I remember when you were born
I felt like one lucky, son of a gun
And when you turned into two
I was so happy, when you said I love you
Held you in my arms so tight
I’d never forget
The best years of my life
Apple of your daddy’s eye
Wanna be the one to hold you in the night
Apple of your daddy’s eye
Oh, oh sleep tight
Don’t you worry gonna be alright
I remember when you were three
You were so lovely, so very pretty
And when you turned into four
I finally realized, what God put her here for
Held you in my arms so tight
I’d never forget
The best years of my life
Apple of your daddy’s eye
Wanna be the one to hold you in the night
Apple of your daddy’s eye
Oh, oh sleep tight
Don’t you worry gonna be alright
If I had my way, time would stand still
You’d stay as sweet as you are
But time waits for no one, it never will
Your gonna leave me soon enough
I’m just sad ’cause you’re growing up
Don’t stop ever lovin’ me because
You’re the apple of your daddy’s eye
Peter Cetera – Apple of Your Daddy’s Eyes
From “One Clear Voice” (1995)
One Clear Voice adalah kaset pertama yang pernah saya beli, saat saya masih kelas 2 SMP. Saya mencomotnya di salah satu toko kaset di Mitra Plaza. Album yang ‘ketuaan’ untuk selera abege saat itu memang, tapi namanya juga terlanjur beli, ya sudah saya nikmati saja.
Ketika itu, saya masih belum bisa meresapi isi lirik di atas, hanya suka karena musiknya menarik dan upbeat. Sekarang? Ah, membaca lagi lirik di atas, dan mengenang setahun terakhir, tak urung membuat saya semakin merindukan gadis kecil ini…

Setahun kuliah di Jogja, artinya setahun sudah saya kehilangan waktu bersama Nadira. Saya hanya bisa mendengarkan cericit-nya dari jauh; menyimak cerita tentang kegiatannya sehari-hari, menjawab berbagai pertanyaan baru yang dilontarkannya, dan sesekali menyanyikan Over the Rainbow sebelum ia tidur. Beberapa hari yang lalu ia terima rapor, “Nilainya semua Alhamdulillah, yah…” ujar ibunya.
Kata Mami, Nadira sekarang bertambah tinggi, sudah lewat 100 cm. Untuk ukuran anak yang lahir dengan berat hanya 1,6 kg, tingginya sekarang sudah lumayan. Makannya juga lahap, katanya, sering minta nambah; dibarengi dengan pergerakannya yang semakin gesit. Ke mana saja maunya lari, belum lagi ditambah dengan main sepeda. Ketika diurut gara-gara terjungkal seminggu yang lalu, ia tertawa lebar ketika tukang urutnya mengatakan bahwa kakinya keras seperti anak lelaki.
Suara Dira juga semakin dewasa; masih cempreng, memang, tapi semakin terampil saja memilih kata. Dia pernah bercerita kalau dia memenangi lomba ‘bawa bola di piring’ di TK-nya, lalu ibu guru malah berkata kalau semuanya menang. Ketika ditanya, mengapa ibu guru berkata begitu, ia menjawab “Habis, temen Dira yang kalah udah mau nangis, jadi ibu guru bilang menang dua-duanya, biar temen Dira nggak jadi nangis.” Mami bertanya lagi, apakah kalau Dira kalah juga menangis. Dia menjawab “Ya enggak lah, kan namanya juga permainan, kadang-kadang ya menang, kadang-kadang ya kalah. Nggak papa tuh.” Saya terperangah mendengar cerita itu, bahwa ternyata di usia sekecil itu, Dira sudah memiliki konsep sportivitas. Rasanya malu kalau membandingkan dengan diri sendiri yang masih banyak menyimpan iri dengki khas perilaku orang dewasa, apalagi sampai harus menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.
Ataukah memang anak kecil, dengan segala kepolosannya, lebih bisa memandang dunia sekitarnya yang juga kecil dengan penuh ketulusan? Ataukah dunia orang dewasa memang tempat yang kelewat bengis dan penuh intrik tipu-daya? Melihat gelontoran berita di media, tentang korupsi, kemiskinan, dan pengrusakan lingkungan, sepertinya ucapan Allison Reynolds dalam The Breakfast Club ini mendapat justifikasi:
“When you grow up, your heart dies.”
Dan ketika para pakar pendidikan tengah ribut-ribut menyoal “pendidikan karakter“, kita seolah lupa, bahwa pendidikan karakter yang utama itu adalah memberi teladan. Dan keteladanan itulah yang sepertinya luput dari perhatian kita.
4 Juli, 2011 pada 10:00 AM
saya juga prihatin…
4 Juli, 2011 pada 11:04 AM
Betapa sedikitnya waktu, betapa terasa besarnya cinta
4 Juli, 2011 pada 12:18 PM
Oh, pantas ejaannya normal. Kalau kebiasaan bapaknya ngomongin nilai di fesbuk sih… “nilAinyA semuA AlhAmdulillAh, yAh…”
*kabooorrr*
5 Juli, 2011 pada 5:11 PM
@ Satch
Selamat, Anda layak jadi Persinden..
@ Ray
So little time so much to do #Arkarna
@ Sora9n
Kapan saya pernah ngemeng begene seh?
*siyulsiyul*
7 Juli, 2011 pada 12:38 AM
Bapaknya Dira itu harus bersyukur ke Jogja, jadi punya banyak kesempatan kopdar. Toh nanti juga jadi kepala dinas.
7 Juli, 2011 pada 3:26 PM
sungguh abah yg harat, guru yg hebat, dan ya kerenlah punya anak sehebat Dira .. soal rindu, tinggal menunggu waktu sahaja tooh
18 Juli, 2011 pada 1:55 AM
18 Juli, 2011 pada 11:19 AM
Wah, lucu sekali gadisnya…. mudahan pian sehatan ja sekeluarga.
19 Juli, 2011 pada 6:11 PM
@ Jensen99
Aduh, doa itu lagi…
*deja vu komen di Fesbuk*
@ Warm
Nyaman ae, yang mau bedol desa…
#eh
@ Pak Guru
Masih 3 semester lagi
@ Zian X-Fly
Amiin, mudahan kawa lakas balik nah, nyaman kopdar lagi…
20 Juli, 2011 pada 6:38 AM
anu, blogwalking dari tadi ketemunya yg dikomen itu blogger2 yg ga saya kenal semua.. sepertinya disini ada kumpulan sendiri sendiri para suhu2 blogger itu..
*alhamdulillah oot.*
21 Juli, 2011 pada 12:33 AM
@Almas
Tuh, OOT sih, jadi masuk spam deh, hohoho…