnya
    dan tentu
    keren juga gurunya dong deh ah :)

  16. chemud Says:

    Waaahhh kreatip banged..
    Pasti mereka akan menjadi arsitektur handal tuh nantinya..*kalo yg citacitanya jd arsitek*

  17. Amd Says:

    @ Nuansahidupku
    Makasih, tulisannya sih biasa aja, karya mereka yang luar biasa…

    @Nia
    Ya itu, aku juga masih tekagum-kagum ngeliatnya…
    @ aRuL
    Muridnya juga online terus kok…

    @ warm
    *ambil sisir sama cermin*

    @ Chemud
    Semoga mereka bisa meraih cita-citanya kelak…

  18. sp0ngew4ter Says:

    oh, posisinya di jogja tho??
    ya…kebetulan aja pas baca koran ada halte blogger-nya dan nangkring lah blog ini disana :D

  19. Amd Says:

    Iya nih, sudah lama ndak baca BPost versi kertas. Kadang-kadang paling buka situsnya aja..


  20. [...] atau apa, beberapa waktu ini saya kok banyak dapat cerita tentang “rumah”. Selain rumah terapung, pindah rumah, dan Rumah Debu, ada lagi kisah soal “rumah ulin”. Rumah ulin ini adalah [...]


Comments are closed.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: