Archive for the 'Language, Literature & Collegial Study' Category

EYD: Ejaan Yang Dipaksakan?

26 Juni, 2011

Akhirnya, semester genap nan hectic pun berlalu sudah. Setelah selama empat bulan lebih hari-hari saya diisi dengan membuat resume, makalah, presentasi, sampai menjajal jadi pembicara di seminar internasyonal, akhirnya perkuliahan ditutup dengan sepuluh hari ujian akhir; satu tes tertulis di kelas, dan enam tugas untuk diselesaikan di rumah. Kamar berantakan, buku berserakan, cemilan berhamburan, dan di tengah kekacauan itu, untungnya, Zelda: Ocarina of Time masih sempat saya tamatkan… *Yes, procrastination helps, a lot! :mrgreen: * Baca entri selengkapnya »

ELT, Sejarah dan Keresahan Saya

19 Maret, 2011

Semasa kuliah dulu, seorang kawan pernah curhat terkait mata kuliah Bahasa Inggris yang diikutinya kepada saya. Ia satu universitas dengan saya, hanya beda fakultas; saya di FKIP, dia di FE. Ia bercerita bahwa dosennya kala itu lebih banyak bicara masalah grammar, dengan kelas campuran di aula, hingga 100-an mahasiswa, dan soal ujian yang (menurutnya) sulitnya minta ampun.

Cerita kawan tersebut kembali terlintas di kepala saya ketika beberapa pekan ini menghabiskan banyak waktu untuk membaca dan membuat rangkuman tentang sejarah pengajaran Bahasa Inggris (English Language Teaching, disingkat ELT). Sejarah tersebut menceritakan perkembangan ELT di seluruh dunia, lewat buku H.H Stern, dan di Indonesia, melalui artikel Prof. Eugenius Sadtono, Ph.D.. Keduanya membuat saya resah dan, sedikit sangat pesimis.

Bagaimana tidak, di level internasional, pengajaran Bahasa Inggris itu sendiri sudah lebih banyak gagalnya ketimbang berhasil. Metode-metode revolusioner semacam Direct Method dan Audio-Lingual Method pun, meski berpengaruh secara masif di seluruh dunia, dianggap gagal dalam pencapaian efektivitas pengajaran.

Di Indonesia, ELT bahkan disebut Prof. Sadtono sebagai “flogging a dead horse”; buang-buang waktu dan tenaga saja. Beliau menyatakan, bahwa apapun metodenya, TEFL di sekolah formal di Indonesia tidak akan bisa sukses, karena metode hanya satu aspek, dari sekian banyak faktor lain yang justru tak terurus dengan benar.

Di zaman Belanda, Bahasa Inggris, seperti bahasa Eropa lainnya, merupakan bahasa elit yang hanya diajarkan di sekolah-sekolah kelas atas. Sebagian kecil warga pribumi saja yang beruntung dapat mempelajarinya. Pada zaman Jepang, aduh, Bahasa Inggris dilarang untuk diajarkan! Setelah merdeka, ELT mulai berjalan, dengan intervensi bantuan dari AS dan Inggris, lalu rezim komunis berkuasa, dan Bahasa Inggris dianggap pro kapitalisme, lagi-lagi dilarang.
Orde Baru, ELT kembali dikembangkan. Sayangnya, dana milyaran dolar dari pihak barat, seperti World Bank dan UNDP, dikelola secara, maaf, serampangan, seperti halnya dana pendidikan kala itu bahkan sampai sekarang (?). Hasilnya, ya seperti yang sudah kita lihat bersama. Masalah geografis, demografis, sosial dan budaya, telah kuat mengakar sebagai penghambat pengajaran. Ini ditambah lagi dengan birokrasi orde baru yang korup dan sentralistik. ELT di Indonesia, sorry to say, gagal total.

Masalah pelik lainnya adalah SDM. Pada era 80/90-an, diwakili oleh lagu Iwan Fals, Oemar Bakrie, ada stereotipe yang menyakitkan terkait profesi guru: gaji kecil, tidak bonafit, masa depan suram. Orang tua ogah anaknya jadi guru, lebih keren jadi dokter atau insinyur dong? IKIP pun sepi peminat. Tinggal ‘stok sisa’, *kasar bener..* yang kebanyakan berasal dari desa, yang mau jadi guru. Nah, guru Bahasa Inggris, sebenarnya tergolong banyak diincar orang. Tapi tunggu dulu, karena apa?

Dulu, sewaktu ikut SPMB, tahun 2000, jatah 30 kursi yang tersedia untuk Prodi Pendidikan Bahasa Inggris di kampus saya diperebutkan oleh 500-an calon mahasiswa. Rasio yang luar biasa ini, saat itu hanya kalah oleh Fakultas Kedokteran. Pertanyaannya kemudian, mengapa? Karena ternyata, kuliah di English Department, demikian kami menyebutnya, itu, memungkinkan lulusannya untuk bekerja DI LUAR PROFESI GURU! Mereka bisa menjadi pegawai bank, translator, karyawan perusahaan batubara dan sawit, konsultan, dan berbagai impian hidup mapan lainnya. Saya salah seorang yang tergiur mimpi, ketika itu.

Jadilah kembali, hanya ‘stok sisa’ yang ditaruh di posisi guru, mengajar dengan kompetensi seadanya, dengan gaji yang juga seadanya. Tak heran jika kesuksesan ELT di sekolah-sekolah formal itu rendah sekali! Apa yang bisa diharapkan dari kelas bahasa Inggris 4 jam sepekan, dengan 40-an siswa yang ribut, guru yang tidak kompeten sekaligus tidak bahagia, dan lagi, kurikulum yang tidak memperhatikan faktor sosial kultural siswa?

Makanya lah, kalaupun ada mereka yang fasih berbahasa Inggris, pandai cas-cis-cus, atau rapih menulis, seperti para blogger yang kerap saya kagumi kalau sudah menulis eNggris; sebut saja Pak Guru, Masbro Sora, atau Mbak Pito, saya yakin, keterampilan itu bukan semata mereka peroleh dari bangku sekolah. Silakan diklarifikasi, tapi, kalaupun siswa berhasil menguasai bahasa Inggris, biasanya itu lebih karena kegigihan si anak sendiri juga pengorbanan finansial orang tuanya; entah karena si anak memang prodigi, punya minat luar biasa besar, atau ikut di tempat kursus ternama.

Akan tetapi, optimisme tentunya harus tetap disemai. Saya percaya, suatu saat ELT di sekolah akan jauh lebih berhasil daripada sekarang. Perkembangan Teknologi Informatika, misalnya, bisa sangat membantu para guru dalam menyiapkan perangkat dan media, asal si guru mau berusaha. Program pemerintah seperti sertifikasi guru, sekolah standar nasional dan RSBI, KTSP, dan sebagainya, meski tak lepas dari kritikan sana-sini, setidaknya juga bisa membuat profesi guru kembali dilirik. Dan semoga akan lebih banyak lagi orang yang baik, kompeten, dan bahagia, yang mau jadi guru, khususnya guru Bahasa Inggris.

My Campus Review: Semester 1

5 Maret, 2011

Telat sekali sebenarnya saya menulis ini, karena sekarang sudah masuk pekan ketiga semester 2. Berkat kemalasan sayalah, tulisan ini baru digarap sekarang.

Semester pertama di kampus baru adalah masa adaptasi diri, setelah sekian lama tidak kuliah. Adaptasi ini juga menyangkut masalah tubuh, perut, dan hati, karena Jogja jelas berbeda dengan Banjarbaru, dalam hal cuaca, makanan, dan jarak. Dalam perjalanannya, ada banyak hal yang terjadi, terhadap diri sendiri maupun orang-orang dan alam di sekitar saya.

Sepanjang 2010-2011 ini, saya total naik pesawat 9 kali; Entah rutenya Banjarmasin-Jogja, Banjarmasin-Surabaya, maupun sebaliknya. Ini rekor karena sebelumnya, sepanjang 20-an tahun lebih dikit usia saya, saya baru pernah sekali naik pesawat, kala libur lebaran tahun 2009, ketika mengunjungi keluarga istri di Surabaya dan Tulungagung. Sebagian penerbangan memang direncanakan, sementara yang lain, lebih karena keadaan, seperti ketika Merapi meletus, atau saat bapak mertua saya berpulang. Yang mengesankan, saya pernah naik pesawat dengan tiket seharga 50 ribu, ketika maskapai Mandala masih promo gila-gilaan. Sekarang, berhubung maskapainya bangkrut, beberapa tiket murahan yang sempat dipesan terpaksa harus kami relakan.. :cry:

Perkara makanan, sebenarnya tidak terlalu jadi masalah buat saya. Di Jogja, hingga ke jalan kecil pun, banyak warung bertebaran, khususnya warung mie instan yang penjaganya kebanyakan Urang Sunda, dan buka 24 jam. Selain itu, seperti umumnya kota-kota di Indonesia, pastilah ada Warung Padang dengan menunya yang universal. Saya tidak suka lotek ataupun gudeg, sehingga mungkin selera saya kurang nJogja, tapi di Food Court UNY, saya kerap memesan Gado-gado. Eh, ada menu Soto Banjar di Food Court ini, namun setelah dicoba, perut menolak dan esoknya agak mules. Agak susah memang kalau mencari menu yang rasanya persis sama dengan masakan Banjar aseli. Warung masakan Banjar “Kindai”, di Jembatan Merah, misalnya, punya menu dengan bumbu masak habang yang khas masakan Banjar, namun karena nasinya beda, tetap saja hasilnya juga tidak bisa persis sama…

Nasi di Jogja memang berbeda dengan nasi yang biasa saya konsumsi di Kalimantan; beras Unus pastilah takkan tergantikan rasanya dan kawan serumah, dengan keringanan hatinya, rutin membawa kiloan beras jenis ini tiap bertolak ke Jogja, untuk konsumsi di kontrakan. Tapi sekarang perut saya telah terbiasa dengan jenis nasi apapun. Dan perkara menu, Jogja memang punya banyak sekali pilihan masakan untuk dicoba. Yang paling berkesan buat saya sih, adalah Resto Lele Lela di Jalan Gejayan; bukan karena menunya, melainkan sambutannya yang unik: seluruh karyawan resto menyambut pengunjung yang datang dengan teriakan sapaan: “Selamat pagiiii!!!!” dan yang pulang dengan “terima kasiiiih!!!”. Etapi, soal harga, untuk ukuran mahasiswa perantauan-dengan-beasiswa-sekadarnya, menu di sana itu, ummm tidak terlalu.. ummm… menggembirakan….

Eh, tapi saya kan ke Jogja untuk kuliah, bukan untuk wisata berpesawat atau makan-makan doang? Ada baiknya sekarang saya bahas soal kampus dan perkuliahan.

Kampus UNY terletak di Jalan Colombo, tapi Program Pasca Sarjana (PPS) sendiri lebih dekat diakses lewat Jalan Gejayan. Kampusnya asri, hijau, dan bersih lirik kampus lama. PPS menempati dua gedung, lama dan baru. Gedung baru bertingkat 4, punya aula yang cukup menampung hingga 250 orang. Gedung lama bertingkat 3, dilengkapi dengan Perpustakaan dan Ruang Internet. Saya lebih banyak dapat kuliah di gedung lama. Ruang kuliahnya cukup nyaman, dengan AC dan Proyektor LCD untuk memperlancar perkuliahan lirik kampus lama lagi. PPS juga dekat dengan Food Court dan Perpustakaan Besar UNY, sehingga tidak jauh kalau ingin cari makan dan cari buku.

Sebelum kuliah, selama sebulan kami menjalani matrikulasi; Bahasa Inggris dan Statistika. Untuk Bahasa Inggris, tidak terlalu ada masalah; nah Statistika ini yang jadi momok buat saya yang memang agak parah kalau urusan hitung-hitungan… Tapi ada untungnya juga, karena saya akhirnya dapat memberanikan diri menghadapi pertarungan melawan angka-angka kembali…

Semester 1 terdiri dari 6 mata kuliah, dengan total 13 SKS. Bahasa Inggris diberikan sebagai kuliah 0 SKS, dengan hasil ujian berupa skor TOEFL-like. Sisanya adalah Psikolinguistik, Teori Pemerolehan dan Pengajaran Bahasa, Filsafat Ilmu, Metodologi Penelitian Pendidikan, dan Statistika.

Psikolinguistik segera saja jadi mata kuliah favorit saya. Selain karena materinya menarik, juga karena saya anggap akan sangat bermanfaat dalam memahami proses mental seseorang dalam berbahasa, proses komprehensi dan produksi ujaran, dan lebih jauh lagi, bagaimana sikap seorang guru dalam mengajarkan bahasa kedua/bahasa asing kepada anak, dengan mempertimbangkan sudut pandang Psikolinguistik tersebut.

Teori Pemerolehan dan Pengajaran Bahasa, sedikit banyak punya kemiripan dengan Psikolinguistik, dengan lebih banyak fokus pada riset dan metodologi pemerolehan dan pengajaran itu sendiri, bukan pada obyek ajar. Mata kuliah ini menjejali saya dengan istilah-istilah baru yang bisa membuat saya keminter…

Dari Filsafat Ilmu, saya memperoleh kata favorit baru: Aksiologi. Bahwa sebaik-sehebat-sepandai apapun seseorang atau sesuatu, yang terpenting adalah manfaatnya bagi kehidupan.

MPP menjadi bekal untuk melakukan penelitian nantinya. Kuliahnya mirip dengan Intro to Research dulu semasa S-1, dengan pendalaman lebih jauh pada metodologi, sampling, dan analisis data.

Untuk analisis data, Statistika jagonya. Selain membebani otak alergi-angka ini dengan segala macam istilah dan rumus, Statistika sebenarnya juga membantu dalam membangun mentalitas peneliti. Tulisan Sora tentang statistik shampoo itu, misalnya, adalah contoh nyata betapa kita harus begitu berhati-hati dalam mengambil kesimpulan. Dan, AlhAmdulillAh, nilAi sAyA untuk mAtA kuliAh ini, ternyAtA cukup membAhAgiAkAn… :mrgreen:

Ah, masalah nilai, sebenarnya saya tidak terlalu ambil pusing. Apapun nilai yang saya peroleh, saya terima dengan senang hati saja. Yang penting saya setidaknya sudah menjalankan tugas; menghadiri perkuliahan, presentasi, sesekali aktif dalam diskusi, dan mengerjakan tugas. Beberapa rekan mungkin ada yang kecewa dengan proses penilaian ini; bahwa ada mahasiswa yang jarang masuk, lalai dalam tugas dan presentasi, namun nilainya malah lebih baik dari yang pontang-panting. Well, di sinilah perlunya kita memahami makna “ikhlas” dengan sebenar-benar ikhlas. Yang jelas, buat saya mah, nilai A-B-C itu tak lebih dari perkara angka administratif di atas kertas doang. Kualitas individu tak bisa dihakimi semudah itu dengan angka. Ada kualitas usaha, sikap, dan unsur afektif lainnya yang lebih sulit untuk diukur. Ada perbaikan dalam persepsi dan mentalitas dalam menghadapi siswa nantinya. Ini yang lebih utama, karena tujuan para guru disekolahkan ini toh tidak sekadar mengejar nilai, melainkan meningkatkan kualitas pendidikan, senormatif apapun, di Kalimantan Selatan kelak. Dan pendidikan, tidak identik dengan angka, apalagi standar.

Perbaikan sikap, aksiologi, menjauhi sifat “guru zalim”, dan peningkatan minat baca, itulah yang saya dalami semester lalu. Semoga semester ini akan ada lebih banyak lagi yang dapat saya pelajari, di dalam maupun di luar ruang kuliah.

Sedemikian saja dulu ulasan saya mengenai kampus, sampai jumpa di ulasan semester depan. Sekarang saatnya kembali main Plants vs Zombies… #eh

MLU (Mean Length Of Utterance)

18 Januari, 2011

MLU adalah rata-rata jumlah morfem yang dihasilkan anak untuk setiap tuturannya. MLU digunakan untuk mengukur perkembangan sintaktik anak. Semakin tinggi perkembangan pemerolehan bahasanya, semakin besar pula jumlah morfem yang bisa dihasilkan anak dalam satu kali ujaran. Hal ini sejalan dengan perkembangan sintaktik anak yang terjadi secara bertahap (gradual), dari yang tadinya hanya terdiri dari dua kata (telegraphic speech), terus hingga semakin mendekati kompetensi yang dimiliki orang dewasa.
Pengukuran dengan menggunakan MLU jauh lebih dapat diandalkan ketimbang usia, mengingat kecepatan pemerolehan bahasa antar anak sangatlah bervariasi. Dengan menggunakan MLU peneliti dapat terbantu dalam menetapkan level kemajuan kompetensi berbahasa anak secara lebih obyektif.
Dengan memahami konsep MLU, orang dewasa dapat menyesuaikan sikapnya dalam berkomunikasi dengan anak. Salah satunya adalah dengan menerapkan CDS (Child Directed Speech), atau disebut juga caretaker speech. Orang dewasa (misalnya orang tua atau guru) menyederhanakan ujaran yang mereka gunakan ketika berbicara dengan siswa. Tujuannya adalah agar anak bisa lebih memahami apa yang ingin disampaikan oleh si orang dewasa. Beberapa modifikasi dalam CDS antara lain:
- Unsur fonologis: simplifikasi bunyi, nada menaik, penekanan empatik, jeda lebih lama, dan kecepatan bicara dipelankan.
- Unsur leksikal: kosa kata sederhana, topik dipahami anak.
- Unsur sintaksis: tuturan lebih pendek dan tidak terlalu rumit.

Selain itu, CDS juga ditandai oleh banyaknya pengulangan dan pengungkapan dengan cara lain. Terkadang orang dewasa juga menggunakan istilah-istilah yang tidak ada artinya (meaningless) bagi orang dewasa, tetapi menyenangkan dan menarik (euphonic) di telinga anak. Dengan memahami konsep MLU dan menerapkan CDS, diharapkan anak dapat terbantu dalam proses pemerolehan makna dan juga produksi ujaran.

==============

Anu, yang di atas itu satu dari lima jawaban saya untuk tugas ujian akhir semester, mata kuliah Psikolinguistik. Hitung-hitung berbagi puyeng sahaja kepada dunia… :mrgreen:

Motivation

14 Januari, 2011

Well, I just want to compile some motivational stuff, in order to help me getting through next hectic week. Some of them may have also appeared somewhere else in this blog, while some are copied from friends’ blogs, and also from the Net. Just want to share the spirit. SO, at least until next week is over, I wanna say goodbye to those ‘demotivationals’ craps :twisted:

The true sign of intelligence is not knowledge but imagination.

(Albert Einstein)

Two roads diverged in a wood, and I—
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference

(Robert Frost – The Road Not Taken) (Posting Terkait)

For what is a man, what has he got?
If not himself, then he has naught
To say the things he truly feels and not the words of one who kneels
The record shows I took the blows and did it my way!

(Frank Sinatra – My Way)

When we see persons of worth, we should think of equaling them; when we see persons of a contrary character, we should turn inwards and examine ourselves.

(Confucius)

‘The secret of happiness is to see all the marvels of the world, and never to forget the drops of oil on the spoon.’

(Paulo Coelho – The Alchemist)

My heroes are the ones who survived doing it wrong, who made mistakes, but recovered from them.

(Bono)

There is everything you know and there is everything that happens. When the two do not line up, you make a choice.

(Mitch Albom – For One More Day)

When I hear somebody sigh, “Life is hard,” I am always tempted to ask, “Compared to what?

(Sydney J. Harris)

You gave me strength
To stand alone again
To face the world
Out on my own again
You put me high upon a pedestal
So high that I could almost see eternity
You needed me

(Anne Murray – You Needed Me)

Forrest Gump: What’s my destiny, Mama?
Mrs. Gump: You’re gonna have to figure that out for yourself.

(Forrest Gump)

Ignorance more frequently begets confidence than does knowledge: it is those who know little, and not those who know much, who so positively assert that this or that problem will never be solved by science.

(Charles Darwin)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: