Archive for the 'Rant, Criticism & Political Issues' Category

Kesenjangan Sosial Koneksi

24 Juli, 2011

Setahun sudah saya numpang tinggal di Jogja, dan bulan ini akhirnya saya memutuskan untuk pindah. Tadinya saya tinggal berempat dengan rekan-rekan sesama mahasiswa dari Kalsel (termasuk Kangmas Mansup), mengontrak rumah di sebelah utara Jogja. Tahun ini, saya berencana ngekos saja, dengan beberapa pertimbangan yang lebih bersifat ekonomis dan kurang pas kalau harus dibeberkan di sini, kelihatan bener kere-nya. Baca entri selengkapnya »

Elegi Argumentasi Sinetron Yang Ditukarkan

17 Februari, 2011

Ketika menulis gonjang-ganjing Putri yang Ditukar dua hari lalu, saya tak menyangka ramenya akan sepanas ini. Sepanjang Rabu kemarin, saya lihat komentar berdatangan silih berganti, dari satu blog ke blog lain. Blog saya yang jablay™ juga ikut menikmati sedikit cipratan keramaian itu, dengan, hingga tulisan ini saya posting, sudah ada 40-an komentar plus beberapa pingback yang masuk. jumlah hits tidak usah saya ekspos deh… :mrgreen:

Hari ini, sepertinya suasana sudah agak mereda. Saatnya saya mencoba membuat keributan baru merangkum apa yang telah dan tengah terjadi, sekalian menanggapi komen-komen di posting tersebut. Bukan apa-apa, sistem reply-di-bawah komen membuat sahut-sahutan komen di blog saya kok jadi amat tidak linear, dan membuat pening sendiri… Ini membuat saya sempat berpikiran untuk mematikan saya fitur reply ini, dan kembali ke metode komentar linear konvensional seperti di fesbuk… Selain itu, sepertinya tidak semua komentar perlu saya komentari, karena sahut-sahutan yang terjadi sebagian sudah mewakili pendapat pribadi saya.

[proses tanggapan dimulai]

- Untuk Om Yulian, yang mengusulkan menjual TV, seperti sudah saya sampaikan, jika solusinya kemudian adalah pasang Sp**dy, well… Sepertinya ada promosi terselubung nih… :twisted:

- Untuk Mbak Ira, reality show, sebagus apapun, sepertinya ada kecenderungan pula untuk dipanjang-panjangkan jikalau ratingnya bagus, jadi saya khawatir itu acara masak masterchef akan bernasib serupa, apalagi jika salah satu chef-nya ada yang se-alluring Farah Quinn…

- Untuk Mbak Memeth dan mereka yang mengingatkan nostalgia 2007, well, saya juga merasakan hal yang sama, komen dengan intensitas tinggi (di atas 30-an per posting) dengan sebagian besar di dalamnya tidak berkategori junk waktu itu merupakan hal yang biasa. Diskusi mengalir luar biasa seru, dan enak untuk diikuti. Semoga ini bisa jadi awal huru hara baru kebangkitan para blogger renta™.

- Untuk Nonadita, pelajaran yang bisa saya tarik adalah: bolehlah kita mengkritik sebuah produk, tapi juga sebisa mungkin menjaga perasaan yang menikmati. Kritik yang disampaikan tanpa menakar kadar sarkasme di dalamnya, justru bisa memicu resistensi, yang berakibat esensi kritiknya justru terkaburkan. So, berkritiklah dengan bijak… #eh

- Untuk Pak Presiden/Frozen/Esensi/Aris Susanto, terkutuklah Sodara karena membawa kami ke ribut-ribut atas nama opera sabun ini! :evil: . Ah, ya. Saya memahami kok, maksud postingan Sodara, hanya saya memang memilih menulis di bagian itu secara dangkal dan tendensius demikian, biar memicu konflik lanjutan hohoho…
… dan sepertinya saya berhasil, sudah pantes jadi penulis skrip sinetron belum yaa? :mrgreen:
Dan tolong, jangan lagi beranalogi soal masakan di sini, bikin lapar! *rebus mie instan*

- Untuk Momon, kritik membangun, semoga akan terus menjadi bentuk apresiasi dalam setiap karya anak manusia.

- Untuk Bang Dana, seperti yang pernah ditulis di status Mas Gentole Alex©,who will watch the watcher?
Oke, masalah pembodohan, saya juga tak paham benar. Tapi katanya efek audio-visual terhadap anak secara psikologis terkadang bisa sangat luar biasa loh. Itu Game GTA San Andreas katanya dulu pernah dituntut kan, karena dituduh “mengajari” anak berbuat kekerasan. Atau anak yang lompat dari atap karena mengira dirinya bisa terbang pakai sapu layaknya Harry Porter… Ah, urusan ini, Bu Medina sepertinya lebih kompeten menjawab…

- Untuk Alex©, perkara red herring, no need to argue lagi ya? Sudah kau jawab sendiri. Saya memahami apa yang kau sampaikan di berbagai kolom komentar sampai tanganmu kapalan dan lalu kau salahkan Tuan Presiden Tanpa Menteri sebagai kambing hitamnya. Saya juga paham betul gaya tulisanmu yang eksplosif, sinis dan tanpa tedeng aling-aling. Yang saya sayangkan hanyalah, kau kali ini kebanyakan memberi label kepada opponent-mu; yang paling kentara kau sebut ialah “self-acclaimed aktifis socmed” itu. Hem, jika yang kau maksud *ini asumsi saya loh, bisa benar-bisa salah*, adalah bahwa mereka yang kau labeli itu adalah sombong, tinggi hati, snob, opinion-leader wannabe, karena berasal dari Pulau Jawa (baca: Jakarta), terpelajar, berselera tinggi, dan sebagainya, well jangan lupa pula, itu sinetron-sinetron diproduksi di mana? Siapa yang membikinnya? Apa motifnya?

Tidak, saya tidak ingin berargumen lagi, karena sayapun paham, kau tidak sedang mengkritik substansi kritik terhadap sinetron, melainkan attitude para pengkritiknya, begitukah? CMIIW. Sinis balas sinis, egois balas egois.

- Untuk Etikush, rating, sayangnya masih jadi tolok ukur layak tidaknya sebuah tayangan diperpanjang. It’s all about business, and much much money, you know… Dan, ya. PyD itu ratingnya tinggi sekali, lakunya luar biasa. Seorang kawan kemarin balik dari pulang kampung di Bojonegoro, dan cerita betapa hebohnya warga sana menyaksikan sinetron ini.

- Untuk emak, saya tidak masalah emak tahu red herring atau tidak. Tapi gimana kalau gini aja emak, saya jelek-jelekkin sinetron kesukaan emak, juga saya jelekin kebiasaan merokok bapak? Biar adil gitu? Biar saya dicap durhaka sama dua-duanya? Hohoho…

Cat: Emak saya yang aseli sukanya tayangan dangdut, tidak suka sinetron, dan bapak yang saya aseli tidak merokok.

- Untuk Mbak Chic, “mata melotot-lotot dan bibir monyong-monyong dengan layar close-up” itu, buat sebagian orang justru yang paling ditunggu loh, emosi tersalurkan dengan baik ketika melihatnya, baik secara serius maupun karena eneq. Sama aja kayak pas nonton piala AFF, teriak-teriak jumpalitan, sumpah serapah keluar, atau jerit-jerit pas liat Irfan :oops:
Soal program mendidik, meski bukan di ranah televisi, saya pernah tiga tahun kerja di radio SmartFM (mungkin yang di Jakarta pernah dengar, radio jaringan soalnya). Di situ banyak hal yang saya pelajari dalam menghasilkan acara bermutu sekaligus mencerahkan, dan banyak sekali mempengaruhi saya ketika menjadi guru sekarang. Sebelum Mario Teguh Golden Ways booming di TV seperti sekarang, sebenarnya sudah banyak motivator lain yang memberi pencerahan di SmartFM: Andrie Wongso, James Gwee, Prie GS, Moh. Sobary, dan Ayah Edy. Tapi ya itu, berapa persen sih mereka yang dengerin radio?

- Untuk Sora, itulah sebabnya saya awali posting terdahulu dengan janji itu. Saat ini kalau ngomongin Kominfo pasti ingatnya Pak-Tif-yang-dibully-massal melulu, blokir-blokiran dan sebagainya. Kita lupa kalau dulu, otoritas berwenang sudah pernah juga berjanji untuk bertindak tegas. Dan mengapa hingga sekarang belum ada realisasi? Kira-kira kenapa? Pertanyaan yang sama dengan kenapa hingga sekarang FPI belum bisa juga ditindak tegas: KEPENTINGAN. *muterin Zeitgeist*

- Untuk Awym, ah, situ kan memang introvert saja, jadi hobinya ngurung diri di kamar… *glepak*. Dan perkara bintang sinetron, well, ada rekan saya satu kontrakan di Jogja sini, yang lebih mumpuni dalam berakting. :twisted:

- Untuk Nia, seperti sudah saya tulis di postingan tersebut: Romantisme masa lalu ini, somehow saya rasa kurang pas, mengingat kondisinya sekarang sudah berbeda.

- Untuk Sibair, harapan sama juga disuarakan banyak orang, tapi sekali lagi, sinetron itu bisnis besar, uang bicara banyak di dalamnya.

- Untuk Om Warm, kembali, ini tak sekadar sirik atau iri atau dengki Om; ini menyangkut keselamatan negara! Kalau perkara produk berkualiti, nah ini, menyerahkan seenaknya tanggung jawab membuat tandingan berharga mahal kepada para pengkritik yang jelas-jelas kere itu, well, Ther-La-Lu… *elus jenggot*
Omong doang? Oke, sekarang saya tanya, si Om sudah pernah dengar program Refleksi Prie GS, Smart Parenting, Smart Character, Indonesian Strong From Home, atau Smart Awareness?
Dan soal Nikita Willy, no need to argue :oops: .

- Untuk menone dan komentator senada, tidak ada sinetron tidak menjamin pendidikan di Indonesia akan membaik kan? Ketahuilah kalau sistem pendidikan kita itu luar biasa korupnya…

[/proses tanggapan diakhiri]

Fyuh, cape ngetiknya. Dan saya tersadar, kalau saya tadinya mau membuat semacam refleksi atau review setelah satu semester kuliah, juga tentang nilai-nilainya, terbengkalai gara-gara meributkan opera sabun ratusan episode. Hiks. Sedikit banyak saya merasa senasib dengan Pak Guru dan Mas Gentole, dan bersiap melabrak Aris Susanto :evil: !!!

Yang jelas, saya sebenarnya senang karena blogosphere jadi rame lagi, hidup lagi seperti era 2007 dulu, dan diskusi ini pastilah membawa faedah yang cepat atau lambat akan semakin mendewasakan yang terlibat; yang fence-sitting, maupun yang nonton via binokular sahaja. Perkara pendapat yang terbelah, saya yakin, adu argumen ini toh nanti juga akan cair dengan sendirinya, kita tetap berteman *sejauh ini belum ada yang niat saling unfriend/unfollow di FB dan Twitter kan?* dan semoga akan selalu begitu. Seperti kata Dumbledore:

It takes a great deal of courage to stand up to your enemies, but a great deal more to stand up to your friends.

Dan sekali lagi, jangan salah kira, masalah sinetron adalah perkara laten lawas di kalangan blogger. Tidak percaya? Berikut saya sertakan sedikit tulisan lama tersebut, sekadar menyegarkan memori kembali:
– Chaidir – Setantron™
– Chika – Sinetron di Indonesia
– Chika – Sinetron Indonesia, What’s Next??
– Chika – Oh Tidaaakkk!!! Lagi-lagi Sinetron Indonesia
– DeathBerry – Sinetron adalah Akal Bulus Cinta dan Film Cengeng
– Fortynine – Menjual Mimpi
– Geowana – Banner Anti Sinetron “Murahan”
– Chairul Akhmad – Sinetron Mengepung Kita
– Abeeayang – PERSETAN DENGAN TUHAN!!!
*Oya, saya lupa siapa yang menulis tentang pemeran utama sinetron teraniaya, yang dibikin versi onionhead dulu itu, juga link-nya. Kalau ada yang masih ingat, mohon ditautkan yaa…*

Terakhir, mari kita tutup postingan kali ini dengan sebuah lagu dari Incubus, “Idiot Box”

You keep your riches and I’ll sew my stitches,
you can’t make me think like you, mundane.
I’ve got a message for all those who think that
they can etch his words inside my brain
T.V., what do I need?
Tell me who to believe!
What’s the use of autonomy
when a button does it all?
So listen up,
glisten up closely all,
who’ve seen the fuckin eye ache too.
It’s time to step away from cable train
And when we finally see the subtle light,
this quirk in evolution will begin
to let us live and recreate
T.V., what do I need?
Tell me who to believe!
Whats the use of autonomy
when a button does it poop?
T.V., what should I see?
Tell me who should I be?
Lets do our mom a favor and drop
a new god off a wall.
Let me see past the fatuous knocks.
I’ve gotta rid myself of this idiot box!
Let you see past the feathers and flocks,
and help me plant a bomb in this idiot box!
From the depths of the sea
to the tops of the trees
to the seat of a lazy boy…
staring at a silver screen!!

Catatan: “Idiot Box” adalah juga episode SpongeBob SquarePants favorit saya, dengan tagline-nya yang populer: “i-ma-gi-na-tion!!!”

Balada Argumentasi Sinetron Yang Tertukar-Tukar

15 Februari, 2011

Oke, akhirnya saya terpancing juga untuk ikut-ikutan bicara topik mainstream (lagi)!! *Ini semua gara-gara kalian: Mas Joe, Mas ArEsensi, Pak Guru, dan Mas ArGentole! :evil: *

(Sebelum mbaca, mohon ikutan polling dulu yaaa… ;) )


Pertama-tama, izinkan saya mengingatkan Anda semua pada satu janji yang pernah dilontarkan Menkominfo Sofyan Djalil medio 2007 lalu (sebelum beliau kena reshuffle); bahwa beliau akan menindak tegas sinetron yang banyak mengumbar kebencian dan sejenisnya. Janji tinggal janji. Empat tahun berselang, dua menteri telah bergantian memegang tampuk, sinetron toh masih merajai rating televisi kita. Ketika internet *katanya* sudah diblokir dari situs p0rn0, dan Blackberry sudah diultimatum ini itu, sinetron ternyata masih tetap belum tersentuh…

Tentu, keluhan akan buruknya kualitas sinetron tak pelak mengemuka. Harusnya sih tidak masalah; Death of The Author kalau kata filsuf mah, sudah berani bikin karya, ya siap-siaplah kalau ada yang mengkritisi. Dan kesempatan kali ini, yang jadi tumbal adalah Putri yang Ditukar (PyD). Keluhan yang paling umum dialamatkan pada sinetron ini, kalau boleh saya ringkaskan adalah:
– Jam tayangnya yang extraordinaire: 3 jam sehari, 7 hari seminggu, pada waktu utama!
– Alur yang tidak logis, bertele-tele, dipanjang-panjangin, atau kata Bang Haji: Terr Laa Luu!
– Akting yang standar, datar, dan seragam.
– Pembodohan, tidak mendidik, dan tidak mengemban amanat UUD 1945: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.

Banyak yang membandingkan sinetron sekarang dengan sinetron zaman doeloe; Si Doel, Sengsara Membawa Nikmat, Siti Nurbaya, Jendela Rumah Kita, ACI, dan sebagainya. Romantisme masa lalu ini, somehow saya rasa kurang pas, mengingat kondisinya sekarang sudah berbeda. Sinetron dulu digarap serius karena hanya tayang sepekan sekali. Penulis skenario dan sutradaranya umumnya berpengalaman di bidang teater dan film, sehingga sinetron yang dihasilkan lumayan sekualitas lah dengan film. Selain itu, jumlah stasiun televisi juga masih bisa dihitung dengan jari.

Sekarang, oh, stasiun tivi ada belasan! Perebutan kue rating berlangsung gila-gilaan; demi mengejar profit tentulah. Mana ada yang mau bikin stasiun tivi kalau harus merugi? Demi rating dan iklan, mau tak mau berbagai kepentingan harus dijejalkan ke para sineas yang bertanggung jawab mengisi slot acara setiap harinya, apalagi kalau menyangkut prime time, rating tinggi adalah harga mati!

Jadilah, demi uang dan periuk nasi, para pekerja sinema harus merelakan perkara idealisme, kualitas, selera, dan bla-bla-bla lainnya makin dikesampingkan. Istilah “freedom of speech won’t feed my children” seperti ujar Manic Street Preachers benar-benar berlaku di sini. Terserah kalian mau bilang apa, demi profit, tayangan yang digemari mau tak mau harus dipertahankan, apapun konsekuensinya, termasuk memanjang-manjangkan episode hingga tiga digit…

Pemanjangan ini bukan tanpa resiko. Mau tak mau, sineas akan terjebak dalam melodrama, dan ujung-ujungnya ketika kejenuhan menyergap, tayangan pun akan ditinggalkan. Kejadian serupa pernah terjadi dengan Warkop DKI dulu; film-film awal mereka sangat berbobot, penuh sindiran terhadap rezim berkuasa dan kondisi sosial masyarakat, namun makin lama karya-karya mereka sesudahnya makin terjebak pada melodrama: slapstick dan paha. Si Doel Anak Sekolahan, jangan salah, juga bernasib sama. Si Doel 1-3 menurut saya masih sangat bagus, namun sesudahnya, ketika ceritanya harus dipanjang-panjangkan, (sampai kemudian menjadi Si Doel Anak Gedongan) lama-lama penonton juga bosan, dan kemudian beralih ke sinetron lain (waktu itu kalau tidak salah, Kecil Kecil Jadi Manten-nya mendiang Sukma Ayu).

Jadi, Cinta Fitri atau PyD pun, saya pikir sebenarnya tinggal menunggu waktu saja, sampai ada tayangan lain yang kemudian mampu mengalihkan minat pemirsa. Masalahnya, sekarang solusi tontonan pada waktu yang bersamaan itu apa? Tivi berita kita juga toh sama menjemukannya; yang satu pokoknya menjelek-jelekkan pemerintah, yang satu lagi mempertahankan kepentingan bos besar dan partainya. Saluran lain? Uya Kuya keliling menghipnotis orang? Kenapa ga sekalian Gayus dan Cyrus saja yang dihipnotis biar ngaku? OVJ? Melihat Sule dan Azis dorong-dorongan menghancurkan properti yang tidak ramah lingkungan? Sketsa? Dengan joke-joke garing dan lebay mereka? Liga Super? Liga Primer? Wasit dikejar-kejar dan dikeroyok? Atau produk asing yang tidak nasionalis macam film Hollywood, drama Korea, EPL, La Liga, dan Fear Factor? Halah, selalu ada celah untuk meng-sinis-i setiap tayangan, bahkan untuk yang sekelas Kick Andy sekalipun…

Dan omong-omong soal tanggung jawab mencerdaskan ummat bangsa, kok ya saya teringat dengan pembahasan para narablog dulu, ketika membahas siapa yang paling berkepentingan memberikan kontribusi yang mencerahkan kepada masyarakat umum. Dulu, saya menangkap kesan ‘dorong-dorongan’, bahwa netter belum merasa mampu sepenuhnya untuk diberi mandat menjadi Sang Pencerah. Sekarang, kebalikannya, ketika sebagian netter menyuarakan uneg-uneg mereka (yang, hey, bukan kali pertama ini!), reaksinya justru terdengar semacam “Siape lo? Emang lo udah bikin apa?” di kuping saya. Dan sejujurnya, kesan inilah yang membuat saya merasa kurang sreg dengan tulisan Mas Frozensi dan Mas Ahgentole.

Bahwa di atas langit masih ada langit, bahwa ternyata ada stratifikasi selera, bahwa kebebasan memilih adalah hak semua bangsa, itu saya juga mau-tak-mau sependapat. Hanya saja, kita juga berhak memilih untuk tidak menutup mata dan telinga (apalagi sampai menutup hidung *lirik Om Warm*) bahwa 3/7™ dengan cerita absurd dan akting datar meskipun tak bisa dipungkiri kalau Nikita Willy itu memang jelita itu, anggaplah, sudah keterlaluan.

Sinetron itu ibarat fenomena mie instan, atau nasi putih, yang sempat diributkan Gunawan Rudy kapan lalu di Twitter… Akan tetap banyak yang mengonsumsi meski beberapa pihak mengklaimnya sebagai barang kwalitet™ rendah. Karena seperti sebuah kutipan di tulisan Bang Aip, “selalu ada pasar untuk apa saja”. Akan tetapi, ketika kemudian ada yang melontarkan kritik, apapun niatan di baliknya, kita yang sempat membacanya ini harusnya dapat mengambil hikmah. Masih baaanyaak orang-orang di luar sana yang tak terpapar sama sekali dengan kritik semacam ini, sedangpun di satu sisi, sinetron terus dipaparkan setiap hari, setiap malam, di tiap rumah, di tiap keluarga.

Dan kutipan-kutipan dari Mas Alexander Thian, seorang penulis skenario sinetron dan FTV ini, buat saya sudah cukup sebagai penutup; semoga mewakili jeritan hati para sineas lainnya (saya potong-potong semena-mena dari sini):

Si produser bilang gini, “Kalian ini bikin sinetron! Bukan film!! Nggak perlu dialog-dialog yang ketinggian!! Pembantu mana ngerti! Yang saya butuhkan rating! Saya gak butuh dialog bagus! Gak perlu kata-kata bersayap! Gak perlu bahasa simbolis! Gak laku! Dialog yang kalian bikin saya gak ngerti!”

Salah satu nyeletuk, “Kenapa gak boleh kasih dialog bagus?” Jawabannya, “Soalnya yang nonton pembokat, pembantu, asisten RT, babu!! Dan emak-emak!! Mereka gak ngerti! Saya juga nggak!”

Demi kualitas. Apa?! Kualitas? Harusnya RATING begok!

Kita selalu diminta membuat cerita yang beda, tapi, ujung-ujungnya akan dibelokkan ke arah yang dimaui produsernya.

Terakhir, tokoh utama di sinteron yang kita garap adalah anak yang rebel dan nyebelin. Ujung-ujungnya? Tukang nangis lagi.

Padahal kalo dipikirin, sebagai produsen seharusnya produser yang membentuk trend, bukan mengikuti trend. Iya, nggak?

Kita, sebagai penulis, pengin banget-banget bikin skrip sekelas Friends, atau Modern Family. Apa daya, uang produser yang berbicara.

Selama rating masih bagus, maka sinetron itu akan terus diproduksi. Tapi kebanyakan orang akan langsung mencaci maki penulisnya. Kalo kita bikin cerita yang keren gila dan gak laku, siapa yang dimarahi? PENULIS!

TAPI, gue percaya kok. Suatu hari nanti akan ada sinetron yang bener-bener mengutamakan kualitas, tanpa memandang profit yang didapat.

Titipan

3 Januari, 2011

Kalau berdosa dengan Tuhan, nanti gampang aja minta ampun; kalau berdosa dengan anak, seumur hidup kita akan merasa bersalah.

Pernyataan di atas dilontarkan salah seorang dosen saya ketika menyindir maraknya berbagai praktik ‘titip-titipan’ dalam seleksi CPNS. Pernyataan yang amat pragmatis, memang, bahkan sudah terkesan melecehkan nilai-nilai keilahian, namun demikianlah™ sebagian fakta di lapangan berbicara.

Saya jadi ingat sekitar tiga tahun lalu ketika pengumuman hasil seleksi CPNS. Ibu mertua menelepon adik beliau di pulau Jawa, mengabarkan kalau saya lulus. Sontak suara di seberang bertanya: “Bayar berapa?”, yang langsung beliau sahut dengan bangga “Tidak sepeser pun!”.

Pengalaman lebih ‘ekstrim’ didapat adik saya ketika lulus CPNS di salah satu instansi vertikal. Hingga hari terakhir pengumuman, dia tidak diinfo sama sekali kalau lulus (padahal janjinya mereka yang lulus akan dikirimi surat pemberitahuan). Ketika ada temannya yang mengabari, ia langsung mendatangi tempat pengumuman, dan segera saja esoknya harus mengurus langsung berkasnya DI JAKARTA! Dari selentingan rumor yang beredar, katanya SK-SK semacam punya adik saya ini, kalau sampai tidak diurus dan diambilnya, sudah ada yang siap “menampung”, entah benar atau tidaknya…

Sementara itu di tempat terpisah, seorang rekan sesama guru juga pernah bercerita soal ibu-ibu tetangganya yang bilang berani bayar sekian juta agar anaknya bisa lolos seleksi. Ketika ditanya kenapa si ibu mau menempuh cara tidak sah semacam itu, beliau beralasan *sama persis seperti kata dosen di atas*, kalau ia tidak tega membiarkan anaknya menganggur, sehingga dengan jalan ‘titipan’ tersebut, beliau terbebas dari beban menyediakan pekerjaan yang layak bagi anaknya.

Tiga cerita di atas hanya sebagian kecil dari realita yang mungkin ada di masyarakat kita. Kisah-kisah senada akan makin marak beredar dari mulut ke mulut ketika musim tes CPNS tiba. Fenomena itu bernama titipan…

Titipan umumnya terbagi dua. Yang pertama, pejabat publik yang memanfaatkan kekuasaannya untuk menitipkan anak, sanak famili atau kerabatnya agar dapat diterima di instansi tertentu. Titipan jenis lain, ya seperti ibu di atas, menggunakan uang sebagai alat ‘mempermulus’ langkah anak/sanak/kerabatnya dalam menggapai tujuan. Uang dan kekuasaan, dua alat untuk memenuhi keinginan…

Jadi tak usah dulu bicara kualitas atau kompetensi PNS selama cara-cara penerimaannya juga masih sarat telikungan semacam ini. Jangan mimpi kinerja dan prestasi PNS akan terdongkrak jika iklim kerja di instansi tersebut akhirnya terpaksa mendapat efek afektif yang tidak sehat begitu.

Akan tetapi, susahnya memang, perkara titipan ini seperti hantu, banyak orang yang membicarakan, namun sedikit sekali yang melihat langsung. Ya mana ada sih maling ngaku?? Mungkin hampir tidak ada yang akan terang-terangan mengakui kalau posisi yang ditempatinya adalah hasil kongkalikong di belakang. Yang jelas saya jadi PNS, mapan, masa depan terjamin, prestise tinggi, dan bisa korupsi. Gampang toh? Dan akhirnya masalah ini hanya jadi bahan gosip di warung kopi, hanya jadi obrolan di ruang tamu, hanya jadi wacana tanpa solusi.

Dan perlu diingat pula, praktik seperti ini tidak hanya terjadi di tatanan birokrasi semacam PNS atau TNI/Polri loh! Perusahaan swasta juga kerap melakukannya, dalam intensitas yang mungkin justru lebih tinggi! *karena penerimaan pegawai di sektor swasta justru lebih banyak dan sering ketimbang seleksi CPNS* Ceritanya pun sama saja, anak bos anu dijadikan manajer di bagian anu, ponakan pak itu, ditaruh di posisi basah di departemen itu, dan sebagainya.

Akan tetapi, efek yang lebih parah memang akan menimpa birokrasi. Di sektor swasta, masih ada kompetisi terkait ‘salary’ yang membuat kinerja karyawan secara umum masih terjaga. Kalaupun ada riak-riak kecil, dengan manusia-manusia ‘tertitip’ menjadi sumber masalah, karyawan lain masih berpikir dua kali untuk menurunkan kinerja. Sementara PNS? Halah, pinter bego, rajin malas, gaji sama ‘kok! Untuk apa saya rajin-rajin kerja, pontang-panting sana sini, sementara si karyawan baru anak pak nganu bisa leyeh-leyeh seenaknya di kantor, padahal duluan saya masuk? Bahkan singkatnya, ada yang mengatakan kinerja PNS tinggal 30% akibat masalah titipan semacam ini. Ditambah dengan sistem evaluasi dan sanksi yang tidak tegas, masalah ini terus saja berlarut-larut ke mana arus sungai membawanya.

Padahal saya pikir, pertanggungjawabannya lumayan berat, loh. Kalau karyawan swasta gajinya dari profit perusahaan, birokrat itu gajihnya dari pembayar pajak. Siapa pembayar pajak itu? Ya segenap warga Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta ini! Dan siapa pengemplang pajak itu? Tau sendiri lah jawabannya…. Waduh, jadi ngeri juga kalau membayangkan, dibayar oleh rakyat, bertanggung jawab kepada rakyat, namun mendapatkannya dengan cara yang tidak jujur, menjalankannya dengan tidak amanah, menyingkirkan orang lain yang mungkin lebih berhak, kompeten, dan cakap di posisinya, dan BANGGA dengan posisi tersebut. Semoga saya terhindar dari hal-hal sedemikian… #bimbo

Britain has invented a new missile. It’s called the civil servant – it doesn’t work and it can’t be fired.

(General Sir Walter Walker, 1981)

Generasi, Generalisasi dan Prestasi

23 Oktober, 2010

College Professor

Status fesbuk Om Nopy beberapa hari lalu sempat mengusik naluri “ikut nimbrung” saya, di tengah godaan kantuk akibat begadang menyiapkan presentasi. Dalam statusnya, beliau menanyakan “Benarkah generasi sekarang, spiritnya untuk menjadi orang berkualitas itu jauh merosot dibandingkan dengan generasi pendahulunya, benarkah mental generasi sekarang itu mudah banget putus asa, benarkah generasi sekarang itu jauh dari keberanian, itu sih katanya banyak teman dosen yang bilang, wah mahasiswa sekarang jauh beda dgn jaman kuliah dulu,pada manja, males,mental tempe,udah gitu penakut,BENARKAH ITU ????”

Saya garisbawahi kata “dosen”, sebagai benang merah dari asumsi di atas. Bukan bermasuk ad-hominem, tetapi saya somehow teringat pada tulisan Farid beberapa tahun lalu, yang juga mengkritisi pernyataan dosen yang secara ekstrim didefinisikannya sebagai “pernyataan jahanam“. Dosen sebagai perwakilan kalangan intelektual, yang pastilah dekat dengan kaidah dan metodologi penelitian ilmiah, tentu mafhum kalau pernyataannya, sekecil apapun, harus bisa dipertanggungjawabkan. Klaim di atas, bisa jadi adalah hasil pengamatan dosen yang bersangkutan terhadap mahasiswanya. Bisa jadi telah ada yang meneliti, dan beroleh generalisasi yang mendasari asumsi di atas.

“Atau mungkin itu cuma sekadar obrolan di warung kopi?”
Itupun bisa saja terjadi, yang jelas obrolan di warung kopi sekalipun, ketika sudah diangkat ke ranah publik seperti facebook, lalu saya besar-besarkan pula di blog macam begini, bisa menjadi wacana yang sepertinya menarik untuk dikupas, apalagi ini menyangkut generasi sekarang dan mahasiswa, calon penerus masa depan bangsa… Yang jelas, klaim “teman dosen” di atas memiliki empat kata sifat: manja, malas, bermental tempe, dan penakut… Empat kata sifat yang dimiliki mahasiswa ini, kemudian digeneralisir ke keseluruhan generasi, yang menghasilkan kesimpulan bahwa generasi sekarang punya sifat: bermental mudah putus asa dan jauh dari keberanian, dan akhirnya memunculkan asumsi bahwa spirit generasi sekarang untuk menjadi orang jauh merosot dibandingkan generasi pendahulunya

Ketika kita bicara generasi, maka kita bicara sesuatu yang besar, sekumpulan manusia dari “time frame” tertentu dengan berbagai permasalahannya. Pertanyaannya, apakah mahasiswa, wabil khusus, mahasiswa bapak/ibu dosen di atas, dapat dikatakan mewakili keseluruhan generasi? Berapa persen anak muda yang jadi mahasiswa? (Ada yang punya datanya? Saya pernah dengar sih 2%, entah benar salahnya.) Apakah sudah lebih besar dari lulusan SD, SMP, sampai SMA/SMK yang tidak kuliah tapi langsung terjun ke dunia kerja atau berwirausaha? Yang jelas, adalah sangat tidak adil membebankan vonis demikian kejam ke seluruh populasi “generasi muda”.

Those who criticize our generation forget who raised it.

Kutipan di atas boleh jadi merupakan apologi kaum muda terhadap kritik “kaum pendahulu” mereka. Kita hidup di dunia yang sejatinya turun-temurun sebagai warisan generasi sebelumnya. Lebih-lebih, adalah mustahil “memotong satu generasi” kecuali ada genosida ultra massal, yang hasilnya pun, belum tentu optimal dalam mencetak penerus yang so called berkualitas.

Yah, meski demikian, selemah apapun “metode sampling” dari klaim di atas, saya masih tertarik dengan berbagai kata sifat yang ada di dalamnya. Faktanya adalah, memang ada anak muda yang malas, manja, dan penakut (kalau yang mental tempe, rasanya gimana ya, tempe kan sudah diakui sebagai makanan yang kaya gizi? jadi yang keren itu apa? mental burger? mental kebab?). Faktanya juga, masih ada kan, anak muda yang rajin, mandiri, dan pemberani? Banyak anak muda kita yang menjadi juara di berbagai perlombaan, Olimpiade Sains, Festival Sastra, Kontes Robot, dan yang terbaru, tim Sepakbola Junior dari Indonesia yang mengalahkan Italia di Milan dan jadi juara.

“Iya saya tahu, tapi-tapi-tapi™ kan masih lebih banyak yang jelek daripada yang bagus? Berapa sih perbandingannya? 1000 banding 1 juga belum tentu…”
Mari beranalogi, Spanyol juara piala dunia 2010, maka 31 negara lainnya adalah pecundang, dan ratusan negara lain yang tidak lolos piala dunia adalah super duper pecundang. Get the point?
Perlombaan, kompetisi, dan kontes tak lebih dari sekadar puncak gunung es. Saya baru dua tahun jadi guru di pinggiran kota kecil di Kalimantan, namun telah dengan mata kepala sendiri melihat bahwa masih ada banyak anak muda yang penuh semangat menuntut ilmu ke sekolah, rela berbasah-basah dan berpanas-terik, susah payah menyiapkan diri kala ada lomba, dan rela berlatih sampai berpatah-tulang *serius!* demi mengejar prestasi. Anak-anak itu, yang matanya penuh binar dan semangat itu, sungguh tak sanggup untuk saya katakan mereka manja apalagi pengecut. Maulana yang meraih perak senam artistik tingkat nasional, atau Elsha yang mendapat peringkat 3 lomba cipta puisi se-Kalimantan Selatan, hanya contoh dari ribuan anak lainnya yang mampu menoreh prestasi, dan tentu jadi kebanggaan seumur hidup bagi dirinya; sesuatu yang kadang dianggap orang dewasa sebagai sekadar “proyek” semata!

Ada lebih banyak lagi prestasi yang sifatnya intangible, tak terukur dengan angka, harga, apalagi piala. Ketika seorang anak muda mampu membuat dessert a la resto, mampu menghafal surat-agak-panjang, mampu mengumpulkan sekian juta dolar chip, mampu meraih pagerank 3, mampu merajut sarung tangan, mampu memainkan satu lagu dengan gitarnya, mampu mengerjakan PR tanpa dibantu, dan berbagai ‘mampu’ lainnya, yang mungkin bagi orang dewasa tidak penting dan tidak bermanfaat, namun bagi mereka dan kawan-kawannya bermanfaat, membantu, dan menyenangkan.

Tidak, orang dewasa kemudian mereduksi prestasi itu hanya sekadar yang fenomenal, luar biasa, mencengangkan, extraordinary; singkatnya membawa dobrakan. Sumpah Pemuda? Well, berapa yang ikut? Apa tujuan para sejarahwan mencatat kongres tersebut? Sebagai pembenaran bagi berdirinya Indonesia Raya yang Merdeka? Apakah cita-cita tersebut sudah terwujud ketika pembangunan dan pemerataan begitu tidak seimbang antara pusat dan daerah?
Angkatan 66? Ah, akhirnya sejarah memperlihatkan sendiri, bahwa itu cuma politik pencitraan TNI dan CIA dalam rangka kudeta kekuasaan. Sejak itu, Indonesia Raya yang Merdeka ini terjerumus dalam jeratan economic hitmen, utang dan korupsi berkepanjangan. Jangan lupakan pula apa yang kemudian terjadi pada para pemuda PEMBERANI saat peristiwa MALARI. Masih ingat?
Reformasi 98? Ah, terlepas dari darah yang telah tertumpah, toh kaum “elit” angkatan 98 ini saat ini sudah tak ada bedanya dengan gaya politisi generasi sebelumnya. Berapa persen dari mereka yang masih konsisten membela kepentingan rakyat?
Jadi parameternya apa? Haruskah para mahasiswa kembali berdemo bersama-sama, menjatuhkan SBY, misalnya? Saya ragu, bukan karena mereka tidak berani, melainkan karena mahasiswa di era Web 2.0. sekarang ini justru sudah lebih MELEK INFORMASI.

Beberapa komen saya di status Om Nopy (yang maksud lebih rincinya telah saya coba uraikan di atas) dijawab dengan pertanyaan pamungkas: “Andaikata memang tidak ada sama sekali yangg dilakukan generasi terdahulu untuk membesarkan generasi sekarang, bahkan terus memberi tauladan jelek dengan semua itu…. berarti dengan berdalih itu semua meng-aminkan kualitas generasi muda sekarang yang seperti ini memprihatinkannya… berarti jawaban dari pertanyaan status saya,.. bener donk asumsi itu semua….. (doh), jadi sekali lagi benar kualitas turun…alibi terbesar gara2 generasi pendahulu banyak ndak bener, dan generasi muda mengaminkan dan melazimkan penurunan kualitas diri ini, saya pun dengan pembelaan argumentasi itu, apa juga udah nyampe 1000 data kalau generasi muda sekarang berkualitas? or hanya pembelaan?”

Tidak, saya tidak bisa menyalahkan sebuah asumsi, karena asumsi seseorang itu adalah sesuatu yang sudah pasti dianggap benar; menurut yang empunya asumsi tentunya. Saya hanya tak merasa nyaman dengan dikotomi benar-salah terkait manusia, apalagi menggeneralisir segelintir oknum mahasiswa di kota besar dengan keseluruhan generasi muda di Negara Kesatuan Republik Indonesia Raya yang Merdeka ini. Om Galeshka di status Plurk-nya mengatakan “generalisasi emang bagian yg perlu dalam menjalani hidup. tapi sebisa mungkin, rasanya jgn digunakan kalo menyangkut manusia/orang lain :-) ” dan saya sedikit banyaknya sependapat dengan beliau. Jadi kalaupun kemudian saya disuruh menjawab pertanyaan Om Nopy di atas, maka jawaban saya jadi mirip lagu dangdut: “Tidak Semua… Laki-lakiiii….“.

Terakhir, sebaiknya yang masih suka menyalahkan kelakuan anak muda zaman sekarang perlu membaca dwilogi legendaris karya Mbah Geddoe yang ditulis ketika usianya masih 17-18 Tahun…

*Kayaknya kepanjangan deh… *

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: