Archive for the 'Sports, Games & Entertainment' Category

Internazionale Milano Juara Coppa Italia 2010/11

30 Mei, 2011

Ya, ‘review’ tahunan ini akhirnya berganti judul.

Pertama-tama, saya ucapkan selamat dulu untuk rival sekota, AC Milan, yang meraih gelar Scudetto pertama mereka sejak 2004, dan kembali menyamai perolehan gelar Inter menjadi 18. Dengan tinggal menyisakan dua gelar lagi untuk meraih dua bintang di logo klub, persaingan kedua klub di musim-musim mendatang sepertinya akan terus memanas. Baca entri selengkapnya »

Construction Toys

22 Agustus, 2010

*Peringatan: Postingan kangen anak!*


(Nadira dan konstruksinya)

Di antara sekian banyak mainan yang “dihibahkan” orang (saya malah nyaris tidak pernah membelikan mainan… *bokap kere*) untuk Nadira -dari boneka sampai set masak-masakan-, yang menjadi kesayangan dan paling sering ia mainkan adalah sekeranjang balok bongkar pasang alias construction toys.

Set mainan ini diberikan oleh budenya sebagai oleh-oleh, terdiri atas ratusan keping balok dan macam-macam perangkatnya. Kalau dipakai semua, kita dapat membangun sebuah rumah lengkap dengan kincir angin, taman dan mobil. Kalau sudah melihatnya bermain, saya jadi kagum dengan imajinasi seorang balita; selalu ada cerita di balik setiap “konstruksi” yang ia rancang.

Saya teringat kalau sewaktu kecil dulu juga senang bermain dengan mainan konstruktif. Bukan construction set seperti di atas, tentunya, terlalu mewah untuk ukuran keluarga zaman dulu. Ada dua mainan di masa kecil yang masih membekas dalam ingatan, dan mungkin menjadi penyebab kenapa saya sekarang suka bermain game bertipe simulasi atau RTS.

Mainan pertama namanya Bombiq. Ada yang masih ingat? Saya sudah coba googling tapi masih belum menemukan fotonya. Bombiq ini berupa kepingan plastik pipih sebesar uang logam, dengan delapan lubang di pinggirannya. Antar satu keping dengan kepingan lainnya disambungkan lewat lubang ini. Dari sambungan-sambungan ini kita bisa membentuk berbagai model. Seingat saya, foto paling spektakuler yang ada di kotaknya dulu adalah model candi Borobudur.

Mainan kedua, sepertinya kurang cocok kalau disebut mainan, tepatnya mungkin “kerajinan”, adalah papertoy atau papercraft. Model kertas ini saya dapatkan dari bonus majalah Ananda (sayang sekarang sudah ndak terbit lagi ya…). Model yang pernah saya buat antara lain Pesawat Concorde, Kapal Columbus, dan tentunya, yang paling spektakuler, sebuah kota abad pertengahan, lengkap dengan orang-orang dan kendaraannya. Yang disebut terakhir ini diturunkan bertahap dalam sekitar selusin edisi, jadi harus sabar betul menggarapnya.

Untuk papercraft, sepertinya masih banyak situs di internet menyediakan unduhan gratisnya. Saya sendiri sesekali membuat model kertas hasil mengunduh dari papertoys.com, Canon Creative Park, dan berbagai blog/situs lainnya. Sedangkan untuk Bombiq, wah, sepertinya sudah “punah” ya? Entah apakah masih ada jual, dan anak-anak zaman sekarang juga mainannya sudah canggih-canggih, membuat mainan semacam ini bernasib kurang lebih sama seperti Woody cs

Saat ini, brand nomor satu untuk construction toys tentunya adalah LEGO. Perusahaan asal Denmark ini punya reputasi tak diragukan lagi dalam morotin duit orangtua, inovasi dan tema. Modelnya dikenal amat detil, dan kaya ornamen. Lewat Legoland, kita disuguhi dunia mini dari plastik, dengan berbagai bangunan dengan tingkat presisi tinggi. Bahkan, bukan cuma mainan atau miniatur, seorang seniman bernama Nathan Sawaya telah lama dikenal fokus menciptakan karya seni berbahan dasar Lego; karya-karyanya bikin merinding!

Dan beberapa hari ini saya lagi senang-senangnya mengunduh video-video terkait Lego di Youtube. Ada banyak iklan lucu, video viral parodi film ternama, juga tutorial membuat perabotan. Cara yang efektif untuk menghabiskan benwit :mrgreen: .

Yah, meskipun kalau melihat daftar harganya, rasanya pengen nonjok itu perusahaan kapitalis, saya harap kalau ada rezeki lebih, nantinya bisa membelikan satu untuk Nadira, mengingat karakter suka mengaturnya yang ternyata tersalur dengan sangat baik lewat mainan macam ini…

Note: Untuk fans Lego di Indonesia, ada Bricks Klub Indonesia sebagai forum (unofficial) buat bertukar info bagi para penggemar Lego.

Internazionale Milano Scudetto Serie-A Season 2009/10

18 Mei, 2010

Musim yang menegangkan itu pun berakhir sudah. Cerita perjuangan para “Gladiator” Roma yang fantastis di bawah komando Mr Runner-Up, Ranieri, berakhir antiklimaks. Serie A secara resmi menetapkan FC Internazionale sebagai juara, setelah di pekan terakhir skuad Jose Mourinho menang tipis 1-0 atas tuan rumah Siena.
Ini kali ketiga saya menulis judul serupa. Pertama, tahun 2008, ketika gelar juara Inter, sama seperti tahun ini, juga diraih di pekan terakhir. Ketika itu pesaing terdekat mereka juga Roma. Sementara tahun lalu, gelar juara relatif didapat dengan lebih mudah, dengan keunggulan sepuluh poin di atas dua rival abadi, Juventus dan AC Milan.
Hanya saja, scudetto tahun ini bisa dibilang yang paling istimewa ketimbang dua scudetto sebelumnya (dan saya tidak menganggap scudetto lungsuran tahun 2006 dan scudetto tanpa perlawanan tahun 2007 sebagai sesuatu yang patut dibanggakan).
Ada beberapa hal yang membuat musim ini jadi musim paling berkesan sepanjang 12 tahun saya menjadi Interisti.
1. Calciomercato, perfetto!
Tak pernah rasanya Inter sesukses ini dalam jual beli pemain, ditambah pengalaman buruk bursa transfer musim sebelumnya. Praktis, hanya Sulley Muntari yang lumayan sebagai pelapis Cambiasso, sementara Mancini dan Quaresma benar-benar tak berguna.
Sementara musim ini, betapa Lucio menjadi pilar sempurna untuk lini belakang Nerazzurri, apalagi mengingat si Tengik Materazzi makin tak dapat diandalkan.
Motta menjadi satu elemen penting di lini tengah, dan Sneijder, tak diragukan lagi adalah kepingan puzzle yang telah lama hilang di tim ini.
Satu orang yang mungkin paling kecewa saat ini adalah Zlatan Ibrahimovic! Ambisi besarnya untuk bermain di klub terhebat sejagad raya ternyata berjalan tak sesuai harapan. Sementara Eto’o, pemain yang dikira sudah “habis” sehingga dipaketkan dalam transfer Ibra, justru masih saja bermain apik…

2. Bravo Diegooooooooo!!!!
Akan tetapi, pemain nomor satu di kubu Nerazzurri saat ini adalah, tak lain dan tak bukan, Diego Milito! Gol-gol penentu kemenangan kerap lahir dari pemain yang, semula, saya kira cuma bakal jadi penerus Julio Cruz…
Gol tunggalnya di final Coppa melawan Roma, juga ke gawang Siena di pekan terakhir Serie A menjadi dua gol penentu disematkannya dua gelar tersebut di jersey Inter musim depan.

3. Treble Winners Wannabe…
Dua gelar sudah di genggaman, tapi itu belum selesai, karena masih ada satu pertandingan yang harus dituntaskan: Final UEFA Champions League, melawan Bayern Munich.
Apapun hasilnya, tim Inter saat ini sudah meraih prestasi yang sangat tinggi, karena sudah 38 tahun mereka tak pernah menjejak final, pun sudah 45 tahun tak pernah juara lagi di ajang ini.

4. Mourinho dan Pers
Si mulut besar makin lama kian tak cocok dengan atmosfer pemberitaan di Italia. Jika selama di Inggris, gaya sarkasme-nya menjadi santapan favorit pers Inggris yang memang terkenal sinis, kultur berbeda di Italia membuatnya jadi hujatan berbagai pihak. Ia tak tahan, bicara didenda, membuat gerakan tertentu dihukum. Akhirnya ia memilih bungkam di sisa musim, dan kembali bicara setelah menggenggam dua gelar, kali ini, gantian membungkam siapa saja yang meragukan kehebatannya.
Dan sekarang, Mou DIPASTIKAN akan ke Madrid. Ya, setidaknya, tanggal 22 nanti ia akan berada di Madrid, dan semoga permanen di sana :twisted: .

5. The Victory is Ours
Menang dua kali lawan Milan, menyingkirkan Juventus dan Fiorentina di Coppa, menelikung Roma di dua ajang, pun merumahkan Chelsea dan tim terhebat di dunia, Barcelona di UCL, rasanya seperti mimpi saja. Akan tetapi itulah yang terjadi musim ini, dan fakta bahwa Inter mengoleksi gol terbanyak dan kebobolan paling sedikit jadi bonus lain untuk menunjukkan betapa superior tim ini, musim ini.

Dan untuk itu semua, tak peduli biarpun Maradona jadi orang paling membingungkan sedunia, Javier Zanetti dkk tetaplah juara, dan sedang merintis jalan untuk menjadi tim terbaik Eropa, lalu dunia… Teruslah bermimpi selagi bisa, Forza la Beneamata!

7 Albums I’d Play In My Café

11 Januari, 2010

Di Banjarbaru ada sebuah warung makan café tempat anak muda gawul kota ini kerap berkumpul. Lokasinya yang strategis, dekat dengan pusat keramaian satu-satunya membuat café ini nampak selalu dipenuhi pengunjung untuk hang out dan eksis. Sesekali saya pernah ditraktir makan di sana, dan saya perhatikan, memang lokasi yang pas inilah keunggulan utamanya. Dari sisi makanan dan minuman tak ada yang istimewa. Pun, pelayanan dan keramahan pengelolanya tidak luar biasa meskipun tentu tak seburuk pelayanan RS Omni.

Ada satu hal yang unik di sana, yaitu musik latar mereka. Entah kenapa setiap saya ke situ, yang diputar selalu lagu-lagu lama dari album Creed… Yah, lagu-lagu dari zaman saya kuliah dulu; My Sacrifice, One Last Breath, dan sebangsanya. Sesekali diputar juga lagu-lagu Linkin Park dan Audioslave. Saya tak tahu apakah hanya gara-gara saya yang jadul makan di situ mereka lalu dengan sengaja memutarkan lagu-lagu di atas, atau memang lagu-lagu itu sudah jadi “ciri khas” café ini dan pengelolanya yang seolah “terjebak di masa lalu”?
Ah, musik kan selera pribadi? Jadi adalah hak pengelola untuk memutar lagu apapun yang mereka suka, tak peduli kalau para pengunjung yang gawul dan kinyis-kinyis itu lebih mengakrabi ST12 atau Hijau Daun…

Iseng-iseng saya jadi mikir, seandainya saya punya café sendiri, lagu-lagu apa saja yang akan diputar di sana? Terinspirasi dari satu artikel di Kompas, saya memilih tujuh album yang saya khayalkan akan dicekokkan ke kuping pengunjung. Ketujuh album tersebut tentu sudah saya pilih melalui seleksi ketat dengan tingkat subyektivitas yang maha tinggi :twisted: . Berikut daftarnya:

1. The Corrs – Talk on Corners (1997)
The Corrs adalah salah satu grup yang paling berhasil menjejalkan musik tradisional Irlandia ke pasar mainstream, di tengah persaingan ketat para diva dan boyband kala itu. Album ini menjadi masterpiece mereka dengan beberapa hits yang catchy sekaligus classy.
Dan, ah, seperti si pengelola café di atas, saya juga kerap merasa terjebak dalam masa lalu saat mendengarkan kembali album ini…

2. City of Angels: Music from the Motion Picture (1998)
Dua judul saja sebenarnya sudah cukup mewakili: Iris dan Uninvited. Dua hits besar dengan tingkat airplay yang sangat tinggi, bahkan hingga sekarang. Tak hanya itu, album ini benar-benar sarat bintang: Eric Clapton, Jimi Hendrix, dan Peter Gabriel, sekadar menyebut beberapa nama, tentu bukan musisi kemarin sore. Album ini jadi album soundtrack favorit saya, bersaing dengan lagu-lagu remake The Beatles di OST I am Sam.

3. Connie Talbot – Over The Rainbow (2007)
Album sederhana, dengan lagu-lagu top forty yang mungkin sudah didaur ulang oleh berbagai penyanyi. Yang membedakan di sini, penyanyinya adalah seorang anak gadis berusia enam tahun… Silakan cek dulu namanya di Youtube dan simak penampilannya di depan Simon Cowell. Suaranya bening dan sepertinya cocok untuk saya gunakan di kelas Listening.

4. Depapepe – Let’s Go!!! (2005)
Mohon maaf kepada pecinta musik Jepang, tapi jujur saja, saya nggak tahan mendengar suara vokalis mereka, baik cowok lebih-lebih cewek. Dari lagu-lagu Jepang yang pernah saya dengar, suara mereka kebanyakan pitchy, cempreng, dan seolah tak bertalenta dalam menyanyi. Akan tetapi, mendengarkan lagu-lagu dari grup Jepang satu ini, membawa nuansa lain ke telinga saya. Harus saya akui, musik yang mereka bawakan dahsyat! Harmonis dan sekaligus bersemangat. Yup, Depapepe adalah satu dari sedikit grup Jepang yang saya rekomendasikan.

Dan sudahkah saya bilang kalau grup ini tanpa vokalis? :mrgreen:

5. Vonda Shepard – Songs from Ally McBeal (1998)
Vonda Shepard jadi penyanyi pertama yang terlintas di kepala saya ketika membicarakan café dan musik latar. Tak heran, di serial sinetron Ally McBeal, beliau memang kerap berperan sebagai penyanyi café yang menghibur Ally dan rekan-rekannya dengan lagu-lagunya yang merdu mendayu…

6. OST – Badai Pasti Berlalu (1977)
Dari tadi musisi luar melulu, yah? Nah untuk musisi dalam negeri, album ini tentu lebih dari sekadar layak dipertimbangkan. Ini album Indonesia terbaik, kata sebagian kritikus musik. Dan, iya, yang saya maksud adalah album OST filmnya yang lama, bukan yang keluaran 2007 tak peduli meskipun di situ ada Vino Bastian yang kewl abis ituh :oops: .

7. U2 – All That You Can’t Leave Behind (2000)
Nggak usah dikomentari ya? Semua yang kenal saya pasti sudah pada tahu lah alasan saya. :twisted:

*****************************************************************

Yap, itulah tadi daftar tujuh album yang akan diputar di café saya. Jadi, kalau semisal ternyata ketujuh album di atas nggak cocok dengan selera anda, maka bersyukurlah, bahwa ternyata saya memang belum ada niatan untuk membuka café… :mrgreen:

Theme Hospital – Kelola Rumah Sakit Anda Sendiri

6 Desember, 2009

Jika anda pernah merasa tidak puas dengan pelayanan di rumah sakit Ul*n atau geram melihat kasus RS Omni VS Prita, mungkin dengan memainkan game ini, anda akan mendapat insight baru.

Bahwa ternyata mengelola rumah sakit itu ribet dan menyebalkan! :twisted:

Theme Hospital adalah game jadul (1997) keluaran Bullfrog. Saya pertama kali memainkannya semasa SMA dulu di platform PlayStation. Tahun lalu saya sempat mendownload versi DOS-nya (bisa di-download di sini). Nah, beberapa bulan lalu saya mendapat versi Windows yang lebih stabil, lengkap dengan FMV dan efek 3Dnya (bisa di-download di sini *jangan terkecoh dengan namanya, itu benar-benar game Theme Hospital, dan BUKAN Hospital Tycoon!*).

Inti dari game ini adalah strategi pengelolaan rumah sakit. Di awal level permainan, anda akan disuguhi segepok uang dan lahan kosong yang kemudian harus anda kembangkan untuk menjadi sebuah rumah sakit. Anda harus membuat ruangan untuk diagnosis, perawatan, klinik dan lainnya, menyewa dokter, perawat, handyman dan resepsionis, mengembangkan riset untuk penemuan mesin dan ruangan baru, melatih para dokter baru agar punya spesialisasi lebih, dan dengan tidak lupa memperhatikan aspek efisiensi, efektivitas, tata ruang, dan kebersihan rumah sakit anda (tikus-tikus itu berkeliaran…).

Untuk memenangkan setiap level, ada target-target yang harus dikejar. Ada yang harus mengumpulkan sekian banyak koin uang, jumlah pengunjung yang disembuhkan, atau tingkat reputasi rumah sakit tersebut di masyarakat. Ada berbagai masalah yang juga harus dihadapi, makin sulit tiap naik level; gempa bumi, wabah menular, muntah massal, sampai tamu-tamu tak terduga.

Hal yang paling saya sukai dari game ini adalah unsur “dark comedy“-nya yang amat kental. Game ini sinis, sarkastik, sekaligus satirik. Nama penyakitnya aneh-aneh, penampilan dan ekspresi para pasiennya juga unik, dan cara penanganan hingga proses kematian pasien pun digambarkan dengan sangat kocak. Penyakit bloaty head, misalnya, disembuhkan dengan meletuskan kepala si pasien terlebih dahulu, untuk kemudian diberi kepala baru. Si dokter bisa ngambek dan nggak mau keluar dari staff room kalau gajinya tidak dinaikkan. Dan yah, muntah massal-nya begitu menjijikkan kalau anda tidak cepat tanggap dengan menyediakan tambahan handyman.

Overall, game ini menurut saya masih salah satu game strategi (jadul) terbaik; worth playing, time wasting, dan tentunya hilariously nostalgic.

Posting ini saya dedikasikan untuk Sora; we’re in the same club now, comrade…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: