MLU adalah rata-rata jumlah morfem yang dihasilkan anak untuk setiap tuturannya. MLU digunakan untuk mengukur perkembangan sintaktik anak. Semakin tinggi perkembangan pemerolehan bahasanya, semakin besar pula jumlah morfem yang bisa dihasilkan anak dalam satu kali ujaran. Hal ini sejalan dengan perkembangan sintaktik anak yang terjadi secara bertahap (gradual), dari yang tadinya hanya terdiri dari dua kata (telegraphic speech), terus hingga semakin mendekati kompetensi yang dimiliki orang dewasa.
Pengukuran dengan menggunakan MLU jauh lebih dapat diandalkan ketimbang usia, mengingat kecepatan pemerolehan bahasa antar anak sangatlah bervariasi. Dengan menggunakan MLU peneliti dapat terbantu dalam menetapkan level kemajuan kompetensi berbahasa anak secara lebih obyektif.
Dengan memahami konsep MLU, orang dewasa dapat menyesuaikan sikapnya dalam berkomunikasi dengan anak. Salah satunya adalah dengan menerapkan CDS (Child Directed Speech), atau disebut juga caretaker speech. Orang dewasa (misalnya orang tua atau guru) menyederhanakan ujaran yang mereka gunakan ketika berbicara dengan siswa. Tujuannya adalah agar anak bisa lebih memahami apa yang ingin disampaikan oleh si orang dewasa. Beberapa modifikasi dalam CDS antara lain:
- Unsur fonologis: simplifikasi bunyi, nada menaik, penekanan empatik, jeda lebih lama, dan kecepatan bicara dipelankan.
- Unsur leksikal: kosa kata sederhana, topik dipahami anak.
- Unsur sintaksis: tuturan lebih pendek dan tidak terlalu rumit.Selain itu, CDS juga ditandai oleh banyaknya pengulangan dan pengungkapan dengan cara lain. Terkadang orang dewasa juga menggunakan istilah-istilah yang tidak ada artinya (meaningless) bagi orang dewasa, tetapi menyenangkan dan menarik (euphonic) di telinga anak. Dengan memahami konsep MLU dan menerapkan CDS, diharapkan anak dapat terbantu dalam proses pemerolehan makna dan juga produksi ujaran.
==============
Anu, yang di atas itu satu dari lima jawaban saya untuk tugas ujian akhir semester, mata kuliah Psikolinguistik. Hitung-hitung berbagi puyeng sahaja kepada dunia…
18 Januari, 2011 pada 3:09 PM
Jawaban yang lainnya mana? lebih puyengkah bang? he he
18 Januari, 2011 pada 3:22 PM
@Nia
Anu, test-case dulu satu soal; Mbak Nia bisa ngerti dulu ndak tulisan di atas itu tentang apa?
18 Januari, 2011 pada 5:20 PM
*jadi tertarik*
18 Januari, 2011 pada 6:09 PM
ga ngerti saya, bahasanya orang pinter
19 Januari, 2011 pada 11:37 AM
*puyeng*
kenapa sekarang semuanya jadi soal kerjaan atau kuliah ya?
tadinya lambrtz, sekarang amed
untuk si mansup gak ikut-ikutan
19 Januari, 2011 pada 6:25 PM
melihat jawab di atas
bisa dipastikan nilainya bakalan “A
makanaaann !!
19 Januari, 2011 pada 9:44 PM
@ Nia
Nah, justru karena usia anak itu tidak bisa dijadikan patokan yang reliable dalam mengukur perkembangan berbahasa anak, maka dipakailah MLU..
@ Awym
Pas kuliah kdd dapat matkul Psikolinguistik kah Wiem?
@ Itikkecil
Emang niat saya ngikutin Mas Mario kok…
@ Warm
AmuuunAmiiinKalo dosennya pak DR. RD, kayaknya pasti dapat A deh..
19 Januari, 2011 pada 11:38 PM
Asyik hasil resume catet ah *lempar buku*
23 Januari, 2011 pada 2:22 AM
wah saya baru dengar istilah MLU sama CDS
ternyata bidang psikolinguistik ya..?
mudah2an hasil ujiannya memuaskan..
23 Januari, 2011 pada 3:15 AM
@Syafwan
Halah, masih pake catetan? kopi ke HDE dunkss..
@Mamung
Amin doanya, salam kenal yaa..
Eh, saya juga baru dengar pas final test kemarin
29 Januari, 2011 pada 6:40 PM
Kyapa tu contohnya lah kak ? Adalah sejenis softwarenya atau sejenis alat penghitungnya MLU lawan CDS lah kak? Lun mancari kmana-mana kdd, hagan posting blog lun banarai, coz bnyak yang batakun mslah MLU lwn CDS..
kapan2 mampir lah kah ke blog lun judulnya Pendidikan Untuk Negeri Kita
O, iya kak, mnt reques ke kayuh baimbai nah, coz kd tahu en kd paham pabila lagi ada kopdarnya.
Salam kenal tang marabahan….
5 Maret, 2011 pada 7:39 PM
[...] Psikolinguistik segera saja jadi mata kuliah favorit saya. Selain karena materinya menarik, juga karena saya anggap akan sangat bermanfaat dalam memahami proses mental seseorang dalam berbahasa, proses komprehensi dan produksi ujaran, dan lebih jauh lagi, bagaimana sikap seorang guru dalam mengajarkan bahasa kedua/bahasa asing kepada anak, dengan mempertimbangkan sudut pandang Psikolinguistik tersebut. [...]