Posts Tagged ‘Sains’

Berpikir Ilmiah

17 Agustus, 2010

Salah satu contoh di buku “Basic Skills For Academic Reading”-nya James W. Ramsay mendeskripsikan satu metode khusus yang diterapkan oleh para ilmuwan dalam bekerja. Metode itu disebut scientific method atau metode ilmiah. Metode ini secara umum telah diterapkan oleh para ilmuwan di seluruh dunia dalam memecahkan berbagai masalah yang ada di dunia.

Apa itu berpikir ilmiah?
Esensi dari berpikir ilmiah sebenarnya adalah berusaha menjawab pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang menjadi titik tolak suatu penelitian yang mengedepankan metode ilmiah. Agar suatu pertanyaan terjawab, ada serangkaian langkah yang harus dijalani, dan ini telah diajarkan di sekolah sejak kita kecil: berpikir logis-empiris.

Ramsay membagi langkah-langkah metode ilmiah menjadi empat kelompok besar:
1. Observation
2. Hypothesis
3. Experiment
4. Conclusion

1. Observation (Pengamatan) adalah langkah awal dari suatu penelitian. Pada tahap ini peneliti melihat suatu masalah, mengumpulkan informasi terkait hal tersebut (misalnya muasal/penyebab masalah), untuk kemudian membuat pertanyaan.
2. Dari pertanyaan tersebut, peneliti membuat “tebakan” apa kira-kira jawaban bagi masalah di atas. Tebakan ini berbeda dengan asumsi subyektif, karena ia harus didasarkan pada data dan fakta, serta punya landasan teori yang jelas.
3. Untuk membuktikan kalau tebakan (hypothesis) yang dibuatnya sesuai dan mampu menjawab pertanyaan, peneliti melakukan serangkaian percobaan, mengumpulkan data dan sampel, menganalisisnya, serta kalau perlu membuat pengamatan kembali.
4. Dari serangkaian percobaan (experiment) tersebut, ditariklah kesimpulan, yang diharapkan dapat menjawab dengan baik masalah yang muncul.

Ulasan di atas, tentunya terlalu menyederhanakan, karena pada praktiknya, penelitian berjalan dengan rumit dan tumpang tindih. Akan tetapi benang merahnya tetap sama, yaitu bahwa setiap penelitian ilmiah harus tetap mengacu pada keempat langkah di atas. Satu hasil penelitian ilmiah bisa diuji lagi dalam penelitian lanjutan, atau digabungkan dengan penelitian lain, sehingga dimunculkan kesimpulan baru, yang bisa jadi mendukung, menolak, atau memperbaiki kesimpulan terdahulu. Proses ini terjadi terus menerus, dan perkembangannya semakin meluas secara dinamis. Hasilnya adalah berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang bisa kita nikmati sekarang.

Akan tetapi, tentunya, metode ilmiah bukan satu-satunya cara memahami dunia. Tak jarang metode-metode lain yang tidak ilmiah justru “menelikung” logika, dan menciptakan “kebenaran” yang tak dapat diganggu gugat. Ini jelas berbeda dengan prinsip metode ilmiah yang masih memberi ruang pada fakta baru untuk terus merevisi “kebenaran” terdahulu. Metode semacam ini bisa disebut sebagai berpikir dogmatis. Dan sayangnya, salah satu landasan teori yang paling sering disalahgunakan, adalah faith alias iman; skriptural, biblikal, korani, dan lain sebagainya. Ini tentu menyedihkan, karena ketika teks kitab suci yang cenderung multitafsir itu justru dijadikan patokan, dan masuk ke ranah ilmu pengetahuan, yang terjadi adalah apologi: pembenaran, dan bukannya proses pencarian atas kebenaran hakiki itu sendiri.

Dari laman ini, saya menemukan satu bagan yang agak sarkastik, tapi cukup representatif dalam membandingkan kedua metode tersebut.

Berbahayakah pemikiran dogmatis? Ah, sejarah telah mencatat berbagai penaklukan dan kehancuran yang didasarkan atas pola pikir semacam ini. Tentu, hingga saat ini pun, akan masih banyak orang yang memilih dengan sadar untuk bersikap dogmatis, pro status quo, dan taking anything for granted. Akan selalu ada, toh bumi masih cukup untuk menampung semua jenis manusia, kan? ;)

Comments Of The Day!

13 Agustus, 2010

Ah, gara-gara Kakak So ngeplurk soal perkara lama, saya jadi puyeng malam ini. (Serius!! Kayaknya dah mau vertigo ni kepala..).

Ya, setelah membaca lagi postingan-postingan di langitselatan.com terkait MMB vs BMM, berikut komen-komennya, ada dua komentar yang saya anggap layak untuk meraih predikat comments of the day. Postingan ini saya dedikasikan untuk mereka berdua yang telah begitu berkacamata kuda, kukuh, istiqomah, dan ‘ngelmu‘, sehingga saya putuskan untuk mengcopy-paste habis dalil komen mereka. Semoga yang membaca bisa memeroleh kepuyengan setara hikmah di bulan yang mulia ini, amiiiiin….

[proses pembodohan kopipes dimulai di sini]

Komentar Pertama dari Syamsul Kamri

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatauh
Salam sejahtera bagi siapa yang mendapat pentunjuk….

Bapak Nggieng yang saya hormati….
Salam kenal dari saya, Syamsul Kamri, mahasiswa jurusan Ilmu Kelautan IPB Bogor …..
Saya sangat senang bisa berkenalan dengan Bapak karena mempunyai latar belakang pendidikan Astronomi yang cukup mumpuni…LAPAN, dan mau peduli dengan permasalahan ini (Matahari mengelilingi bumi?, MMB, sekaligus sebagai tanggapan terhadap tulisan Bapak di Langitselatan.com : Bagaimana membuktikan bahwa Bumi mengelilingi Matahari, dan bukan sebaliknya?)….Alhamdulillah.
Sebelumnya saya mohon maaf karena saya tidak mengetahui apakah Bapak beragama Islam atau bukan, namun saya beraanggapan bahwa Bapak beragama islam, karena itu mohon izin, karena saya akan memulai pembahasan ini dengan ayat Al Quran karena merupakan kebenaran mutlak.
1. QS Ibrahim (14) : 33
Dan Dia telah menundukkan bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar…….
2. QS Al Anbiya (21) : 33
Dan dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dari keduanya beredar dalam garis edarnya
3. QS Yasin (36) : 38
Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan dari yang maha Perkasa dan Maha Mengetahui.
4. QS Yasin : 39
Dan kami telah menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (fase), sehingga ketika dia sampai pada fase yang terakhir, kembalilah dia berbentuk tandan yang tua (bentuk sabit).
5. QS Yasin : 40
Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan (karena) masing-masing beredar pada garis edarnya.

Saya kira kelima ayat di atas sudah sangat jelas bahwa MATAHARI dan BULAN mempunyai GARIS EDAR dan BERGERAK dalam LINTASAN tersebut…..Dari segi bahasa, garis edar maksudnya sebuah lintasan yang membentuk lingkaran, artinya matahari beredar mengelilingi sesuatu…..Nah sesuatu itu apa? Adapun bulan, kita semua sepakat bahwa dia mengelilingi bumi yang dalam literatur dinyatakan selama 24 jam 10 menit, terlambat 10 menit dari matahari. (dan kalau ikut pendapat yang selama ini, berarti dia juga mengelilingi matahari?, karena bulan mengikuti bumi, inilah yang saya coba tanggapi).
Kembali pada gerakan beredar matahari……ini suatu kepastian, sangat jelas karena ayat di atas tidak perlu diinterpretasi. Masalahnya sekarang, matahari itu mengelilingi apa? Dengan segala keterbatasan, saya belum pernah mendapatkan literature tentang hal itu, teori selama ini menyatakan bahwa mataharilah sebagai pusat tatasurya, artinya matahari itu diam, tetapi teori ini gugur karena ayat Al Quran di atas, bahwa matahari itu beredar dalam lintasannya. Atau apakah ada pendapat bahwa matahari dan gugusannya termasuk bumi, bulan dan lainnya merupakan suatu cluster (semacam galaksi bimasakti?) yang bergerak bersama-sama mengelilingi sesuatu? Sesuatu itu apa? Arahnya kemana? Mengapa ilmu pengetahuan belum menemukannya? Belum ada penelitian tentang itu?
Sekarang….dari segi mana saya membantah bahwa BUMI mengelilingi Matahari (BMM)?
1. Kempat ayat di atas sangat jelas menyatakan bahwa matahari bergerak dalam suatu garis edar, artinya gerakannya melingkar, mengelilingi sesuatu, saya menafsirkannya, mengelilingi bumi, mengapa?, bukankan secara kasat mata kita melihat matahari itu terbit, meninggi, akhirnya terbenam, kemudian terbit lagi begitu seterusnya. Bukankan ini suatu gerakan melingkar? Ok, tentu Bapak akan mengatakan “karena bumi berputar pada sumbunya ke arah timur, sehingga terlihat gerak semu matahari ke arah barat” baiklah….Pembahasan selanjutnya saya tanggapi hal tersebut….
2. Pada tulisan Bapak di Langitselatan.com : Bagaimana membuktikan bahwa Bumi mengelilingi Matahari, dan bukan sebaliknya?, pada bagian akhir Bapak menulis tentang “Mengenal Hilal”, demikian kutipannya (sedikit saya edit): “Penentuan awal bulan Puasa dan Idul Fitri ditentukan oleh adanya pengamatan Hilal, yaitu sesaat ketika Bulan melewati fase konjungsi (dalam bahasa Arab: Ijtimak), yaitu ketika Matahari-Bumi-Bulan berada pada satu garis lurus. Pada saat sekitar ijtimak, Bulan tidak dapat terlihat dari bumi, karena permukaan bulan yang nampak dari Bumi tidak mendapatkan sinar matahari, sehingga dikenal istilah Bulan Baru. Pada petang pertama kali setelah ijtimak, Bulan terbenam sesaat sesudah terbenamnya matahari”…….. Rukyat adalah penentuan posisi Bulan Baru berdasarkan pengamatan, yakni bulan sabit pertama tampak sesaat setelah ijtimak, pada saat menjelang terbenamnya Matahari, (Pada waktu Bulan di ufuk Barat dan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada saat tersebut di lokal tersebut memasuki tanggal 1. Tetapi bisa terjadi selang waktu ijtimak dengan terbenamnya Matahari terlalu pendek, sehingga secara teori, pendaran iluminasi cahaya Bulan tidak cukup teramati, karena masih terlalu suram dibandingkan semburan cahaya sekitar (pendaran cahaya Matahari terbenam).
Sampai di titik itu, kita sepakat, tetapi pernahkah Bapak memikirkan kelanjutan prosesnya sampai menjadi purnama dan kembali menjadi bentuk sabit sebagaimana yang dinyatakan dalam QS Yasin 39 di atas : “Dan kami telah menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (fase), sehingga ketika dia sampai pada fase yang terakhir, kembalilah dia berbentuk tandan yang tua (bentuk sabit)”. Sekali lagi saya tanya, “Pernahkah Bapak memikirkan atau membayangkan bagaimana proses perubahan fase tersebut?”
Mari kita bahas secara bertahap….
a. Kita sepakat bahwa bulan beredar mengelilingi bumi selama 24 jam 10 menit terlambat 10 menit dari matahari. Lalu…..? ok, untuk sementara saya ikut teori bahwa bumi berputar pada sumbunya mengarah ke timur selama 24 jam dan matahari diam (kita abaikan dulu, bumi mengelilingi matahari, supaya tidak bertambah bingung). Nah kalau bumi berotasi pada sumbunya mengarah ke timur, lalu bulan juga berputar mengelilingi bumi….., masalahnya sekarang, gerakannya mengarah ke mana?, hanya dua kemungkinan, ke arah barat atau timur, atau Bapak punya pendapat lain? Ke arah mana? Ok, kita tinjau dulu gerakannya mengarah ke timur mengikuti arah rotasi bumi, ….pernahkah Bapak membayangkan apa yang terjadi?. Satu titik di bumi akan mendapatkan cahaya bulan selama hampir 24 jam, karena bulan mengikuti rotasi bumi dengan kecepatan yang hampir sama, kecuali kalau ada pendapat bahwa kecepatan bulan tidak secepat itu, minimal setengah dari kecepatan rotasi bumi, ya sekitar 12 jam, konsekuensinya bulan membutuhkan waktu selama 2 x 24 jam untuk mengelilingi bumi secara sempurna. Akan tetapi apakah betul begitu? Betulkah bulan mengelilingi bumi dengan periode 48 jam?, Anggapan ini pun tertolak karena tetap akan terjadi posisi ijtima 2 kali dalam 48 jam. Ingat bahwa kita mengasumsikan matahari diam, sehingga dalam proses bulan mengelilingi bumi ada saat dimana terjadi ijtima.
b. Sekarang kita menganggap bahwa bumi tetap berotasi tetapi gerakan bulan menuju ke barat berlawanan dengan gerakan rotasi bumi dan mataharipun diam. Hal ini juga tidak mungkin, mengapa? Bayangkan ketika akan terjadi ijtima awal/akhir bulan….hilal yang nampak akan terjadi sebelum ijtima, itupun tidak mungkin terbentuk di ufuk atau titik horizon, tetapi sedikit lebih tinggi. Lalau kapan hilal baulan baru?…dengan konsep bumi berotasi ke arah timur dan bulan bergerak ke arah barat, maka selamanya tidak akan pernah tampak hilal bulan baru…..
c. Nah sekarang, kalau bumi berputar pada sumbunya ke arah timur, matahari diam, maka ke arah manapun bulan beredar mengelilingi bumi, maka hasilnya tidak pernah sesuai dengan kenyataan sebenarnya, atau Bapak punya kombinasi gerakan lain, yang menunjukkan proses terjadinya perubahan fase bulan dimana posisi ijtima terjadi hanya 2 kali dalam sebulan?……..
d. Sekarang kita tinjau kombinasi gerakan rotasi bumi, gerak bulan mengelilingi bumi dan gerak bumi/bulan mengelilingi matahari….
Sebelum saya lanjut, sampai saat ini saya belum tahu arah putaran bumi mengelilingi matahari kemana…? Anggaplah teori ini benar (karena saya pemegang teori MMB), arah putaran yang paling mungkin adalah ke timur atau barat. Mengapa, karena karena adanya lintasan semu bumi pada garis khatulistiwa dan 22.50 LU/LS. Permasalahannya sekarang adalah ke timur atau ke barat?……(tidak ada masalah baik ke timur atau ke barat, yang bermasalah kalau ada gerakan lain selain keduanya, tapi kemungkinan kemana?)
Dalam pandangan saya, pengaruh perputaran bumi mengelilingi matahari hampir tidak mempengaruhi perubahan fase harian bulan, karena periodenya hanya satu bulan sementara revolusi bumi adalah 1 tahun (sehingga kita bisa menganggap bumi diam). Kita ketahui bulan adalah satelit bumi, artinya kemanapun bumi berada, di situ ikut bulan, jadi kalau dianggap bumi mengelilingi matahari, tentu bulanpun juga mengelilingi matahari, pada saat yang sama juga mengelilingi bumi. Jadi walaupun kita kombinasikan gerakan {(1) bumi pada porosnya (2) bulan mengelilingi bumi (3) bumi/bulan mengelilingi matahari}, secara simultan, tetap akan terjadi posisi ijtima 2 kali dalam 24 jam, karena bulan mengelilingi bumi dalam waktu 24 jam 10 menit. Jadi kombinasi ketiga gerakan inipun tidak mungkin karena berlawanan dengan kenyataan yang terjadi.

Jadi sebenarnya bagaimana?….
Berikut saya menjelaskan bagaimana menerangkan bahwa MATAHARI dan BULAN MENGELILINGI BUMI, sehingga terjadi fase perubahan bulan mulai dari terbentuknya posisi ijtima awal bulan, terbentuknya hilal, bulan sabit awal, purnama dan bulan sabit akhir dan kembali pada posisi ijtima akhir/awal bulan…….Semoga Allah swt memberikan petunjuknya…….

Al Quran adalah kitab yang diturunkan Allah swt, Dialah yang menciptakan bumi dalam dua hari setelah itu menciptakan langit yang awalnya masih berupa asap, juga dalam dua hari (Fushshilat 9-12)….Allah swt menjelaskan bahwa matahari dan bulan bergerak dalam suatu garis edar….Ini adalah kebenaran mutlak…….
Perputaran bulan mengelilingi bumi kecepatannya 24 jam 10 menit, terlambat 10 menit dari matahari…..KETERLAMBATAN inilah yang menjadi kunci persoalan dari semua ini….
Perhatikan …..
Keterlambatan bulan atas matahari inilah yang menyebabkan terjadinya perubahan fase, dari waktu ke waktu. Untuk menjelaskan bagaimana terjadinya perubahan fase, maka matahari dan bulanlah yang HARUS mengelilingi bumi, dimana bumi harus diam dan tidak berotasi pada sumbunya. Bayangkan posisi ijtima awal bulan, ketika matahari, bulan dan bumi berada dalam satu garis lurus, dimana bulan berada di tengah. Mekanisme terjadinya hilal dimulai selepas ijtima, ketika matahari dan bulan mulai bergerak. Karena matahari lebih cepat, maka dalam beberapa jam (lebih dari 24 jam), matahari sudah sedikit mendahului bulan, sehingga terbentuk segitiga antara bumi, bulan dan matahari. Terbentuknya segitiga ini, menyebabkan terjadinya pantulan sinar matahari oleh bulan, yang bisa disaksikan di bumi. Pantulan inilah yang disebut hilal. (Perbedaan tinggi hilal setiap bulan inilah yang menjadi pemicu perbedaan di antara umat islam dalam menetapkan awal bulan, terutama dalam penentuan awal/akhir bulan Ramadan). Seiring dengan berjalannya waktu, pergerakan matahari semakin menjauh dari bulan, (sudut segitiga semakin besar) sehingga kita bisa menyaksikan posisi bulan semakin tinggi, ketika matahari sudah terbenam, sampai akhirnya terbentuk segitiga siku-siku, dimana bulan tampak setengah bola tepat di atas kepala pada waktu matahari terbenam (kira-kira hari ke 7). Sebenarnya bulan telah terbit pada siang hari, tetapi karena cahaya matahari lebih terang, sehingga bulan belum begitu nampak. Memasuki hari ke 14-15, terjadilah ijtima dengan posisi bumi berada di tengah. Inilah saat bulan purnama. Selanjutnya, bulan dan matahari terus bergerak, sampai akhirnya kembali terbentuk segitiga siku-siku, dimana kita bisa menyaksikan penampakan bulan setengah bola, berada tepat di atas kepala, tetapi kali ini pada waktu matahari akan terbit. Jadi bulan terbit pada waktu tengah malam. Demikianlah akhirnya, karena kecepatan bulan lebih lambat, hingga memasuki periode akhir bulan, seakan-akan matahari menyusul bulan, dan terbentuklah kembali ijtima akhir sekaligus awal bulan. Perhatikan, bahwa apabila bumi diam dan tidak berotasi pada sumbunya, sementara bulan dan matahari yang bergerak mengelilingi bumi, dimana matahari bergerak lebih cepat dari bulan, menjadi penyebab terjadinya perubahan fase bulan, dan hanya terjadi 2 kali ijtima dalam satu bulan bukan 2 kali sehari, sebagaimana bila kita mengatakan bahwa matahari diam tidak bergerak.

Sekarang saya akan menanggapi sebagian tulisan tentang 3 teori yang membuktikan bahwa BMM :
Ketiga teori tersebut mempunyai kesamaan, yaitu Bapak menetapkan bahwa bintang bintang tersebut diam, sementara bumi bergerak. Saya tanya, apa yang mendasari Bapak untuk menetapkan bahwa bintang tersebut diam?, apakah tidak ada kemungkinan bahwa bintang tersebut justru memang bergerak, bukan pergerakan semu? Sementara itu, teori aberasi dan teori paralaks bintang adalah teori yang sudah lama, apakah memang tidak pernah lagi diutak-atik secara ilmiah oleh pada ilmuwan? Dalam pandangan saya teori ini sangat rawan…..Khusus mengenai teori efek dopler, dimana Bapak menyebutkan bahwa perubahan informasi bisa terjadi karena pergerakannya adalah pergerakan relatif, apakah karena pengamatnya yang bergerak? Atau sumber-nya yang bergerak?. Apakah tidak mungkin bahwa memang bintang itu yang bergerak? Mengapa Bapak menetapkan bahwa bintang itu yang diam dan bumi yang bergerak? Apakah karena dia bernama bintang dan bukan komet, sebagaimana komet Halley yang bergerak mendekati dan menjauhi bumi?
Tambahan berikut ini saya tidak tujukan khusus kepada Bapak Nggieng, tetapi kepada siapa saja yang membacanya……
Berikut saya cantumkan kutipan diskusi….
1. Jika menjadikan bumi sebagai pusat “tata bumi” maka anda harus mengembangkan fisika baru untuk menerangkan gerakan2 itu. Sedangkan jika matahari jadi pusat, hal ini bisa diterangkan dengan gravitasi dan mekanika newton.
Yorga
……mungkin maksud Pak Yorga dengan “Fisika baru” tersebut adalah koordinat baru. Karena dalam fisika semua besaran dinilai relatif terhadap sebuah acuan (koordinat), maka kalau kita ganti acuannya maka besaran fisispun nilainya berubah. Tentu saja kita masih bisa mengembalikan (convert) sebuah besaran fisis dari satu acuan ke acuan yang lain (transformasi). Seperti kita merubah posisi satu titik dari koordinat kartesius menjadi koordinat bola misalnya.
Saat Copernicus, Galileo, dan Kepler pada awal abad ke-16 mengeluarkan teori heliosentrisnya (Matahari pusat tata surya), secara eksperimen orang-orang tidak lagi menerima teori geosentris yang difatwakan para filosof Yunani di zaman Aristotle dan Ptolemy dahulu kala. Teori geosentris bertahan sampai akhirnya orang-orang bisa memahami secara penuh konsep relativitas Einstein. Jadi sekitar pertengahan abad ke-20 baru orang-orang menyadari, TIDAK MASALAH apakah itu geosentris ataupun heliosentris karena fisika sebuah objek tidak tergantung pada koordinat.
2. Sebenarnya dengan tidak-adanya universal reference semacam ether, maka benda langit manapun bisa kita jadikan sebagai referensi atau d.k.l. “pusat”.
untuk kasus tata surya, kalau kita membuat, misalnya, bumi sebagai sebagai pusat, maka gerakan planet jadi sulit diterangkan. Mars contohnya, gerak retrogradenya tidak dapat diterangkan dengan mudah, kecuali kita mengambil matahari sebagai pusat dan semua planet bergerak mengelilinginya.(retrograde adalah gerakan berbalik arah saat diamati dari bumi. biasanya posisi planet2 tsb bergerak dari timur ke barat. tapi tiba2 selama beberapa minggu gerakannya berbalik dari barat ke timur) itulah yang dilakukan oleh kepler, galileo, halley, leibniz, newton dan fisikawan lainnya dulu.

Tanggapan saya….tentang gerak retrograde, dimana hanya dalam beberapa hari gerakannya berbalik arah. Saya mau tanya, bagaimana menerangkannya berdasarkan teori heliosentris, karena jika dianggap bumi mengelilingi matahari yang periodenya 1 tahun, sementara gerak retrograde tadi hanya dalam beberapa minggu, dalam pandangan saya “gerakan bumi mengelilingi matahari” hampir tidak mempengaruhi gerak retrograde tadi, kecuali ada kombinasi gerakan lain.
Sekedar informasi…..Jika kita hubungkan dengan agama, pandangan saya, gerak retrograde tadi adalah hal biasa, mengapa? Karena dalam hadits Nabi Muhammad saw, menerangkan bahwa menjelang hari kiamat, akan terjadi gerak retrograde dari matahari, sehingga terbit di barat dan terbenam di timur, (Peristiwa ini menyebabkan semua manusia masuk islam dan beriman kepada Allah swt, namun terlambat, karena siapapun yang beriman pada peristiwa retrograde matahari, tidak diterima imannya oleh Allah swt)
Maka mungkin saja gerak retrograde dari planet-planet tadi memang gerakan sebenarnya, dimana Allah swt sudah mengaturnya demikian, untuk menjadi tanda kekuasaan Allah swt. Seakan-akan Allah swt mengingatkan “ Hei manusia, nih..Saya perlihatkan gerak retrograde planet ini duluan, sebelum matahari, maka berimanlah kepadaKu, sebelum hari itu terjadi. Dalam satu hadits Nabi saw, dinyatakan bahwa orang-orang non muslim itu (terutama para ilmuwan?) suatu saat akan menerima (sukarela ataupun terpaksa) kebenaran Al Quran…..Siapa tahu melalui kajian astronomi ini. Kalau dulu ilmuwan islam lebih dahulu menemukannya, Nah sekarang, mengapa bukan kita yang memulai menghidupkan teori geosentris? Bukankan Al Quran sudah menyebutkan dengan jelas bahwa Matahari dan Bulan itu bergerak dan memiliki garis edar? Beredar dalam lintasannya? Al Quran tidak mungkin salah….Allah swt berfirman…Kami yang menurunkan Al Quran dan Kami akan menjaganya….so don’t worry ……..

Komen Kedua dari PULSAR

ADANYA KEJADIAN GERHANA MATAHARI DAN GERHANA BULAN , ADALAH BUKTI NYATA BAHWA MATAHARI YANG BERPUTAR BEREDAR PADA LINTASANNYA , MELAKUKAN PERLAMBATAN DAN PERCEPATAN PADA PEREDARAN LINTASANNYA , BEGITU JUGA GERHANA BULAN SEBAGAI BUKTI ADANYA PERCEPATAN DAN PERLAMBATAN PADA PERGERAKAN BULAN MENGELILINGI BUMI , HAL INI SALAH SATU BUKTI YANG MEMPERKUAT KEBENARAN GEOSENTRIS DAN SEBABNYA ADALAH ; JIKA BUMI BEREDAR MENGELILINGI SESUATU KEMUDIAN BERGERAK MELAKUKAN PERLAMBATAN DAN ATAU PERCEPATAN DARI KECEPATAN NORMALNYA , MAKA TENTU DAPAT DIBAYANGKAN SELURUH ISI BUMI YANG ADA DIATAS ATAU DIBAWAH PERMUKAAN BUMI ITU , AKAN BERGUNCANG KERAS ( GEMPA DAHSYAT ) AKIBAT DARI ADANYA PERLAMBATAN ATAU PERCEPATAN , JIKA BUMI MELAKUKAN PEREDARAN MENGELILINGI MATAHARI , PADA SETIAP SAAT TERJADINYA PERISTIWA GERHANA .

OLEH KARENA BUMI HANYA MELAKUKAN ROTASI UNTUK PERGANTIAN MALAM DAN SIANG (PADA TEMPATNYA YANG TETAP) , MAKA PENGHUNI PENGHUNI BUMI DAN SELURUH ISINYA TENTU TIDAK MERASAKAN ADANYA GONCANGAN , AKIBAT PERCEPATAN DAN PERLAMBATAN DARI PEREDARAN MATAHARI DAN BULAN PADA SAAT TERJADINYA GERHANA MATAHARI ATAU BULAN TERSEBUT , KARENA GONCANGAN AKIBAT PERLAMBATAN DAN PERCEPATAN HANYA TERJADI DI MATAHARI DAN BULAN , SEHINGGA JIKA PADA ROTASI BUMI ADA TERJADI PERLAMBATAN ATAU PERCEPATAN PADA ROTASI , MAKA TENTU RESIKONYA LEBIH KECIL SEBAB HANYA BERPUTAR PADA TEMPAT TETAPNYA , SEHINGGA HAL INI PUN DAPAT BERAKIBAT TERJADINYA GEMPA (TEKTONIK) DI BUMI , ARTINYA ADANYA GEMPA TEKTONIK TERSEBUT , SEBAGAI BUKTI AKIBAT ADANYA ROTASI BUMI DAN BUKANLAH KARENA ADANYA REVOLUSI BUMI KETIKA MELAKUKAN PERLAMBATAN ATAU PERCEPATAN .

SEPERTI ORANG YANG NAIK KERETA ATAU MOBIL DENGAN KECEPATAN TINGGI , TENTU PENUMPANG AKAN MERASAKAN KUATNYA GONCANGAN JIKA MOBIL ATAU KERETA MEMPERCEPAT ATAU MEMPERLAMBAT LAJUNYA , DIMANA PERBANDINGANNYA LAIN LAGI JIKA KITA MENCOBA NAIK KOMEDI PUTAR , MAKA JIKA KOMEDI PUTAR MELAKUKAN PERCEPATAN ATAU PUN PERLAMBATAN , KITA DAN ANAK ANAK AKAN TERLIHAT TERTAWA RIANG BIASA SAJA SEBAB TIDAK TERASA GONCANGANNYA PADA KOMEDI PUTAR YANG HANYA MELAKUKAN AKSI ROTASI , SEBAB KOMEDI PUTAR KITA HANYA MELAKUKAN ROTASI DAN BERGERAK DI TEMPAT , DAN KERETA SERTA MOBIL DI JALANAN BEBAS HAMBATAN , SEBAGAI CONTOH KECIL BENDA YANG MELAKUKAN AKSI REVOLUSI , SEHINGGA GEMPA ATAU GONCANGAN KETIKA REVOLUSI DI RUANG HAMPA YANG KECIL GRAVITASI , TIDAK DAPAT DISAMAKAN DAHSYATNYA , DENGAN GEMPA ATAU GONCANGAN KETIKA PERCEPATAN ATAU PERLAMBATAN KETIKA WAKTU ROTASI BUMI PADA TEMPATNYA YANG TETAP .

INILAH BUKTI KUAT YANG MENUNJUKKAN SECARA NYATA DAN TERASA OLEH KITA MANUSIA , BAHWA ADANYA GERHANA MATAHARI DAN GERHANA BULAN TERSEBUT, ADALAH AKIBAT DARI MATAHARI DAN BULAN MELAKUKAN PERLAMBATAN DAN PERCEPATAN PADA LINTASANNYA , SEHINGGA MATAHARI DAN BULAN SERTA BUMI SEWAKTU WAKTU BERADA PADA SATU GARIS LURUS , DAN HAL INI PUN DIJADIKAN SEBAGAI BUKTI ADANYA KEBENARAN TEORI GEOSENTRIS , DIMANA MATAHARI , BULAN , DAN BINTANG BINTANG TELAH DITUNDUKKAN UNTUKMU DENGAN PERINTAHNYA , ( WAHAI PENGHUNI BUMI ) , ARTINYA PERINTAH DARI SANG MAHA PENCIPTA ALAM SEMESTA DAN YANG MAHA MENGETAHUI , SECARA KHUSUS AKAN KELUAR DARI SEGALA MACAM TEORI AKAL PIKIRAN KECIL YANG DIKETAHUI MANUSIA , ARTINYA SEGALA TEORI TEORI MANUSIA ITU BUKANLAH SEGALANYA DALAM IPTEK .

SESUNGGUHNYA KEADAAN-NYA APABILA DIA MENGHENDAKI SESUATU HANYALAH BERKATA KEPADANYA “JADILAH” MAKA JADILAH IA . ( Q.S. YAA SIIN : 82 ) .

AYAT DIATAS ADALAH SUATU PENEGASAN BAHWA , HANYA DENGAN PERINTAHNYA MAKA SEGALA HAL TERMASUK GRAVITASI DAN LAIN-LAINNYA TIDAK BERLAKU PADA SESUATU YANG KHIUSUS BIL KHUSUS .

VIVA ASTRONOMI

[proses kopipes segera diakhiri *fyuuuhh*]

Jadi, kalau antum semua sudah baca dua komen di atas, baiklah antum semua segera beli parasetamol di apotek terdekat… :lol:

*Haduh, maaf kalau takaran sarkasmenya kebanyakan, terpengaruh dwilogi Padang Bulan soale…*

*tidur, bentar lagi sahur…*

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: