Gadis Peminta-Minta

6 April, 2010

Setiap bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku, pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa

Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda

(Alm. Toto Sudarto Bachtiar)

Seorang rekan suatu waktu mempertanyakan, apa pantas kita “bersirik ria” melihat sebuah perkawinan nan megah sang putri iklan dengan pangeran putra saudagar terkaya negeri.
Mungkin tak pantas, karena dengki, yang kurang lebihnya bermakna “susah liat orang lain senang, dan senang liat orang lain susah” itu memang satu penyakit hati yang menggerogoti kebahagiaan kita sendiri.
Mungkin tak pantas, karena melihat ke atas, apalagi ditingkahi dengan rasa tak senang, sebesar apapun pembenarannya, hanya akan ditujukan untuk mencari-cari kesalahan bapaknya orang lain.
Mungkin tak pantas, karena sarkasme dan sinisisme itu tak ubahnya menganggap diri paling benar sendiri, paling mulia sendiri, paling hipokrit sendiri.

Jadi?
Tak ada, saya hanya ingin merenungkan kembali puisi lawas di atas, dan betapa melihat ke bawah, seberapapun kusam dan dekilnya, ternyata jauh memberi manfaat lebih dalam menata hati, ketimbang terus menerus meratapi iri dengki, akibat jejalan berita di tipi, soal duit sekian milyar, sekian trilyun, yang hanya beredar di jakarta, jakarta, dan jakarta…

*Dan, ah, setelah membaca lagi, muatan sinis dan dengki, ternyata masih mendominasi, di tulisan ini…*

11 Tanggapan to “Gadis Peminta-Minta”

  1. Lumiere Berkata

    ..ternyata jauh memberi manfaat lebih dalam menata hati, ketimbang terus menerus meratapi iri dengki, akibat jejalan berita di tipi, soal duit sekian milyar, sekian trilyun, yang hanya beredar di jakarta, jakarta, dan jakarta..

    yeah, kenapa coba? :roll:

  2. nia Berkata

    kirain tadi cerpen bang Amed ai .. :)

  3. Zian X-Fly Berkata

    Kita memang tak bisa berbuat apa-apa lagi soal negara ini kecuali mendengarkan. Itu saja.

  4. itikkecil Berkata

    saya iri… saya iri dan dengki….
    *apa sih*

  5. hariesaja Berkata

    puisi di atas sering aku dengar ketika ada lomba baca puisi…

  6. aap Berkata

    Jakarta..oh ..Jakarta…!
    Dibalik kemewahannya…menyimpan derita..!

  7. iezul Berkata

    gadis berkaleng kecil…seandainya gadis berjilbab kecil….wkwkwkwk ga mau ikutan iri :D

  8. aulia Berkata

    mantap bos….
    hanyar ja kawa belelihat blog kekawanan nah
    kip posting

  9. Carbone Berkata

    sundul gan eh, jadi inget forum sebelah yang mengklaim banyak blogger pindah kesana
    sungguh sebuah postingan yang penuh kata2 ambigu, kayanya perlu berisik juga sih, sementara pulau kita Kalimantan ini adalah salah satu lahan keruk harta bapaknya orang-orang itu, lalu kegelapan karena pasokan listrik terganggu sebab bahan bakar pembangkit asam-asam mengalami kekurangan, lah dia malah bikin perta yang menghabiskan dana kira2 cukup buat biaya beli bahan bakar pembangkit listrik kita selama hampir 2 tahun.

    *kok saya jadi ikutan dengki ya..?*

  10. Amd Berkata

    @ Lumiere
    Karena banyak yang merasa membutuhkan jakarta?

    @ Nia
    Bukan, ini infotemen..

    @ Zian X-Fly
    Yakin tak bisa berbuat apa-apa?

    @ Itikkecil
    Kebanyakan nonton sonetron kayaknya tante ini…

    @ Hariesaja
    Sering jadi juri lomba ya Om?

    @ Aap
    Tapi tetap saja, ke sanalah pandangan kita selalu diarahkan.

    @ Iezul
    Curcol mulu…

    @ Aulia
    Nggih.

    @ Carbone
    Nggak usah jauh-jauh ke sini deh Om, tak kurang dari dua kilometer dari lokasi pesta itu saja, pasti ada kampung kumuhnya…


  11. [...] menjelang kampanye. Dan semoga tak ada lagi anak di provinsi kaya ini yang terpaksa mengamen, meminta-minta, atau menjadi penyemir sepatu seperti [...]


Comments are closed.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: